Sabtu, 16 Juli 2011

Pemuda-Pemudi Harapan Islam


Tika, sebut saja begitu. Tampilannya oke juga. Begitu kata orang-orang. Maklum, doi blesteran punya. Ayah Singapur, Ibu Singecet. Upss.. itu sih kerja bakti bebenah rumah atuh ya? Itu bahasa Jawa yang artinya; ayah yang ngapur, ibu yang ngecat. He..he..he..
Yup, Tika dijuluki sama teman sekelasnya sebagai “si gadis seksi”. Kalo mau dibandingin sama Norah Jones? Ya, kira-kira setingkat di bawah penyanyi yang ngetop via tembang Don’t Know Why itu lah. Waduh, pantesan tuh gerombolannya Rudy pada ijo matanya kalo Tika lewat di hadapan mereka. Tika, adalah gadis muslimah. Tapi, kayaknya doi masih doyan hidup bebas sesuka hatinya. Agama, menurutnya cuma urusan sholat, zakat, dan puasa. Paling banter Islam yang doi kenal adalah pas perayaan Maulid, Isra Mi’raj, dan juga lebaran. Selain itu, doi nggak ngeh soal Islam. Kasihan banget ya?
Sobat muda muslim, Tika juga punya teman main lho. Namanya, Rangga. Tapi sumpah, ini bukan Rangga “si mata elang” di film A2DC? Kebetulan aja memang namanya sama. Oya, Rangga-nya Tika ini mirip-mirip Justin Timberlake yang pernah punya ‘skandal’ sama Britney Spears. Maklumlah seleb, full skandal. Duh, kok mirip seleb semua ya? Tak usah heran, dua anak ini emang indo. Seperti kebanyakan bintang muda di sinetron kita; Roger Danuarta, Indra L Brugman, Nicolas Saputra, dan teman satu ‘spesies’ lainnya.
Tika dan Rangga akrab banget. Sampe-sampe sulit dipisahkan antara keduanya. Di mana ada Tika, di situ ada Rangga. Anehnya, meski menyandang gelar anak sekolah, tapi mereka sama sekali nggak mood belajar. Sebaliknya, justru malah jadi aktivis ngeceng di mal, atau sekadar larak-lirik adik kelas pas waktu istirahat atau olahraga. Siapa tahu mau temenan sama orang beken (idih, maunya).
Teman remaja, sedihnya lagi, remaja muslim dan muslimah yang menjalani kehidupan begitu jumlahnya bejibun banget, lho. Nggak di kota, nggak di desa. Teman remaja yang nyablak bin amburadul kelakuannya sangat mudah kita jumpai. Ada yang kuat pacarannya, ada yang sok jagoan dengan menjadi aktivis tawuran, termasuk banyak juga yang hura-hura alias ‘binatang’ pesta, nggak ketinggalan teman remaja yang tampangnya kalem, tapi bandelnya minta maaf.
Oya, ada juga lho yang kayaknya pengen kelihatan islamnya. Misalnya, teman remaja puteri banyak yang udah mau pake kerudung. Yang cowoknya juga mulai seneng melihara jenggot dan pake baju koko. Tapi, maaf-maaf saja, itu nggak dibarengi dengan ilmu agama yang cukup. Jadinya, yang puteri juga pake kudung gaul, yang cowoknya juga masih liar. Jenggot sih boleh, tapi kelakuannya sebelas-duabelas, alias sodaraan ama Daron Malakian, John Dolmayan, Shavo Odadjian, dan Serj Tankian yang tergabung dalam SOAD (System of A Down). Itu tuh, grup band pujaan anak sekarang yang ngetop lewat tembang Toxicity dan Chop Suey. Wis, pokoke komplit tipe remaja muslim kita ini.
Sobat muda muslim, tipe remaja yang tadi disebutkan adalah contoh amburadulnya sebagian besar remaja Islam. Padahal, merekalah yang seharusnya menjadi tumpuan harapan Islam. Tapi apa mau dikata, wong di antara kita udah banyak yang begitu. Terus, kudu seperti apa sih pemuda-pemudi harapan Islam itu?
Ahli pikir dong!
Tampilannya sih boleh aja rapi jali. Tapi kudu dibarengi dengan pemikiran yang oke juga dong. Malu atuh, kalo ada remaja Islam yang nggak tahu bagaimana caranya sholat. Konyol juga kalo masih nanyain gimana caranya wudhu. Tapi beginilah realita yang kayaknya pantas juga bagi kita untuk prihatin. Betapa banyak teman remaja yang nggak mengisi otaknya dengan pemikiran Islam yang mantap. Maklum, rata-rata remaja sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat hiburan, atau sekadar mengisi waktu luang dengan pembicaraan yang miskin makna.
Sobat muda muslim, tradisi para sahabat, kaum muslimin generasi pertama, adalah banyak berpikir. Sebab, kalo kita jadi ahli pikir, insya Allah bisa menjalani hidup ini dengan benar. Saking pentingnya aktivitas berpikir ini, para sahabat sampe mengaitkannya dengan keimanan. Mereka berkata: “Cahaya dan sinar iman adalah banyak berpikir.” (dalam kitab Ad-Durrul Mantsur, jilid II, hlm. 409).
Memang sih, aktivitas berpikir saat ini sangat langka dilakukan anak muda. Jangankan anak muda, wong tuo aja udah pada males mengoptimalkan peran otaknya. Padahal kalo otak kita digunakan, itu sama dengan mengasah pedang, akan kian tajam. Justru kalo otak dibiarin nganggur, alias nggak pernah diajak untuk mikir, apalagi mikir yang berat-berat, Insya Allah, dijamin bakalan tumpul binti beku.
Aduh, sayang banget lho. Padahal, tentu saja, kemampuan otak kita bisa deh diaduin sama produk keluaran intel, pentium 4. Prosesor ini sebenarnya masih kalah jauh dengan kemampuan otak kita, sebab Allah Swt. menciptakannya untuk bisa berpikir dan menganalisa dengan mantap. Entah berapa juta giga, space yang Allah berikan untuk otak kita. Inilah pemberian Allah yang kudu kita syukuri. Itu sebabnya, sungguh hueran jika masih ada manusia yang ogah untuk memanfaatkan kinerja otak dengan optimal. Utamanya untuk hal-hal yang berkaitan dengan Islam dan kehidupan ini.
Kita seharusnya ‘ngiri’ juga lho, sama Imam Syafi’i yang pada usia 7 tahun udah hapal al-Quran 30 juz. Insya Allah, itu adalah contoh bagaimana membiasakan otak kita bekerja keras. Makin sering digunakan, otak kita makin oke. Para sahabat Rasulullah, utamanya yang termasuk khulafa ar-Rasyiddin, semuanya mujtahid mutlaq. Artinya, Abu Bakar ra, Umar bin Khaththab ra, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib adalah orang-orang yang ahli pikir, alias mufakkir.
Ahli ibadah euy!
Nah, pemuda dan pemudi Islam kudu memposisikan diri sebagai ahli ibadah (muta’abid). Dan memang kalo udah ahli pikir, kemungkinan besar, kalo nggak mau menyebut pasti, biasanya juga ahli ibadah.
Dalam kitab Taqarrub ila Allah, karangan Fauziy Sanqarth terdapat sebuah pernyataan dari salah seorang pemimpin Islam ketika menggambarkan kader-kadernya. Seperti ditulis dalam kitab itu, salah seorang pemimpin Islam yang dimaksud mengatakan bahwa, “Sebaik-baik pemuda adalah yang bersikap sebagai orang tua, bisa memejamkan matanya dari kejahatan; berat langkah kakinya menuju kebathilan; demi beribadah ia khusyu’ dan betah begadang semalaman. Sungguh Allah melihat mereka pada malam hari ketika punggung-punggung mereka condong kepada juz al-Quran. Setiap kali salah seorang dari mereka membaca ayat tentang surga, mereka menangis karena rindu kepadanya. Ketika membaca ayat tentang neraka, mereka benar-benar histeris seakan-akan bencana neraka jahannam itu ada di antara kedua telinga mereka.”
Sobat muda muslim, sekadar sebuah pertanyaan, dan jawabannya cukup kamu sendiri yang tahu. Jujur saja pada diri kamu sendiri. Pertanyaan kita sederhana saja; bagaimana dengan sholat kamu? Pengennya kita sih, moga saja nggak bolong-bolong ya? Bagaimana dengan puasa kamu? Harapan kita, kamu juga getol puasa sunah Senin-Kamis. Apalagi mau deket ramadhan, jangan lupa puasa ramadhan pol sebulan penuh. Wajib lho.
Bagaimana dengan baca al-Quran? Wah, kepengen kita sih kamu bisa menyempatkan diri baca tiap hari, meski cuma sepuluh ayat sekalipun. Tul ngagk? Jadi, biasakan deh. Terus, bagaimana dengan shalat malam kamu? Hmm.. sekali lagi, harapan kita nih, kamu lebih sering untuk melakukannya. Amalan sunah ini sebagai tambahan pahala ibadahmu. Firman Allah Swt.: Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (TQS al-Isrâ’ [17]: 79)
Oya, bagaimana pula dengan shadaqoh kamu? Moga aja nggak sayang menyisihkan uang seribu atau dua ribu rupiah ke keropak masjid ya? Soalnya, adakalanya uang dua puluh ribu rupiah bisa dengan mudah langsung ‘menguap’ kalo kamu jajan di resto sekelas McD or KFC. Bebas aja ‘ngasih’ uang ke resto Amrik itu. Kalo ke masjid, naga-naganya sih masih nimbang untung-rugi. Duh, jangan sampe deh!
Oya, kamu perlu tahu, apa sih arti ibadah? Sobat, ibadah (al-‘Ibaadah) secara bahasa adalah (ath-Thaa’ah) taat (Kamus al-Muhiith, oleh Fairûz Abâdiy, bab tentang ibadah). Sedangkan menurut istilah (makna hukum), al-‘Ibaadah memiliki dua makna, yaitu secara umum dan secara khusus. Makna al ‘ibaadah secara umum, yaitu ketaatan kepada perintah-perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Dalil dalam masalah ini adalah: Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (TQS. adz-Dzâriyât [51]: 56)
Adapun makna khusus dari al-‘Ibaadah adalah segala bentuk perintah dan larangan hukum syara’ yang mengatur hubungan seorang muslim dengan Rabb-nya, yaitu apa-apa yang disebutkan oleh fuqaha sebagi ibadah seperti shalat, zakat, haji, puasa, dan jihad. Dalam hal ini, maka yang kita maksudkan sebagai ibadah hanyalah dalam maknanya yang khusus saja. Kita berdoa, moga kamu dan kita juga tentunya, jadi ahli ibadah (muta’abid). Amin.
Pejuang Islam
Wow, keren banget. Perfect memang. Sudahlah ahli fikir, ahli ibadah, ditambah pula dengan menjadi pejuang Islam. Itu sih ideal banget ya? Kamu tentunya mau punya tipe seideal begini kan? Bagi yang akalnya masih ‘waras’, tentunya kepengen banget tampil sempurna. Iya nggak? Jadi, kita upayakan yuk!
Sobat muda muslim, pemuda dan pemudi harapan Islam. Selain ahli pikir dan ahli ibadah, maka akan lebih utama jika menjadi pejuang Islam juga. Para sahabat Rasulullah, telah memiliki tiga kriteria tersebut. Ambil contoh, Ali bin Abi Thalib, selain cerdas dan sholeh, juga adalah pemuda pejuang Islam. Hebat bukan? Saat ini, Islam membutuhkan kaum muslimin yang kuat dalam segala hal, termasuk kemampuannya dalam rangka perjuangan untuk menegakkan syariat Islam di muka bumi ini. Tentunya, agar Islam menjadi satu-satunya sistem kehidupan yang diterapkan di dunia ini, dan memberikan rahmat bagi seluruh alam.
Sobat muda muslim, saudara-saudara kita di Palestina bahkan sudah membuktikannya. Mereka tak gentar dalam berjuang melawan penjajah Israel. Bahkan banyak di antara mereka yang rela meregang nyawa demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Tidakkah kita tergoda untuk mengikutinya? Firman Allah Swt.: Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. (TQS Ali ‘Imran [3]: 169)
Oke deh, kita bertekad dalam ucapan dan perbuatan kita untuk menjadi pemuda dan pemudi harapan Islam yang mufakkir, muta’abid, dan mujahid. Jadi ngaji yuk! Allahu Akbar! ?

*dari berbagai sumber

Asyiknya Jadi Pengemban Dakwah


Jadi pengemban dakwah? Hmm… di mata remaja, sepertinya ‘jabatan' ini kalah menarik dibanding kontes menjadi bintang yang kian menjamur. Meski kagak pake audisi atau ekstradisi yang bikin sensasi, tetep aja remaja yang terjun ke dunia dakwah bisa dihitung pake jari. Padahal untuk jadi pengemban dakwah, nggak kudu bisa nyanyi, nari, atau akting. Cukup bermodalkan keimanan, ilmu, dan kemauan. Sayangnya, justru tiga faktor itu yang lumayan langka ditemuin pada mayoritas remaja yang kian terhipnotis gaya hidup hedonis. Gaswat!
Kalo kita sempet nanya kenapa seseorang nggak atau belum mau ikut berdakwah, pasti mereka segera ngeluarin kunci gembok buat bongkar gudang alasannya. Soalnya mereka juga ngerti kalo dakwah itu wajib. Cuma masalahnya, banyak orang yang ngerasa belon siap ngadepin risiko dakwah. Emang apa sih risiko dakwah?
Itu lho, gosipnya ada anak yang berselisih ama bokapnya karena ngritik sistem demokrasi. Dijauhin temen lantaran cerewet ngingetin untuk nutup aurat, nggak pacaran, atau antitawuran. Tereliminasi dari kantor saat bawa-bawa aturan Islam ke alam kapitalis di dunia kerja. Diancam skorsing dari sekolah ketika ngotot pengen pake seragam yang nyar'i. Dicemberutin tetangga coz nggak ikut berpartisipasi dalam pilpres alias “memilih untuk tidak memilih” (bahasa kerennya golput). Atau malah berhadapan dengan aparat keamanan karena dituding terlibat aksi pemboman. Waduh!
Kebayang kan, kalo berita duka seputar lika-liku aktivis dakwah kayak di atas lebih populer dibanding ridho Allah yang menyertai kegiatan dakwah. Udah pasti bayangan rasa takut bin cemas selalu menghantui pas lagi mujur ada kesempatan untuk berdakwah. Jangankan jadi pengemban dakwah, sekadar menyuarakan Islam aja mungkin malu. Repot juga kalo kayak gini.
Disayang Allah, lho…
Bener sobat. Kita sekadar ngingetin aja, kalo jadi pengemban dakwah udah pasti disayang Allah. Allah swt. berfirman:
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru manusia menuju Allah?” (QS Fushhilat [41]: 33)
Menurut Imam al-Hasan, ayat di atas berlaku umum buat siapa aja yang menyeru manusia ke jalan Allah (al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi ). Mereka, menurut Imam Hasan al-Bashri, adalah kekasih Allah, wali Allah, dan pilihan Allah. Mereka adalah penduduk bumi yang paling dicintai Allah karena dakwah yang diserukannya. Bener kan?
Selain itu, pujian bagi para pengemban dakwah senantiasa disampaikan Rasulullah untuk mengobarkan semangat para shahabat dan umatnya. Seperti dituturkan Abu Hurairah: “Siapa saja yang menyeru manusia pada hidayah, maka ia mendapatkan pahala sebesar yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka.” ( HR Muslim )
Nggak heran dong kalo para shahabat Rasulullah begitu gigih bin pantang menyerah dalam berdakwah. Sebagian besar waktu, tenaga, pikiran, harta-benda, keluarga bahkan nyawa pun rela mereka korbankan untuk dapetin pahala Allah yang melimpah dalam aktivitas dakwah. Kalo nggak begitu, mana mungkin nenek moyang kita dan juga kita mengenal Islam dan menjadi penganutnya. Bener nggak seh?
Dan kita pun bisa seperti para shahabat. Walau nggak hidup di zaman Rasulullah, tapi warisan beliau yang berupa al-Quran dan as-Sunnah tetep eksis sampe sekarang dan terjaga kemurniannya. Tinggal kemauan kita aja untuk serius mempelajari, memahami, meyakini, dan mengamalkan warisan itu. Mau dong? Heu'euh!
Nilai plus lainnya
Bay de wey sobat, ternyata aktivitas dakwah nggak cuma berlimpah pahala. Dari sisi psikologis, aktivitas dakwah sangat membantu remaja untuk mengenali diri dan masa depannya. Asli!
Menurut Maurice J. Elias, dkk dalam bukunya berjudul “ Cara-cara Efektif Mengasuh EQ Remaja ”, ada beberapa hal yang dibutuhkan remaja untuk jalanin tugas di atas.
Pertama , hubungan spiritualitas . Ketika menginjak masa remaja, normalnya kita mulai berpikir tentang makna dan tujuan hidup yang sangat erat kaitannya dengan agama. Karena hal ini bakal membimbing kita dalam jalani hidup dan membingkai masa depan.
Ketika terjun ke dunia dakwah, seorang remaja muslim akan menemukan arti dan tujuan hidup yang hakiki. Dia diciptakan oleh Allah Swt. untuk beribadah sepanjang hayat dikandung badan. Untuk itu, Allah menurunkan aturan hidup yang lengkap en sempurna tanpa cacat cela bagi manusia. Agar manusia bisa beribadah nggak cuma di masjid atau majelis ta'lim. Tapi di mana saja, kapan saja selama terikat dengan aturan Allah. Selain itu, dengan pemahaman ini remaja akan termotivasi dan terarah dalam membingkai masa depan ideal dunia akhirat sesuai identitas kemuslimannya.
Kedua , penghargaan . Setiap remaja kayak kita-kita pasti membutuhkan hal ini untuk mengembangkan potensi dan kemampuan diri. Aktivitas dakwah akan menyalurkan secara positif bakat dan potensi yang kita miliki untuk kebangkitan Islam dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Hebatnya, insya Allah kita bakal dapetin juga penghargaan atas prestasi itu langsung dari Allah swt. Hmm… yummy!
Ketiga , rasa memiliki . Remaja seusia kita sering termotivasi untuk bergabung dalam kelompok yang memiliki dan dimiliki kita. Karena di sana kita bisa belajar banyak hal, tambahan informasi, konsultasi gratis, merasa aman, nyaman, dan diterima. Tempat yang tepat jika kita ikut dalam komunitas dakwah. Rasa kebersamaan, sikap empati, simpati, dan pertolongan tanpa pamrih antar individu dalam komunitas ini, lahir dari keimanan. Itu berarti nggak mudah luntur karena perbedaan status sosial atau pendidikan.
Keempat , kecakapan dan kepercayaan diri . Remaja seumuran kita sering terlihat pengen diakui kalo doi cakap alias mampu dan percaya diri untuk jalanin hidup mandiri. Mampu menentukan pilihan atau mengatasi masalah tanpa bergantung kepada orang lain.
Dalam lingkungan dakwah, kita bakal dilatih untuk berpikir panjang merunut setiap permasalahan dan mencari pemecahannya sesuai aturan Islam yang pasti mendatangkan maslahat. Ketegasan sikap kita bisa lahir dari kemandirian yang ditopang oleh pemahaman Islam. Kita juga dilatih untuk mengambil hikmah dalam setiap musibah atau kegagalan yang menimpa kita semua. Karena kita-kita paham, apa pun yang menimpa diri kita, itu adalah jalan terbaik yang Allah berikan. Jadi nggak ada kamus stres bin uring-uringan pas ngadepin masalah bagi para pengemban dakwah. Tetep semangat. Catet tuh!
Kelima , konstribusi . Merasa ngasih kontribusi alias ikut berperan serta, nggak egois bin individualis, atau sikap dermawan sangat penting buat perkembangan identitas yang sehat pada remaja seusia kita. Dengan begini kita-kita bakal terlatih untuk peduli dan peka terhadap permasalahan di sekitar kita. Sehingga kita termotivasi untuk mengembangkan kemampuan diri biar bisa ikut beresin masalah itu.
Dan semua perasaan di atas pasti bakal didapetin kita-kita dalam aktivitas dakwah. Selain bernilai pahala, kita bakal ngerti kalo masalah dunia atau masyarakat juga masalah kita. Kita juga wajib ngerasa bertanggung jawab dengan akibat dan penyebab masalah itu. Karena kita bakal kecipratan dampak buruk masalah itu kalo dibiarin. Betul?
Nah sobat, ternyata nggak ada ruginya kan terjun ke dunia dakwah. Dilihat dari sisi mana aja, jadi pengemban dakwah pasti berlimpah berkah. Masa nggak kepengen?
Nikmati risiko dakwah
Risiko dakwah mah udah sunntatullah atuh alias wajar terjadi. Bayangin aja, yang kita dakwahkan ajaran Islam. Sementara obyek dakwah kita yang di rumah, sekolah, kampus, atau tempat kerja semuanya udah kadung diselimuti aturan sekuler yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam. Otomatis dakwah kita nggak akan berjalan semulus di jalan tol.
Makanya kita nggak usah bermimpi kalo dakwah itu tanpa rintangan. Justru kita kudu siapkan nyali untuk hadapi risiko dalam dakwah demi meraih ridho Allah. Kita bisa contoh 75 orang muslim dari suku Khajraj saat terjadi peristiwa Bai'atul Aqabah kedua. Saat itu salah seorang paman Nabi yang melindungi dakwah beliau meski bukan muslim, bernama ‘Abbas bin Ubadah, mengingatkan kaum muslim dari Khajraj itu akan risiko dakwah yang akan dihadapi jika tetap membai'at Nabi.
Kaum itu pun menjawab, “Sesungguhnya kami akan mengambilnya (membai'at Nabi saw) meski dengan risiko musnahnya harta benda dan terbunuhnya banyak tokoh.” Kemudian mereka berpaling pada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, jika kami memenuhi (seruan)mu, maka apa balasannya bagi kami?” “Surga”, jawab beliau dengan tenang. ( Negara Islam , Taqqiyuddin an-Nabhani)
Nah sobat, ternyata risiko dalam dakwah adalah jalan menuju surga Allah yang selama ini kita rindukan. Seberat apapun jalan itu, kita hanya perlu bersabar dan tetep istiqomah. Abu Dawud telah meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad hasan: “Setelah engkau akan datang masa kesabaran. Sabar pada masa itu seperti menggenggam bara api. Orang-orang yang bersabar akan mendapatkan pahala sebagaimana lima puluh orang laki-laki yang mengerjakan perbuatan tersebut. Para shahabat bertanya , “Wahai Rasulullah, apakah pahala lima puluh (laki-laki) di antara mereka?” Rasul menjawab , “Bukan, tetapi pahala lima puluh orang laki-laki di antara kalian”
Kita juga nggak punya alasan untuk berdiam diri membiarkan kemaksiatan merajalela karena khawatir akan dekatnya ajal, seretnya rizki, atau jauhnya jodoh. Soalnya kan yang ngasih rizki adalah Allah. Yang nentuin jodoh kita Allah. Yang nyuruh Malaikat Ijrail nyabut nyawa kita juga Allah. Bukannya semua urusan hidup kita akan terasa mudah kalo kita disayang ama Allah dengan ngikutin perintahNya seperti aktif dalam dakwah?
Pengemban dakwah Islam ideologis
Satu hal lagi yang kita nggak boleh lupa. Bagusnya kita nggak merasa cukup dengan mendakwahkan Islam cuma sebagian. Seolah perbaikan moral atau peningkatan akhlak individu masyarakat menjadi solusi pamungkas dalam setiap permasalahan. Padahal syariat Islam itu begitu luas mencakup solusi dalam permasalahan pemerintahan, ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan, dll.
Karena itu kita wajib memahami dan mendakwahkan Islam sebagai Nidzhomul hayah alias aturan hidup yang nggak cuma ngatur ibadah atau akhlak semata. Islam yang memiliki peran sebagai qaidah fikriyah (landasan berpikir) dan qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir). Sebagai qaidah fikriyah , Islam akan menjadi filter alias saringan sekaligus tameng menghadapi serangan pemikiran dan budaya Barat sekuler. Dan sebagai qiyadah fikriyah , Islam akan membimbing kita dalam menyelesaikan dan mencegah terulangnya setiap masalah hidup yang mampir ke kita dengan tuntas dan berpahala.
Sobat muda muslim, kalo kamu punya nyali, mari kita libatkan diri kita untuk memperkuat barisan perjuangan menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi. Jangan sampe jalan menuju surga dalam aktivitas dakwah, kita pandang sebelah mata. Ntar nyesel lho. Berani? Pasti dong!
*dari berbagai sumber

Syakhsiyah Islamiyah (Kepribadian Islam)


  1. Pengertian Syakhsiyah Islamiyah
Syakhsiyah Islamiyah adalah kepribadian seorang muslim yang memiliki pola pikir islam (aqliyah islamiyah) dan pola sikap islam (nafsiyah islamiyah).
  1. Khosiat (potensi) Manusia
4JJ1 menciptakan manusia barengan ama khosiat-khosiat/sifat2 yang ada, atara lain:
  1. Akal
Manusia pake’ akal untuk berpikir.
Ct: Berpikir tentang ciptaannya 4JJ1 kayak bulan, bunga, buah, binatang, dll.
  1. Kebutuhan Jasmani (Hajatul Udhawiyah)
Kebutuhan manusia yang harus dipenuhi sehari-hari karena bila nggak dipenuhi bisa jadi menimbulkan KEMATIAN.
Ct: Makan, minum, buang air, berobat, dll.
  1. Naluri (Gharizah)
Kebutuhan manusia yang diusahkan untuk dipenuhi karena bila nggak dipenuhi akan menimbulkan KEGELISAHAN. Ada 3 naluri:
  1. Naluri Mengagungkan sesuatu yang lebih tinggi darinya
(Gharizah Tadayun)
Setiap manusia pastinya menganggap bahwa dirinya adalah bagian kecil dari alam semesta. So da manusia yang mengagung-agungkan 4JJ1, Patung, Kuburan, dll.
  1. Naluri Mempertahankan Diri (Gharizah Baqa’)
Kecilnya manusia di alam semesta ini menjadikannya untuk bertahan hidup dengan berbagai cara yang diketahuinya, seperti: mempunyai rumah, bersekolah, marah,dll.
  1. Naluri Mempertahankan Jenis (Gharizah Nau’)
4JJ1 menciptakan manusia mempunyai rasa cinta, kasih, n sayang seperti: menikah. Sapa yang pengen?
  1. Unsur Syakhsiyah Islamiyah
  1. Pola pikir islam (aqliyah islamiyah)
Artiunya seseorang berpikir secara islami. Setiap informasi yang dia terima akan dihubungkan dengan keimanan (aqidah) dan pemikiran-pemikiran islam.
Ct: dalam Q.S. Al Baqarah:45, kalo Qt sedih, firman 4JJ1 “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'.”
  1. Pola sikap islam (nafsiyah islamiyah).
Artinya seseorang yang bersikap islami. Disaat dia ingin melakukan suatu perbuatan, dia pertimbangkan dengan keimanan (aqidah) melalui proses berpikir secara mantap. Nggak begitu aja lepas kotrol atau memakai pertimbangan yang g’ islami.
Ct: Kenyataanya pas Qt baru sedih, kalo pake pola pikir islami pastinya Qt untuk sabar n’ sholat sebagai penolong Qt. Tapi…kalo nggak pake pola pikir islami, Qt bawaannya marah-marah aja. Hayo…ngaku?
  1. Unsur yang memperkuat dan melemahkan Syakhsiyah Islamiyah
  • Unsur yang memperkuat Syakhsiyah Islamiyah
Qt harus teruuuuuus ningkatin aqliyah islamiyah n’ nafsiyah islamiyah. Gimana sih canya? Caranya kualitas aqliyah islamiyah ditingkatkan dengan SELALU MENAMBAH PENGETAHUAN TENTANG ISLAM SESUAI AL QUR’AN N’ AL HADIST. Kualitas nafsiyah islamiyah ditingkatkan dengan MELATIH DIRI MELAKUKAN KETAATAN, MENJALANI IBADAH-IBADAH YANG DIPERINTAHKAN 4JJ1. Dengan cara itulah Sahsiyah Islamiyah akan terus menerus meningkat , seiring dengan bergulirnya waktu. Semakin tua usia, semakin meningkat kualitas pribadi yang dimilikinya. Pemikiran Islamnya bertambah cemerlang, jiwanya semakin mantap. Dan ia semakin dekat dengan 4JJ1. Iiiiiiiiiiiiih..Pengen?
X Unsur yang melemahkan Syakhsiyah Islamiyah
Perlu diwaspadai adanya kekeliruan yang seringkali muncul dikalangan kaum muslim, yaitu gambaran yang salah bahwa sosok pribadi muslim adalah laksana malaikat. Nggak pernah salah atau suci dari segala dosa. Padahal, mana mungkin ada yang seperti itu kecuali nabi dan rosul. Presepsi itu bisa berbahaya. Kalo dia berpikiran kaya’ gitu n’ dia nggak ketemu ma orang yang sesuai ama sesosok orang yang sempurna gitu di masyarakat, dia pasti kecewa. Apalagi kalo dia ketemu, ternyata orang yaang dia senengi selama ini bisa salah juga. Bisa-bisa dia jadi putus asa. So jangan sampe’ berpikiran kayak gitu lho ya…
Seorang muslim adalah manusia biasa. Dia bukan malaikat, bukan juga iblis. Karena itu, wajar kalo manusia males ngerjain perintah-perintah 4JJ1. Mungkin dia lupa bisa juga nggak tau ato mungkin syetan telah masuk ke dalam dirinya n’ nafsu nggak terkendali so dia terjerumus dalam perbuatan dosa. Na’udzubillahiminzalik…
Nah, kalo kayak gitu nggak mau kan? So keimanan yang masih ada pada qta harus dijaga betul-betul ya. Gimana sih jagain keimanan? Caranya jadiin aja keimanan sebagai tolak ukur dalam pemikiran n’ perbuatan Qt setia setiap saat. Misalnya aja kalo Qt baru males sholat, cepet-cepet lari ambil air wudhu sambil ingat 4JJ1 trus mantepin hati Qt kalo itu adalah godaan syetan yang harus Qt lawan, Okey?
  1. Kekhususan Syakhsiyah Islamiyah
Seseorang yang bener-bener punya Syakhsiyah Islamiyah akan muncul di tengah-tengah masyarakat dengan sifat-sifat yang khas n’ unik (bukan nyentrik or nyleneh). Di manapun n’ kapanpun dia berada akan muncul ama sifat-sifat yang menonjol yang akan menjadi titik perhatian karena ketinggian ilmu yang dia miliki dan kekuatan jiwanya besar.
4JJ1 menggambarkan sosok-sosok pribadi muslim kayak gitu dalam Q.S Al Fath:29. “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.”
Beberapa contoh sosok-sosok pribadi muslim :
  1. Jujur
  2. Menjahui dengki
  3. Menepati janji
  4. Mempunyai sifat malu
  5. Suka memaafkan
  6. Menjahui hal yang tidak bermanfaat
  7. Menjahui perbuatan menggunjing dan adu domba,
  8. Amar ma’ruf nahi munkar
  9. Mengunjungi orang sakit
  10. Menghormati tamu
  11. Meyebarkan salam, Dll.

So Sapa sich Yang Mau Jadi Wanita Sholehah? ^.^


Pilih Syar'i, Tinggalkan Kompromi!


Tantangan nggak cuma ada di Indosiar, tapi nongol di setiap sisi kehidupan kita. Konon kabarnya, orang bijak bilang tantangan dalam hidup adalah suatu anugerah yang bakal bikin kita lebih dewasa dalam bersikap dan berbuat. Cieee… karena adanya tantangan bakal ngetes sejauh mana kesungguhan niat kita tuk meraih tujuan. Siapa yang berani ngadepin setiap tan-tangan, berarti doi punya nyali bin tekad untuk maju. Sebaliknya, siapa yang justru malah menghindari tantangan alias jago ngeles, bisa-bisa dicap Dygta sebagai Pecundang Sejati .
Tantangan juga hadir di hadapan aturan Islam. Aturan yang kita yakini bakal bikin selamet dunia akhirat bagi yang istiqomah. Tantangan itu muncul karena perbedaan waktu antara zaman Rasulullah dan sekarang. Karena beda masa beda sarana. Dulu perbankan nggak ada, sekarang bejibun. Dulu pemerintahan demokrasi belum lahir, kini demokrasi dianggap satu-satunya solusi. Makanya ada yang ber-pendapat kudu ada reformasi terhadap aturan-aturan Islam. Terutama bagian yang dirasa udah nggak cucok lagi ama kondisi sekarang.
Nah, lalu muncul deh gaya hidup “kompromi” di kalangan umat Islam. Gaya hidup yang mencoba menjadikan aturan Islam sebagai aturan yang fleksibel. Nggak kaku bin jumud terhadap perkembangan zaman. Mirip-mirip sifat air yang selalu bisa menyesuaikan dengan tempat doi berada. Aturan poligami dianggap udah basi. Karena kini ada aturan emansipasi wanita yang kudu dijunjung tinggi. Sampe ada mahasiswi yang menggelar aksi penentangan terhadap aturan poligami. Wah berabe nih urusannya! Inga..inga.. firman Allah Swt.:
“Apakah kalian mengimani sebagian al-Quran dan mengingkari sebagian yang lainnya? Tiada balasan bagi orang-orang yang berbuat demikian di antara kalian selain kenistaan dalam kehidupan dunia, sementara pada hari Kiamat kelak mereka dilemparkan ke dalam azab yang sangat berat.” ( QS al-Baqarah [2]: 85 )
“Kompromi” di sekitar kita
Sobat muda muslim, tentu kita udah nyadar kalo lingkungan di sekitar kita kian steril dari aturan Islam. Mulai dari cara berpakaian, bergaul, di tempat kerja, sekolah, atau di sekitar rumah. Semuanya udah dibalut dengan paham sekuler yang berasal dari gaya hidup Barat. Paham ini yang nempatin aturan agama cuma buat di masjid atau majelis taklim doang. Itu pun sebatas lisan. Padahal kita sebagai muslim juga kudu terikat ama aturan Allah di mana aja dan kapan aja. Ini yang seringkali jadi dilema bagi remaja muslim. Bener kan?
Tentu, dilema yang dialami remaja muslim amat wajar terjadi. Karena aturan ling-kungan di sekitar kita seolah memaksa me-reka untuk sekuler. Inilah yang dikehen-daki musuh-musuh Islam. Melalui media informasi mereka, kita digiring me-ngikuti budaya Barat yang se-kuler dengan cap mo-dern, gaul bin trendi. Hingga kita nggak bisa lihat, denger, tonton, kecuali apa yang mereka tayangkan. Walhasil, pola pikir dan pola sikap kaum Muslimin banyak yang berkiblat pada gaya hidup Barat. Gaswat!
Akibat gaya hidup kompromi, banyak temen-temen kita yang mengalami krisis identitas sebagai muslim. Mereka seolah malu menampilkan sosoknya sebagai muslim atau muslimah. Seperti dalam tren busana musli-mah yang lagi banyak digandrungi. Berkerudung tapi seksi bin modis. Kerudungnya begitu ketat membalut kepala. Terus, ujung-ujung kain penutup kepala itu yang syar'i-nya menutupi bagian dada, malah ditarik ke atas dan dililitkan ke bagian belakang leher. Mereka menyebutnya kudung gaul. Tapi kok amburadul. Piye iki ?
Dalam pergaulan remaja ada istilah ‘pacaran islami' dengan batasan no kiss no touch . Padahal jalan berdua dengan lawan jenis yang bukan mahramnya aja udah nggak boleh. Gimana bisa ada pacaran islami? Kecuali aktivitas pacaran itu dilakukan after merit . Itu baru siip! Uhuy!
Dalam aktivitas dakwah juga sami mawon. Ada yang coba mengompromikan metode dakwah Rasulullah dengan situasi dan kondisi untuk menarik simpati. Nggak berani nyinggung-nyinggung tradisi, adat, budaya, atau kebiasaan rusak yang berkembang di tengah masyarakat. Nggak pede jelasin kalo perayaan tahun baru masehi, Valentine Days, atau ikut kontes-kontes kecantikan dan penca-rian bakat itu bertentangan dengan Islam. Kalo gini sih, kesannya kayak nyari selamet. Padahal apapun risiko yang dihadapi atau hasil yang diraih, dakwah Islam tetep kudu disampaikan. Bisa-bisa kita termasuk pihak yang ikut melestarikan budaya sekuler kalo menutup-nutupi kebenaran yang datang dari Islam. Betul? Jangan sampe deh!
Jalan tengah = jalan salah
Gencarnya opini sikap kompromi bikin kaum Muslimin banyak yang tejebak. Mereka jadi doyan bersikap moderat (maksudnya jalan tengah. Bukan modal dengkul dan urat lho..) dalam menghadapi setiap permasalahan. Seolah sikap itu yang paling oke, paling selamet, dan diterima semua pihak. Padahal justru sikap itu malah menghindari masalah bukan menghadapinya. Nah lho, kok jadi muter-muter gini?
Begini, jalan tengah adalah konsep yang membangun ideologi kapitalisme. Ini diawali sekitar abad pertengahan. Ceritanya, saat itu ada dua pihak yang lagi bersitegang. Antara pihak gereja yang jadi perpanjangan tangan raja melawan pihak pemikir dan filosof Barat. Keduanya berbeda pendapat tentang agama Kristen dan perannya dalam kehidupan. Rohaniwan dan raja berpendapat kalo Kristen adalah agama yang layak untuk mengatur seluruh kehidupan. Sementara para pemikir dan filosof justru berpendapat sebaliknya. Karena mereka menganggap agama Kristen sebagai penyebab kehinaan dan ketertinggalan. Seharusnya akal manusialah yang layak untuk mengatur segala urusan kehidupan.
Dan ternyata, setelah melewati dua babak yang cukup sengit (emangnya sepak bola?) nggak ada yang menang atau kalah. Dua-duanya sama-sama ngeyel. Akhirnya keduanya me-nyepakati suatu jalan tengah. Mereka mengakui kalo aturan agama emang cocok buat ngatur hubungan manusia dengan Tuhannya. Tapii... aturan agama nggak boleh ikut campur dalam kehidupan manusia. Pokoke, pengaturan urusan kehidupan manusia diserahkan sepenuhnya kepada akal manusia. Titik. Dari sinilah lahir ide pemisahan agama dari kehidupan alias sekulerisme yang jadi prinsip dasar ideologi Kapitalisme. Moga-moga sampe sini kamu ngerti ya. Lanjuut!
Dengan prinsip di atas, orang-orang Barat itu selalu nyari jalan tengah untuk beresin persoalannya atau masalah orang lain. Katanya biar sama-sama enak dan nggak ada yang dirugikan. Seperti solusi yang ditawarkan negara-negara Barat dalam masalah negeri Palestina pada tahun 1948. Mereka melakukan pembagian tanah untuk dua negara: Palestina dan Israel. Tapi, bukannya menyelesaikan masalah, konsep jalan tengah ini malah menambah panjang permasalahan. Karena sampai saat ini, konflik Palestina masih to be continued . Suer!
Dari cerita di atas kita bisa lihat kalo jalan tengah nggak beresin masalah tapi malah menghindarinya. Nggak ada yang bisa tuntaskan masalah perbedaan pendapat dari masing-masing pihak yang berseteru. Baik tentang peran agama Kristen dalam kehidupan maupun perseteruan kaum Muslimin dan kaum Zionis Yahudi di Palestina. Padahal ini kan masalah keyakinan agama yang sifatnya prinsip banget. Jadinya masalah itu dibiarkan tetep ada alias ngambang. Garing banget kan? Padahal mah kudu ada ketegasan untuk hal-hal yang sifatnya prinsipil. Betul?
Ibaratnya, kudu ada yang menang atau kalah di putaran final Liga Champions. Kudu ada kejelasan diterima atau ditolak pas kita melamar seorang gadis. Dan kudu ada akademia yang tereliminasi di setiap konser AFI. Biar ketahuan siapa yang berhak mem-boyong piala Champions dan menyandang gelar tim terbaik Eropa. Siapa yang berhak mengikuti jejak Veri AFI. Atau siapa yang akan segera mengakhiri masa jomblonya. Yo'i kan?
Islam is never die
Allah swt. berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS al-Mâidah [5]: 3)
Dalam ayat di atas Allah swt. memastikan kalo agama Islam adalah agama yang sempurna tanpa cacat en cela. Aturannya layak dipakai oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Ini berarti nggak ada masalah yang nggak bisa diatasi oleh aturan Islam. Termasuk masalah baru yang muncul karena perkembangan zaman. Semuanya bisa diselesaikan. Pasti.
Adapun pendapat yang bilang hukum Islam itu fleksibel sebenernya berasal dari orang kafir. Seperti yang pernah disampaikan seorang orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, dalam bukunya. The Introduction to Islamic Law . Dia bilang, perubahan hukum tidak bisa diingkari lagi dengan adanya perubahan tempat dan zaman . Ini artinya fakta yang terjadi karena perkembangan zaman bisa jadi sumber buat pengambilan hukum Islam. Asal deh!
Padahal sampai kiamat sumber hukum Islam hanya al-Quran, as-Sunnah, dan yang dibenarkan oleh keduanya; yaitu Ijma Sahabat dan Qiyas. Sehingga dalam hal ini kedudukan fakta dijadikan sebagai obyek hukum. Kalo ada fakta baru, maka akan ada proses istinbath alias penggalian hukum terhadap fakta itu. Di sini terjadi proses penelaahan informasi yang lengkap bin komplit seputar fakta itu. Lalu digali status hukumnya berdasarkan sumber hukum Islam. Proses ijtihad yang dilakukan para muj-tahid inilah yang menjadikan Islam is Never Die !
Pilih syar'i, tinggalkan kompromi!
Sobat muda muslim, sekarang saatnya kita berkaca pada diri kita. Jalan hidup seperti apa yang akan kita pilih. Haruskah kita mengorbankan jati diri kita sebagai muslim demi status gaul, seksi, atau tren? Pantaskah kita mengutamakan ridho masyarakat daripada ridho Allah? Ragukah kita terhadap kesem-purnaan aturan Allah? Malukah kita kalo kudu istiqomah dengan aturan Islam di lingkungan sekuler sekitar kita?
Adakah kompromi atau jalan tengah yang ditunjukkin Rasulullah dalam hidupnya? Seperti saat pamannya, Abu Thalib, menawarkan pangkat, harta, dan kehormatan agar beliau mau meninggalkan Islam? Jawabnya: nggak ada. Nggak ada banget. Yang ada justru ketegasan sikap Rasulullah: “Demi Allah, wahai Paman, an-daikata mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan perkara ini (Islam), niscaya aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah me-menangkan perkara itu atau aku hancur karenanya!”
So, mari kita jadikan Islam sebagai aturan hidup kita. Kita pelajari, pahami, amalkan, yakini, dan dakwahkan. Oke deh, pilih syar'i, and no compromise ! Met berjuang ye!


*dari berbagai sumber

I$L@M, I'm in LovE

Huhuy! Kesannya gimanaa gitu. Bukan sulap bukan sihir, dan ini juga bukan judul film tandingan Eiffel, I'm in Love . Ini sekadar judul yang moga saja ‘efek'-nya bisa lebih dalem lagi tentang perasaan cinta kita kepada Islam. Tul nggak seh? Moga juga bikin kamu tambah kesengsem kepada Islam. Karena apa? Karena jatuh cinta sama Islam bikin segalanya tampak indah. Bener lho, kagak bo'ong!
Sobat muda muslim, banyak jalan untuk jatuh cinta. Banyak ragam cara kita menemu-kan cinta. Itu sebabnya, nggak usah heran bila akhirnya banyak pula yang langsung lengket-masket kepada apa yang dia cintai. Jatuh hati setengah mati.

Nah, ngomong-ngomong soal Islam, ternyata banyak manusia yang tergoda dan akhirnya tulus mencintai agama Allah yang risalahnya dibawa Muhammad saw. ini. Abisnya, pesona Islam bikin hidup lebih hidup sih. Jadi, siapa pula yang tega menelantarkannya? Kayaknya itu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang nggak kenal sama Islam dan satu lagi, yang membenci Islam. Setuju? Kudu! (maksa banget neh!)
Tipe yang manakah kamu? Kayaknya masih mending deh kalo sekadar belum kenal sama Islam. Itu bisa kita upayakan untuk mengenal-nya lebih dekat, lebih dalem, dan lebih intim. Kata pepatah, “tak kenal maka ta'aruf” Hehehe.. bener dong. Kalo nggak kenal ya, kita kenalan. Biar tambah kenal. Terus, ujungnya kita bisa sayang tuh. Betul?

Sobat muda muslim, bagaimana rasanya orang yang sedang dirundung rasa suka? Wuih, kayaknya kamu udah paham banget di level ini mah. Bawaannya seneng mulu kan? Bikin kita enak tidur dan enak makan kan? Bisa juga kita bangga memilikinya kan? Bahkan sangat boleh jadi kita bakalan rela berkorban demi cinta kita kepada yang sedang kita cintai. Nggak cuma rela ngorbanin perasaan, tapi ikhlas dan ridho kalo harus mengorbankan nyawa yang cuma satu-satunya ini. Bener lho.

Islam, agama yang sudah malang-melintang selama lebih dari 14 abad ini banyak yang mencintainya, meski kudu diakui bahwa banyak juga yang membencinya. Kenapa? Karena kehadirannya bagi yang memiliki akal sehat dan nalar yang cerdas, Islam adalah sebuah kenikmatan luar biasa. Tapi bagi mereka yang akalnya turun ke jempol kaki, dan nalarnya jongkok, ditambah hawa nafsu yang menjadi panglimanya, maka Islam layak untuk dibenci. Jadi, ini bergantung sudut pandang dan tentunya keimanan saja. Memang benar, bahwa kita harus menilai sesuatu itu secara objektif. Sebab kalo berat sebelah, itu namanya subjektif. Nggak cocok jadi wasit neh. Hehe.. Buktinya? Jangan heran kalo kecintaan kita yang berlebih kepada seseorang, akan menggelapkan penilaian kita kepadanya. Kalo cinta udah terpatri di dada, kita bisa dikalahkan oleh cinta. Celakanya, kalo pun doi berbuat salah, rasanya nggak pantes untuk dikasih masukan berupa saran dan kritik. Celaka ‘kali dikau, bah! Sebaliknya juga sama, kalo kita udah benci sama seseorang, rasanya orang tersebut pasti salah aja di mata kita. Meski adakalanya dia memiliki kebenaran. Nah, jangan sampe kita seperti itu.

Tapi Bro, cinta kita kepada Islam, ini persoalan yang lain daripada yang lain. Karena apa? Karena Islam adalah agama yang dijamin kebenarannya oleh Allah. Agama ini diemban risalahnya oleh Nabi Muhammad saw. Jelas, Islam berasal dari sumber yang nggak mungkin lagi salah. Itu sebabnya, kecintaan kita kepada Islam, bukan lagi menggelapkan mata istilahnya, tapi mencerahkan hidup kita. Ujungnya, kita akan taat kepada seluruh ajaran Islam dan bahkan kita ingin menyampaikan kebenaran Islam ini kepada siapa pun dengan segala kemampuan yang kita miliki. Tentunya, ini sebagai bukti kecintaan kita kepada Islam, Rasulullah saw., dan juga Allah Swt. Begitu sobat.

Bukan cinta biasa...
Sobat muda muslim, Salman al-Farisi demi cintanya kepada kebenaran. Ia rela mencari agama yang sanggup mencerahkan pikiran dan mengobati kegundahan jiwanya.
From Persia With Love . Yup, boleh dibilang Salman al-Farisi begitu. Sebab, dengan cinta di dada untuk mencari kebenaran, beliau rela jauh-jauh dari Persia berkelana sampe terdampar di Madinah. Bertemu Rasul dan masuk Islam. Kecintaannya kepada Islam mengalahkan kepercayaannya sebagai kaum penyembah api. Yes, Salman meninggalkan agama Majusi (Zoroaster).

Dikau tahu Mush'ab bin ‘Umair? Duh, sahabat Rasulullah saw. yang satu ini ridho ninggalin istana megahnya demi cintanya kepada Islam. Rela mencampakkan pakaian indah dan gelimang harta. Islam, mampu me-nenggelamkan segala kenikmatan dunia lainnya.
Mush'ab bin ‘Umair adalah orang pertama yang diutus Rasulullah saw. untuk membacakan al-Quran, mengajarkan Islam, dan memberi pemahaman agama kepada masya-rakat Madinah. Mush'ab mene-mani 12 orang laki-laki Madinah setelah Bai'at ‘Aqabah pertama.
Alhamdulillah, Islam kemudian tersebar cepat di Madinah, hingga membuat Rasulullah saw. gembira dan memikirkan untuk hijrah ke sana sekaligus menerapkan Islam sebagai ideologi negara. Subhanallah , begitulah jika cinta sudah terpatri kuat di hati. Islam memang layak kita cintai, kita bela, dan kita perjuangkan.

Drama ke-hidupan bersama Islam yang di-mainkan para sa-habat Rasulullah saw. dalam membela Allah, Rasul-Nya, dan tentunya juga Islam sungguh sangat mengagumkan. Suatu ketika Zaid bin Datsinah bersama lima sahabat lainya diutus Rasulullah menemani sekelompok kecil kabilah untuk mengajarkan Islam ke kabilah yang bertetangga dengan Bani Hudzail tersebut. Waktu itu, negara Islam sudah berdiri. Kejadiannya pasca Perang Uhud. Sayangnya, enam utusan Rasulullah saw. itu dikhianati. Tiga di antaranya syahid. Tiga lagi menjadi tawanan dan dijadikan budak untuk dijual (termasuk Zaid bin Datsinah). Waktu itu, Zaid hendak dibeli oleh Shafwan bin Umayyah, untuk kemudian dibunuh sebagai balasan atas kematian ayahnya, Umayyah bin Khalaf, yang tewas di tangan kaum Muslimin saat Perang Badar. Bales dendam nih ceritanya.
Zaid ditanya oleh Abu Sufyan: “Hai Zaid, aku telah mengadukanmu kepada Allah. Sekarang, apakah engkau senang Muhammad berada di tangan kami menggantikan tem-patmu, lalu engkau memenggal lehernya dan engkau kembali kepada keluargamu?”
“Demi Allah!” jawab Zaid lantang, “Aku tidak rela Muhammad menempati suatu tempat yang akan dihantam jerat yang menyiksanya, sementara aku duduk-duduk dengan keluargaku.”
Abu Sufyan terkesan banget tuh dengan kata-kata Zaid. Bibirnya menyungingkan senyuman sinis sambil bilang, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang mencintai sahabatnya seperti kecintaan sahabat-sahabat Muham-mad,” kata Abu Sufyan geram di tengah kekagumannya. Kemudian, Zaid pun dibunuh. Subhanallah , ini memang bukan cinta biasa.

Membela dan memperjuangkan Islam, sebagai bentuk kecintaan kepada agama Allah ini, membuat Khubaib, temannya Zaid yang juga diutus Rasulullah dalam misi tersebut, rela melepaskan nyawanya. Sebelum syahid, beliau memandang musuh-musuh Allah dengan marah sambil meneriakkan doa, “Ya Allah, sesung-guhnya telah sampai kepada kami risalah Rasul-Mu, maka besok sampaikan kepadanya apa yang membuat kami demikian. Ya Allah, hitunglah (bilangan) mereka (dan lemparkan mereka) berkali-kali, bunuhlah mereka dengan sekali lumat, dan janganlah Engkau biarkan mereka hidup seorang pun dari mereka!” Mendengar teriakan Khubaib, mereka menjadi gemetar. Dengung suara itu seolah merobek-robek nyawa mereka. Kemudian, Khubaib pun dibunuh.
Ini baru sahabat Rasulullah saw. bagai-mana dengan Rasulullah saw.? Ini salah satu kisahnya. Simak ye…

Aisyah ra. bercerita tentang Rasulullah saw. setelah didesak oleh Abdullah bin Umar. Apa yang diceritakan Ummul Mukminin Aisyah ra? Beliau menceritakan sepotong kisah bersama Rasulullah saw. ( Tafsir Ibnu Katsir, I: 1441 ): “Pada suatu malam, ketika dia tidur bersamaku dan kulitnya sudah ber-sentuhan dengan kulitku, dia ber-kata, “Ya, Aisyah, izinkan aku ber-ibadah kepada Rabbku.” Aku ber-kata, “Aku sesung-guhnya senang me-rapat denganmu, tetapi aku senang meli-hatmu beribadah kepada Rabbmu.”Dia bangkit mengambil gharaba air, lalu berwudhu. Ketika berdiri shalat, kudengar dia terisak-isak menangis. Kemudian dia duduk membaca al-Quran, juga sambil menangis sehingga air matanya membasahi janggutnya, ketika dia berbaring, air matanya mengalir lewat pipinya mambasahi bumi di bawahnya. Pada waktu fajar, Bilal datang dan masih melihat Nabi saw. menangis,”Mengapa Anda menangis, padahal Allah ampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang kemudian?” tanya Bilal. “Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur. Aku menangis karena malam tadi turun ayat Ali Imran 190-191. Celakalah orang yang membaca ayat ini dan tidak memikirkannya.”

Demi cintanya kepada Allah, dan juga agama ini, Rasulullah saw. sanggup menge-sampingkan kenikmatan-kenikmatan lainnya. Subhanallah . Sekali lagi, ini bukan cinta biasa!

Kenali, sayangi!!!!
Kalo udah kenal, rasa sayang itu dengan sendirinya akan muncul. Bahkan rasa sayang itu bisa diterjemahkan kebih dalem lagi, yakni dengan pembelaan dan perjuangan. Hebat sekali bukan? Gimana caranya kenal sama Islam? Seperti halnya Rasulullah saw. mengutus Mush'ab bin ‘Umair untuk mengajarkan Islam, maka satu-satunya cara mengenal Islam adalah dengan mempelajarinya. Jadi, ngaji. Suer, dengan belajar kita jadi tahu segalanya. Waktu kita SD, kita nggak tahu huruf abjad, nggak bisa nyebutin angka 1 sampe 10, juga nggak mengenal bagaimana indahnya bersahabat. Itu semua karena kita mau belajar.

Sobat muda muslim, banyak orang tertarik dengan Islam, ketika mereka mengetahuinya. Tentunya, me-reka jadi kenal Islam setelah belajar. Salah satunya Prof. G. Margoliouth dalam De Karacht van den Islam yang menuliskan, “Pe-nyelidikan telah menun-jukkan, bahwa yang dike-tahui oleh sarjana-sarjana Eropa tentang falsafah, astronomi, ilmu pasti, dan ilmu pengeta-huan semacam itu, selama beberapa abad sebelum Renaissance , secara garis besar datang dari buku-buku Latin yang berasal dari bahasa Arab, dan Quran-lah yang, walaupun tidak secara langsung, memberikan dorongan pertama untuk studi-studi itu di antara orang-orang Arab dan kawan-kawan mereka”

Sejarawan Barat, W. Montgomery Watt menganalisa tentang rahasia kemajuan peradaban Islam, ia mengatakan bahwa Islam nggak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Satu dengan yang lain, dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syariat Islam, sama pentingnya dan memiliki prioritas yang sama dengan riset-riset ilmiah.





Jadi, intinya memang dengan belajar untuk bisa mengenali Islam. Ujungnya, kita jadi sayang. Jangan kalah dengan rasa cinta kita kepada lawan jenis aja. Kalo udah seneng sama seseorang yang kinclong di kelas, pengennya deket, biar bisa tahu rahasia hatinya. Berbagai cara dilakukan untuk PDKT. Tujuannya? Untuk bisa tahu seberapa pantas ia jadi calon kita, dan yang penting, seberapa besar ia mencintai kita. Jangan-jangan kitanya aja yang kegeeran, padahal mah doi nggak cinta seujung rambut pun kepada kita. Kalo gitu, langsung deh nyanyi Pupus -nya Dewa. Kasihan deh lo!
Sobat muda muslim, kita kudu yakin lho kalo mencintai Islam pasti ada untungnya juga. Kita jadi lebih lega, lebih tenang, dan lebih nyaman dalam menjalani hidup ini. Islam memberikan segalanya buat kita. Kenikmatan di dunia dan juga di akhirat. Dijamin nggak bakalan bertepuk sebelah tangan deh kalo kita mencintai Islam, Rasul-Nya, dan juga Allah Swt. Insya Allah sukses dunia akhirat. Yakin itu.Setiap kita melakukan perintah yang wajib maupun sunnah, juga memutuskan untuk tidak melakukan perbuatan haram, insya Allah ada ganjarannya. Inilah okenya Islam. Mulai sekarang, tancapkan niat untuk belajar mengenal Islam. Sabda Rasulullah saw.: “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar.” (HR Bukhari)

Nah, kalo udah tahu, kan kita bisa sayang sama Islam tuh. Kayaknya pantes deh kalo kita tulis besar-besar di depan meja belajar kita: “Islam, I'm in Love” .













Mengutip beberapa bait dari blog :
Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta.
Mengajak kita untuk terus berlari.

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satu harus mengalah.
*dari berbagai sumber