Minggu, 21 Desember 2014

Siapa Orang Cerdas?

Bismillah...

Perhatikan sabda Rasulullah Shalallahu'alaihi wa salam berikut ini;

"Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya serta biasa beramal untuk bekal kehidupan setelah mati.

Sebaliknya, orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya, sementara dia berangan-angan kepada Allah” 

(HR. At tirmidzi, Ahmad, Ibn Majah, dan al-Hakim).

Kutipan Pesan Khalid bin Walid r.a

"Aku mencari kematian (di medan perang) dan kemungkinan itu bisa di dapat, tetapi aku belum ditakdirkan, kecuali mati di atas tempat tidurku. Tidak ada satu perbuatan yang paling aku harapkan, setelah kalimah Lailaha illa-llah, ketimbang suatu malam dimana aku bermalam dengan memakai perisai di bawah cahaya bulan di langit dan guyuran hujan hingga subuh, sampai kami menyerang (dan mengalahkan kaum kafir)."

[Khalid bin Walid r.a]

Bertambah Amanah, Agar Kita Pantas!



[SEPERCIK INSPIRASI]

Bismillah...

Sahabat mari sejenak kita renungi...

Tatkala dibahumu diberikan tambahan amanah dalam aktivitas mengemban dakwah

Sesungguhnya itu adalah langkah yang akan 'membantu' kita untuk menutup "celah-celah" pintu kefuturan

Ya, 'bisa-bisa' ruang untuk futur itu tidak ada, bahkan kita pun akan menyadari bahwa "sangat disayangkan" bila waktu yang Allah berikan itu hanya 'terbuang sia-sia' memberi porsi kepada si 'futur'

Sahabat...

Pun sebuah tantangan dakwah di masa depan pasti akan jauh lebih besar

Maka persiapkan diri bila 'sewaktu-waktu' amanah berdakwah pun juga semakin bertambah

Tak perlu 'kaget berkepanjangan', kita hanya perlu menata hati dan menata pikiran

Karena bertambahnya amanah dakwah justru membuat diri makin berkualitas

dan

Niscaya kemenangan atas pertolongan-Nya pun hadir karena kita pantas

Mari sadari bahwa dakwah adalah poros kehidupan dan setiap waktu-waktu yang kita miliki saat ini menjadi waktu yang sangat berharga

karena setiap waktu yang ada selalu di isi untuk memikirkan umat,

karena setiap waktu yang ada selalu digunakan untuk mengatur strategi dakwah

karena setiap waktu yang ada digunakan untuk menguatkan amunisi tsaqofah Islam bekal untuk berdakwah

dan karena setiap waktu yang ada untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT agar Allah SWT mudahkan setiap langkah hamba-hamba-Nya dalam perjuangan dakwah

Sahabat...

Beruntunglah wahai engkau yang 'berlapang dada' dan 'ikhlas' dalam mengemban amanah dakwah

"terus dan terus" luruskan dengan niatan suci bahwa memikul amanah dilakukan semata-mata untuk mendapatkan keridhoan Allah Ta'ala semata

Niscaya setiap peluh dan pengorbanan di jalan dakwah kelak ada balas dengan pundi-pundi pahala yang tak bisa dielak, insya Allah...

Bismillah...

Benarlah firman Allah Ta'ala yang artinya;

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." (QS. Al Anfaal: 27)

Sahabat...

Semoga kita selalu ada dalam keistiqomahan di jalan dakwah...

Semoga Allah selalu memberikan kekuatan kepada kita dalam memenuhi semua amanah...

Semoga kesabaran, kelapangan hati dan ketakwaan, menjadi tameng dalam menghadapi segala macam kefuturan..

Sejenak mari menghela nafas dan kembali jernih berpikir, sungguh...masih banyak PR yang harus kita kerjakan...

Tetaplah fokus pada tujuan dakwah, itulah yang harus selalu kita pikirkan

dan kepada siapa lagi kita bersandar serta mengadukan keluh kesah kecuali kepada Allah SWT

Ya, karena perjuangan dakwah ini tidaklah mudah!

Semoga kita diberikan kekuatan untuk mampu menjaga islam ini, mengokohkan barisan dakwah, menguatkan ukhuwah Islamiyah...

serta saling membantu untuk mampu "melayakkan diri" menjadi penjaga Islam yang terpercaya!

Lantangkan Takbirmu Saudara!

Allahu Akbar....!!   

***

Mari sahabat sebarkan informasi ini.

Semoga bisa menginspirasi kebaikan dan bisa menjadi amal jariyah untuk kita bersama. Jazakumullahu khairan katsiron
 

Anda adalah...

Bismillah...

Anda adalah hamba Allah yang memikul kewajiban mengemban dakwah...

Anda adalah hamba Allah yang melayakan diri sebagai khairu ummah (umat terbaik)...

Bila pengemban dakwah selalu dihujani dengan berbagai tindak penolakan dakwah...

Bila sebagai hamba Allah masih mudah kena goda...

Jangan menyerah, tetap menataplah ke depan luruskan niat karena Allah dan gantungkan pada tumpuan asa keberhasilan dakwah hanya kepada Allah SWT

Ingat, Allah SWT Maha Kuasa yang bisa membolak-balikkan hati manusia

dan teruslah berdoa semoga Allah berikan kepada kita keistiqomahan di jalan dakwah

Doa Keluar Rumah dan Keutamaannya

Doa Keluar Rumah dan Keutamaannya

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

BISMILLAHI, TAWAKKALTU ’ALA ALLAH, LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH

Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.

Keutamaan:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keutamaan doa ini,

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، قَالَ: يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ، وَكُفِيتَ، وَوُقِيتَ، فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟

”Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa di atas, maka disampaikan kepadanya:

‘Kamu diberi petunjuk, kamu dicukupi kebutuhannya, dan kamu dilindungi.’

Seketika itu setan-setanpun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya,

’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.’

(HR. Abu Daud 5095, Turmudzi 3426, dan dishahihkan al-Albani)

Periksalah Hati!



[SEPERCIK INSPIRASI]


Bismillah...

Benarlah firman Allah Ta'ala yang artinya:

"Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." [QS. Al Hujuraat: 18]

***

Bila hati keruh dan pikiran inginkan pujian manusia, Allah melihat apa yang kamu kerjakan

Bila tangan dan hati terdorong celah untuk maksiat, Allah melihat apa yang kamu kerjakan

Bila sendirian 'maksiat serasa tak ada yang melihat', Allah melihat apa yang kamu kerjakan

Bila tau bahwa perjuangan mewujudkan kehidupan Islam adalah kewajiban tapi diri masih enggan terlibat, Allah melihat apa yang kamu kerjakan

Beristighfarlah...Astagfirullah...

Bila saja kita menyadari betapa sayangnya Allah kepada kita

Akal yang Allah berikan kepada kita untuk berpikir, ini karunia besar

Dengan akal kita bisa menyadari bahwa Allah senantiasa mengawasi kita

Dan kelak tak ada yang luput dari penghisaban di akhirat

Sahabat...

Masih ada waktu untuk mencari perbekalan untuk alam keabadian

Semoga kita dijauhkan dari sifat-sifat buruk, sifat-sifat yang bisa membatalkan amal sholih

Dalam setiap aktivitas, tetap luruskan niat karena Allah

Dalam setiap perbuatan, tetap kukuh tuk terikat dengan aturan Allah

Meski tidak mudah, iya!

Meski sulit, iya!

Karena sesunguhnya "bahagia itu sederhana" yaitu hidup untuk mendapatkan keridhoan Allah SWT

***

Mari sahabat sebarkan informasi ini.

Semoga bisa menginspirasi kebaikan dan bisa menjadi amal jariyah untuk kita bersama. Jazakumullahu khairan katsiron

Dalil-Dalil Kewajiban Menegakkan Negara Khilafah



Dalil-Dalil Kewajiban Menegakkan Negara Khilafah
=========================================
Bismillah...

Banyak dalil yang menunjukkan kewajiban menegakkan syariah. Di antaranya dalil tentang wajibnya mentaati Allah, RasulNya dan pemimpin (An-Nisaa : 59).

Ayat ini mengharuskan adanya pemimpin yang menerapkan aturan Allah dan RasulNya.

Pada Qur’an surat Al-Maidah ayat 44, 45, 47, 48, dan 49 secara tegas mengandung perintah menerapkan syariah.

Lalu mengapa kewajiban berhukum Syariah ini diartikan menegakkan negara berdasarkan Syariah?

Hal ini didasarkan oleh kaidah fiqih

مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ اِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

Suatu kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib.

Kaidah ini disampaikan oleh Imam Al-Ghazali. Dan perlu diketahui bahwa setiap kaidah fiqh disusun oleh ulama ushul berdasarkan penelitiannya terhadap nash-nash Qur’an dan Sunnah.

Atas dasar kaidah ini, kewajiban menghukumi segala hal dengan syariat Islam tidak akan sempurna kecuali dengan adanya negara dan penguasa yang bertindak sebagai pelaksana (munaffidz), maka mewujudkan negara dan penguasa yang menerapkan syariat Islam itu menjadi wajib.

Kalau pihak yang berwenang menghukumi dengan syariah itu tidak disebut negara, lalu mau disebut apa?

Hanya saja, wajibnya menerapkan syariah oleh negara ternyata masih menyimpan pertanyaan: jika memang intinya penerapan syariah oleh negara, mengapa harus bentuknya Khilafah?

Bukankah negaranya boleh apa saja, entah republik (demokrasi), monarki, dsb, yang penting menerapkan syariah?

Berikut penjelasannya.

Mengapa Harus Khilafah?

1. Dalil Qur’an

Dalil Qur’an tentang wajibnya menerapkan khilafah adalah dalil-dalil kewajiban berhukum dengan syariah sebagaimana dipaparkan di atas. Selain itu, ada juga dalil Qur’an yang mencantumkan kata “khalifah” di dalamnya, yaitu ayat berikuti ini:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي اْلأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat,

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau?”

Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” (QS al-Baqarah [2]: 30).

Memang ada banyak penafsiran atas kata “khalifah”. At-Thabariy berpendapat bahwa “khalifah” yang dimaksud adalah pemimpin untuk kalangan jin. Sedangkan asy-Syaukani, an-Nasafi, dan al-Wahidi berpendapat bahwa maksudnya pemimpin untuk malaikat. Sedangkan Ibnu Katsir memaknai penyebutan “khalifah” karena manusia menjadi kaum yang sebagiannya menggantikan sebagian yang lain (arti khalifah sendiri adalah pengganti.

Namun, ada pendapat keempat : maksud ayat di atas adalah manusia diturunkan untuk menjadi khalîfah bagi Allah di bumi untuk menegakkan hukum-hukum-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya. Pendapat ini dipilih oleh al-Baghawi, al-Alusi, al-Qinuji, al-Ajili, Ibnu Juzyi, dan asy-Syanqithi. Status ini bukan hanya disandang Adam as., namun juga seluruh nabi. Mereka semua dijadikan sebagai pengganti dalam memakmurkan bumi, mengatur dan mengurus manusia, menyempurnakan jiwa mereka, dan menerapkan perintah-Nya kepada manusia.

2. Dalil hadits

Perhatikan hadits-hadits ini :

“Dahulu para nabi yang mengurus Bani Israil. Bila wafat seorang nabi diutuslah nabi berikutnya, tetapi tidak ada lagi nabi setelahku. Akan ada para Khalifah dan jumlahnya akan banyak.”

Para Sahabat bertanya,’Apa yang engkau perintahkan kepada kami? Nabi menjawab,’Penuhilah bai’at yang pertama dan yang pertama itu saja. Penuhilah hak-hak mereka. Allah akan meminta pertanggungjawaban terhadap apa yang menjadi kewajiban mereka.” [HR. Muslim]

“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” Beliau kemudian diam. (HR Ahmad dan al-Bazar).

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa para pemimpin umat Islam sepeninggal Nabi SAW disebut sebagai khalifah. Memang ini sifatnya khabar bukan perintah. Namun, sebuah hadits ahad tidak mungkin dijadikan dasar aqidah, dan oleh karenanya menjadi dasar amal. Maknanya, hadits ini mengharuskan kita beramal untuk mewujudkan khilafah.

3. Dalil ijma shahabat

Ijma shahabat adalah tafsir terbaik atas Qur’an dan Sunnah. Para shahabat adalah rujukan pertama sekaligus standar kebenaran tatkala kita ingin memahami Qur’an dan Sunnah. Fakta menunjukkan bahwa para shahabat sibuk memilih khalifah bahkan hingga menunda pemakaman Rasulullah SAW.

Abu Bakar r.a. dibaiat sebagai khalifah, dengan sebutan yang memang “khalifah” lalu disepakati oleh para shahabat. Kesepakatan (ijma) mereka menjadi dalil bahwa khilafah itu wajib dan bahwa bentuk pemerintahan Islam adalah khilafah.

Ijma shahabat tidak mungkin diganggu gugat. Rasulullah SAW menjamin bahwa mereka generasi terbaik. Mereka adalah manusia terbaik dengan pemahaman yang terbaik atas apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Kata Para Ulama Tentang Khilafah

Kaidah fiqh yang disebutkan di atas menjadi salah satu pendapat ulama yang mendukung kewajiban pendirian khilafah. Selain itu, seluruh imam mazhab dan para mujtahid besar tanpa kecuali telah bersepakat bulat akan wajibnya Khilafah (atau Imamah) ini. Syaikh Abdurrahman Al Jaziri menegaskan hal ini dalam kitabnya Al Fiqh ‘Ala Al Madzahib Al Arba’ah, jilid V, hal. 362.

Para imam mazhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad) rahimahumullah telah sepakat bahwa Imamah (Khilafah) itu wajib adanya, dan bahwa umat Islam wajib mempunyai seorang imam (khalifah) yang akan meninggikan syiar-syiar agama serta menolong orang-orang yang tertindas dari yang menindasnya.

Jelaslah bahwa mendirikan khilafah itu wajib, dan berdosa meninggalkannya. Tanpa khilafah, banyak aspek syariah yang terbengkalai. Di samping itu, mendirikan Khilafah adalah wujud ketaatan kita pada Allah SWT dan RasulNya. Jadi, jika ada pendapat bahwa kewajiban mendirikan Khilafah tidak ada landasannya dalilnya, maka entah dalil apa lagi yang dimaksud. Wallahu a’lam.

***

Mari sahabat sebarkan informasi ini.

Semoga bisa menginspirasi kebaikan dan bisa menjadi amal jariyah untuk kita bersama. Jazakumullahu khairan katsiron