Tampilkan postingan dengan label Melukis Cahaya [Fotografi]. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Melukis Cahaya [Fotografi]. Tampilkan semua postingan
Senin, 28 Oktober 2013
Rabu, 25 September 2013
Ingin apa Siap ?
Aku saat ini menginginkan sesuatu?
Namun aku merasa, rasa ingin ini belum terkerahkan optimal sekuat tenaga
Kekuatan "ingin" itu belum sekuat sebelumnya, yang telah terbukti secara azzam bisa menggebrak dan menundukan sehingga aku bisa segera mendapatkannya
DSLR . . .
yang dulu terlihat jauh bisa mendapatinya,
yang dulu terlihat sulit untuk membelinya
yang dulu terlihat susah memegangnya
Dalam hitungan waktu dari arah yang tiada terduga tersambangi rizki dari Allah
Alhamdulillah . . . DSLR ada didepan mata
Perkara satu ini yang saat ini rasakan, aku merasa belum sekuat keingiananku dulu saat "ingin" memiliki DSLR
Tapi hal ini juga tak kemudian membuatku untuk berdiam diri, mari bangun kekuatan keinginan dengan kesiapan itu
Temans : Emang apa yang sedang kau inginkan sist?
Aq : Yak, Tepat sekali !(sambil ngajungin jempol)
Temans : Woi...Apaan?"
Mb : Menikah ya? (sambil senyum-senyum, tanpa colak-colek)
Temans : He.he dari kemarin nikah-nikah mulu ihh. Eh tahu gak sist? temen-temen aku dikampus itu sampai lumayan bosan lho ku ajakin ngobrolin tentang ilmu nikah. Opss!
Temans : Eh..lanjut-lanjut, terus ini keinginan tentang apa ya?
Aq : He.he sebenarnya tebakan awal itu tidak salah kok
Temans: Tuhkan tentang nikah?
Aq : Ssssttttttttttttttttttttt..jangan berisik napa?
Temans: Terus apa yang sebenarnya kamu pingini sekelas kamu pingin DSLR waktu lalu?
Aq : Iya betul kok tebakanmu #Siap-siap kaburrrr :D
Sahabatku, ingatlah bahwa Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan
Maka siapkan diri kita untuk menerima apa yang akan Allah berikan :)
tambahan pemirsa . . .
Pesan adik saya: Jangan terburu-buru, kata orang "Jodoh itu tak akan kemana" :D
Love you coz Allah dik :-*
Senin, 16 September 2013
Pemenuhan Cinta
Cinta adalah fitrah
Cinta adalah anugerah
Cinta adalah naluriah
Namun apa jadinya jika cinta yang kita miliki tercurah tanpa aturan?
Tentunya kan berdampak keburukan dan kerusakan
Kita tahu bahwa hewan dan manusia adalah makhluk Allah
Yang keduanya "sama" diberikan potensi CINTA
Namun ada yang berbeda yakni terletak pada "bagaimana cara pemenuhan cinta"
Jika Hewan tanpa bekal Akal maka Cinta yang ia milikinya terpuaskan dengan dorongan insting
Tanpa berfikir, ketika naluri cintanya membuncah maka hewan pun melampiaskanya tanpa pandang bulu
Sedangkan manusia ia berbeda karena manusia dibekali Akal dansemestinya manusia dapat memenuhi naluri Cinta dengan proses berfikir cemerlangnya
Walhasil Cinta yang semestinya kita penuhi adalah mencintai sesuatu karena Allah
Mencintai akan apa-apa yang Allah cintai, meski tidak bisa dipungkiri
Kadang kita merasa berat dan sulit untuk menjalankannya
Namun karena konsekuensi dan kekuatan imanlah menjadi energi pendorong dan penggerak agar cinta dapat tertundukan dengan cinta kepada Robb-Nya.
Begitu pula dalam hal Benci, semestinya kita juga membenci sesuatu karena Allah
Membenci sesuatu karena Allah juga membencinya
Jika Allah membenci kemaksiatan maka sesungguhnya kita pun sama membenci sesuatu yang tidak Allah ridhoi tersebut
Sahabatku . . . semoga kita bisa mencintai dan membenci karena Allah
Meski berat
Meski Sulit
Dengan kekuatan iman kita pasti bisa mengubah yang berat dan sulit itu menjadi ringan dan mudah. Pasti bisa!
--------------------------
#Salam Melukis Cahaya #Khilafah . . .
Miss World = Racun Dunia
[Jakarta, Radaronline] “Racun..racun..racun, mati laju darahku memang kau racun..” ini lirik lagu The Cangcuters berjudul Wanita Racun Dunia. Seperti yang kita ketahui bersama racun adalah sesuatu yang merugikan manusia, bisa menyebabkan kelumpuhan serta berakibat pada kematian. September ini Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan akbar kontes kecantikan miss world di Bali. Ajang Miss World yang diikuti oleh peserta wanita ini harus diwaspadai karena mengandung racun yang cantik dibalut dengan madu. Kontes yang akan disorot oleh miliaran pasang mata penduduk dunia ini telah menuai banyak protes dan penolakan khususnya dari umat Islam. Panitia penyelenggara mengeklaim bahwa kontes ini beauty with purpose dengan slogan 3 B (Beauty, Brain, Behaviour) serta untuk kemajuan pariwisata. Slogan 3B hanya pemoles saja karena secara logis pada kontes ini yang dinilai hanya kecantrikan fisik semata alias 3B Body, body and body.
Panitia ngotot menyelenggarakan MUI tegas angkat bicara menyatakan sikap menolak kontes ini “Pemilihan Miss World merupakan bentuk kontes kecantikan tidak sesuai dengan budaya Indonesia, karena lebih menampilkan budaya negara lain, sehingga di mata masyarakat Indonesia pemilihan Miss World terkesan merendahkan, melecehkan budaya bangsa seperti mempertontonkan aurat adalah merendahkan martabat perempuan” maka MUI menolak Miss World. Selain itu Habib Rizieq selaku imam besar FPI juga tidak tinggal diam, ia akan mengerahkan anggotanya untuk menolak Miss World. Juru Bicara Hizbut Tahrir Ismail Yusanto pun juga menyampaikan kepada Mabes Polri “Dengan didorong oleh semangat amar makruf nahyi munkar, memohon dengan sangat agar Mabes Polri mencabut izin tersebut, agar tidak timbul mudarat yang lebih besar” dan lebih dari 60 Ormas Islam lainnya menyatakan penolakan miss world ajang eksploitasi perempuan ini.
Sebagai generasi bangsa ini kita perlu mewaspadai racun pahit ajang Miss World. Meskipun panitia mengatakan tidak menggunakan bikini dan diganti dengan sarung Bali tetap saja Miss World adalah kampanye liberalisasi budaya serta ekspolitasi tubuh perempuan. Keuntungan dari acara ini sebenarnya juga tidak akan bisa meningkatkan ekonomi bangsa ini dengan dalih pariwisata. Keuntungan hanya akan berpihak kepada para korporasi khususnya MNC yang memiliki hak siar untuk bisa menyiarkan lebih dari 130 negara bukan kepada negara. Jelas alasan pariwisata lagi-lagi hanya racun semata. Logisnya antara keuntungan dan kerugian pada kontes ini jelas lebih besar segi kerusakannya yang berdampak buruk terhadap generasi bangsa ini. Dilain sisi bangsa ini sedang sibuk mendidik generasi bangsa agar memiliki moral yang unggul namun aneh Negara justru memberikan izin menyelengarakan Miss World yang sejatinya turut andil dalam upaya merusak moral generasi bangsa ini.
Pemerintah seharusnya bisa memikirkan secara matang bahwa ajang ini memiliki balutan racun pahit dan mematikan, tidak sekedar membuka aurat namun adanya racun kampanye liberalisasi yang bisa mematikan aqidah umat. Jika pemerintah negeri ini cinta terhadap masa depan bangsa semestinya pemerintah segera melakukan tindakan tegas untuk membatalkan ajang miss world sebelum semuanya terlambat dan tentu akan mengundang murka Allah swt.
(Ditulis oleh : Hernani Sulistyaningsih Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia)
sumber : http://radaronline.co.id/2013/09/08/miss-world-racun-dunia/
Rabu, 31 Juli 2013
Hukum Memperjualbelikan kucing
------------------------------------------
Memperjualbelikan kucing hukumnya haram berdasarkan dalil hadits Nabi SAW dan kaidah fiqih (al-qawa’id al-kulliyah).
Dalil hadits Nabi SAW, diriwayatkan dari shahabat Jabir bin Abdillah RA bahwasanya Nabi SAW telah melarang memakan daging kucing dan melarang pula memakan harga kucing (nahaa [an-nabiyyu] ‘an akli al-hirrah wa ‘an akli tsamaniha) (Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, hadits shahih. Lihat Imam As-Suyuthi, Al-Jami’ Al-Shaghir, Juz II hal. 191).
Hadits Nabi SAW diatas menjadi dalil haramnya memakan daging kucing dan memperjualbelikan kucing. Jadi kita diharamkan memperdagangkan kucing sebagaimana kita diharamkan memakan daging kucing (Tentang haramnya memakan daging kucing lihat Asy-Syarbaini Al-Khathib, Al-Iqna’, Juz II hal. 273; Syaikh Zakariyya Al-Anshari, Fathul Wahhab, Juz II hal. 192).
Adapun dasar dari kaidah fiqih, adalah kaidah fiqih yang berbunyi:
“Kullu maa hurrimaa ‘ala al-’ibaad fabai’uhu haraam
(Segala sesuatu yang diharamkan atas hamba, maka memperjualbelikannya adalah haram juga)!”. (Lihat Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah, Juz II hal. 248).
KUCING!
Kaidah ini menjelaskan bahwa apa saja yang telah diharamkan syara’ (hukum syari’at Islam), maka diharamkan pula memperjualbelikannya. Baik sesuatu itu diharamkan memakannya (seperti daging babi, darah, bangkai, daging singa, daging elang, daging anjing), diharamkan meminumnya (seperti khamr / miras), diharamkan membuatnya (seperti patung atau gambar makhluk bernyawa), atau diharamkan pada segi-segi yang lainnya.
Ketika sudah jelas bahwa syara’ mengharamkan kita untuk memakan daging kucing, maka haram pula memperjualbelikan kucing berdasarkan kaidah fiqih tersebut.
Dengan demikian, jelaslah bahwa memperjualbelikan kucing hukumnya haram berdasarkan dalil hadits Nabi SAW dan kaidah fiqih tersebut!
Wallahu a’lam.
(Al-Ustadz Muhammad Shiddiq Al-Jawi).
TIPS MUSLIMAH FOTOGRAFER
Studi Kasus :
Ada seseorang yang hendak meng-upload foto ke blog ataupun facebooknya. Seringnya seseorang tersebut berhenti sejenak dan berpikir dan bertanya
"Foto ini nilai dakwahnya apa?", terbesit juga pada diri seseorang tersebut
"Yah, seringnya hanya untuk pengakuan: bahwa saya bisa memotret."
Apakah seorang fotografer senantiasa ada perasaan atau mungkin justru mengalami studi kasus demikian?
Bismillaah..
Allah swt sungguh menyayangi kita, sehingga dalam kehidupan kita di dunia ini oleh Allah telah memberikan potensi kehidupan untuk kita, potensi kehidupan itu diantaranya :
1. Akal
2. Hajatul 'udawiyah/Kebutuhan Hidup (Contoh : Lapar,haus, ngantuk, buang air besar, buang angin, dll)
3. Gharaiz (naluri-naluri) yang meliputi :
a. Gharizah Tadayyun/naluri mengkultuskan sesuatu (Contoh : Menyembah sesuatu, mengagungkan sesuatu)
b. Gharizah Nau'/Naluri melestarikan keturunan (Contoh : Suka dengan lawan jenis, cinta, penyayang, keibu-ibuan, kebapak-bapakan dll)
c. Gharizah Baqo'/Naluri eksistensi diri (Contoh : Ingin diakui keberadaannya)
Pada studi kasus diatas dapat kita analisa bahwa manusia telah Allah berikan naluri baqo' (eksisten diri) yang alamiahnya manusia "ingin disanjung, ingin dilihat, ingin bertahan, dan ingin diakui dan lain sebagainya". Perkara naluri baqo' ini jika kita tidak "pandai-pandai" mengendalikannya hal ini bisa menjadi "boomerang" bagi si empunya naluri baqo'. Berbeda bagi seseorang yang ia bisa dan mau menjadikan Islam sebagai tolok ukur dalam perbuatannya. Seseorang tersebut bisa mengendalikan sekaligus menundukkan kecenderungan gharizah baqo' miliknya dengan ketundukan iman Islam.
Sahabatku yang dirahmati Allah
Sapaan untuk studi kasus diatas, memang benar bahwa rumus kaidah amaliah atau rumus sebelum kita melakukan perbuatan adalah 3B [BERFIKIR+BERTUJUAN+BERBUAT]. Berfikir sebelum berbuat, dan sebelum berbuat harus memiliki tujuan yakni untuk menggapai keridhoan Allah swt. Semoga rumusan 3B diatas bisa menjadi pengunci kita di kala kita hendak melakukan segala aktivitas. Aamiin
Beberapa tips agar foto hasil jepretan kita tidak "meliarkan" naluri baqo' yang kita miliki adalah dengan
1. Lakukan 3B kaidah amaliah diatas [BERFIKIR+BERTUJUAN+BERBUAT]
2. Memberikan penjelasan pada foto hasil jepretan.
Saya yakin kita pasti akan menemukan ada sisi dimana hasil foto tersebut ada tanda-tanda dan bukti akan keagungan dan kebesaran Allah swt dan dari foto tersebut juga dapat membantu membukakan mata insan manusia akan bukti kuasa Allah swt dan sungguh betapa Maha Kayanya Allah.
3. Bisa ditambahkan dengan memberikan Ayat-ayat Allah (al Qur'an), Hadits, atau kata-kata mutiara, kisah inspiratif, dan lain sebagainya
4. Berikan ajakan pada akhir kata (pada keterangan foto) bisa dengan ajakan untuk senantiasa taqarub ilallah atau istiqomah dijalan dakwah Islam Kaffah.
5. Fahami bahwa momotretnya seorang fotografer bukanlah sembarangan memotret namun ada niatan yang lurus dalam rangka menggapai keridhoan Allah dan memotret untuk berdakwah, karena Dakwah adalah poros kehidupan kita.
6. Ending keterangannya bisa dengan mencantumkan opini semisal #Salam Melukis Cahaya Khilafah
Selamat mencoba
Oleh : UMF
Follow me >> http://pemikir-ideologis.blogspot.com/
Jika ada yang bermanfaat dari fans page silahkan dishare, semoga menjadi amal sholih bersama. aamiin jazakumullahu khairan katsiron
Ada seseorang yang hendak meng-upload foto ke blog ataupun facebooknya. Seringnya seseorang tersebut berhenti sejenak dan berpikir dan bertanya
"Foto ini nilai dakwahnya apa?", terbesit juga pada diri seseorang tersebut
"Yah, seringnya hanya untuk pengakuan: bahwa saya bisa memotret."
Apakah seorang fotografer senantiasa ada perasaan atau mungkin justru mengalami studi kasus demikian?
Bismillaah..
Allah swt sungguh menyayangi kita, sehingga dalam kehidupan kita di dunia ini oleh Allah telah memberikan potensi kehidupan untuk kita, potensi kehidupan itu diantaranya :
1. Akal
2. Hajatul 'udawiyah/Kebutuhan Hidup (Contoh : Lapar,haus, ngantuk, buang air besar, buang angin, dll)
3. Gharaiz (naluri-naluri) yang meliputi :
a. Gharizah Tadayyun/naluri mengkultuskan sesuatu (Contoh : Menyembah sesuatu, mengagungkan sesuatu)
b. Gharizah Nau'/Naluri melestarikan keturunan (Contoh : Suka dengan lawan jenis, cinta, penyayang, keibu-ibuan, kebapak-bapakan dll)
c. Gharizah Baqo'/Naluri eksistensi diri (Contoh : Ingin diakui keberadaannya)
Pada studi kasus diatas dapat kita analisa bahwa manusia telah Allah berikan naluri baqo' (eksisten diri) yang alamiahnya manusia "ingin disanjung, ingin dilihat, ingin bertahan, dan ingin diakui dan lain sebagainya". Perkara naluri baqo' ini jika kita tidak "pandai-pandai" mengendalikannya hal ini bisa menjadi "boomerang" bagi si empunya naluri baqo'. Berbeda bagi seseorang yang ia bisa dan mau menjadikan Islam sebagai tolok ukur dalam perbuatannya. Seseorang tersebut bisa mengendalikan sekaligus menundukkan kecenderungan gharizah baqo' miliknya dengan ketundukan iman Islam.
Sahabatku yang dirahmati Allah
Sapaan untuk studi kasus diatas, memang benar bahwa rumus kaidah amaliah atau rumus sebelum kita melakukan perbuatan adalah 3B [BERFIKIR+BERTUJUAN+BERBUAT]. Berfikir sebelum berbuat, dan sebelum berbuat harus memiliki tujuan yakni untuk menggapai keridhoan Allah swt. Semoga rumusan 3B diatas bisa menjadi pengunci kita di kala kita hendak melakukan segala aktivitas. Aamiin
Beberapa tips agar foto hasil jepretan kita tidak "meliarkan" naluri baqo' yang kita miliki adalah dengan
1. Lakukan 3B kaidah amaliah diatas [BERFIKIR+BERTUJUAN+BERBUAT]
2. Memberikan penjelasan pada foto hasil jepretan.
Saya yakin kita pasti akan menemukan ada sisi dimana hasil foto tersebut ada tanda-tanda dan bukti akan keagungan dan kebesaran Allah swt dan dari foto tersebut juga dapat membantu membukakan mata insan manusia akan bukti kuasa Allah swt dan sungguh betapa Maha Kayanya Allah.
3. Bisa ditambahkan dengan memberikan Ayat-ayat Allah (al Qur'an), Hadits, atau kata-kata mutiara, kisah inspiratif, dan lain sebagainya
4. Berikan ajakan pada akhir kata (pada keterangan foto) bisa dengan ajakan untuk senantiasa taqarub ilallah atau istiqomah dijalan dakwah Islam Kaffah.
5. Fahami bahwa momotretnya seorang fotografer bukanlah sembarangan memotret namun ada niatan yang lurus dalam rangka menggapai keridhoan Allah dan memotret untuk berdakwah, karena Dakwah adalah poros kehidupan kita.
6. Ending keterangannya bisa dengan mencantumkan opini semisal #Salam Melukis Cahaya Khilafah
Selamat mencoba
Oleh : UMF
Follow me >> http://pemikir-ideologis.blogspot.com/
Jika ada yang bermanfaat dari fans page silahkan dishare, semoga menjadi amal sholih bersama. aamiin jazakumullahu khairan katsiron
Kucing Tidak Najis
Dari Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ
“Kucing ini tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita. ” (HR. At Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ad Darimi, Ahmad, Malik. Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 173 mengatakan bahwa hadits ini shohih)
إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ
“Kucing ini tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita. ” (HR. At Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ad Darimi, Ahmad, Malik. Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 173 mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Jumat, 26 Juli 2013
INSPIRASI DAUN
Bismillaah…
فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Inilah kiranya yang bisa mewakili potret diatas, Allah swt senantiasa memberikan apa dibutuhkan oleh makhluk-Nya. Tak terkecuali pohon yang butuh akan kesegaran akan derasan rintik derai hujan.
Kesegaran yang senantiasa dirindukan oleh pohon ini, tak bisa terbayangkan apa jadinya jika hujan tidak kunjung datang
Tentulah sang pohon hanya akan terus bertahan menjalarkan akarnya untuk bisa hidup.
Dilain sisi, pohon pun juga membutuhkan energi dari sang matahari, maka benar “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Tidak perlu jauh-jauh untuk mensyukuri akan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita.
Dari apa yang kita pandang disekitar kita saja sudah bisa memunculkan rasa akan Maha Besar-Nya Allah
Tak perlu jauh pula dari sekitar kita, dari apa yang ada didalam diri kita saja sudah tiada taranya Allah berikan kenikmatan kepada kita.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Darah kita masih mengalir
Jantung kita masih berdetak
Nadi kita masih berdenyut
Nafas kita masih terhirup
Mata kita masih bisa melihat
Telinga kita masih bisa mendengar
Hati kita masih bisa merasakan
Tangan kita masih bisa meraba
Kaki kita masih bisa tegak berjalan
Jari kita masih bisa mengetik
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Cukuplah kepada Allah kita bersyukur tentang semuanya.
Semua yang senantiasa Allah berikan saat kita membutuhkannya. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.
Pancangkan keterikatan kita dengan hukum Allah, baru itu bersyukur namanya
#Salam Melukis Cahaya Khilafah..
Follow me : http://pemikir-ideologis.blogspot.com/
HUKUM_MENGEDIT_FOTO
Oleh:Ust M Shiddiq Al Jawi
Tanya :
Ustadz, bagaimana hukumnya mengedit foto?
Deni Junedi, Sleman
Jawab :
Sebelumnya perlu diterangkan dulu hukum memotret (mengambil foto dengan kamera). Para ulama kontemporer berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian ulama mengharamkannya karena dianggap sama dengan aktivitas mengambar dengan tangan, kecuali untuk foto yang sangat diperlukan (dharurah), seperti foto untuk identitas diri (KTP/paspor), untuk keperluan pendidikan, untuk mengungkap kejahatan, dan semisalnya. Yang berpendapat semacam ini misalnya Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aal Syaikh, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i, Syaikh M. Ali Ash-Shabuni, dan Syaikh Nashiruddin Al-Albani. (M. bin Ahmad bin Ali Washil, Ahkam At-Tashwir fi Al-Fiqh Al-Islami, hal. 232; Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i, Hukm Tashwir Dzawat Al-Arwah, hal. 70; Ali Ahmad Abdul 'Aal Thahthawi, Hukm At-Tashwir min Manzhur Islami, hal. 108-109).
Namun sebagian ulama lain membolehkannya dengan alasan hadits yang mengharamkan menggambar tak dapat diterapkan pada aktivitas memotret. Mereka ini misalnya Rasyid Ridha, Syaikh Ahmad Al-Khathib, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Najib Al-Muthi'i, Syaikh Mutawalli Sya'rawi, Syaikh Sayyid Sabiq, Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi, dan Syaikh Taqiyuddin Nabhani. (M. bin Ahmad bin Ali Washil, ibid., hal. 241; Taqiyuddin Nabhani, Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah, 2/354).
Pendapat yang rajih menurut kami adalah yang membolehkan sebab pendapat ini lebih cermat memahami fakta yang menjadi obyek hukum (manath). Menurut Taqiyuddin Nabhani, hadits yang melarang menggambar makhluk bernyawa tak dapat diterapkan untuk fakta memotret. Sebab orang yang memotret hanya sekadar memindahkan citra/bayangan dari fakta yang sudah ada ke dalam film melalui kamera, bukan menggambar suatu bentuk makhluk bernyawa dari ketiadaan. (Taqiyuddin Nabhani, ibid., 2/357)
Adapun mengedit foto suatu obyek yang bernyawa, misalnya mengedit foto wajah manusia dengan mengubah warna kulit, menghilangkan kerutan wajah, mengubah warna bola mata, dan semisalnya, hukumnya haram. Sebab hadits-hadits yang mengharamkan menggambar makhluk bernyawa dapat diberlakukan pada aktivitas mengedit foto. ('Atha` bin Khalil, Jawab Su`al, 21/09/2010).
Hadits-hadits tersebut antara lain sabda Nabi SAW,”Barangsiapa membuat suatu gambar/patung (makhluk bernyawa) maka sesungguhnya Allah akan menyiksanya hingga dia dapat meniupkan nyawa pada gambar/patung itu, padahal dia tak akan mampu meniupkannya selama-lamanya.” (HR Bukhari no 5963, dari Ibnu Abbas RA). Dalam hadits lain Nabi SAW bersabda, ”Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar/patung (makhluk bernyawa) akan disiksa pada Hari Kiamat, dikatakan kepada mereka,'Hidupkanlah apa yang telah kamu ciptakan.' (HR Bukhari no 5951, dari Ibnu 'Umar RA,).
Hadits-hadits ini menunjukkan haramnya membuat gambar atau patung makhluk bernyawa, sebab di dalamnya terdapat kecaman yang keras dari Allah SWT dalam bentuk perintah untuk meniupkan nyawa pada objek yang telah dibuat manusia. (Walid bin Rasyid As-Sa'idani, Hukm Tashwir al-Futughirafi, hal.5)
Hadits-hadits tersebut menurut Syaikh 'Atha` bin Khalil dapat diberlakukan pula untuk aktivitas mengedit foto, seperti mengubah warna kulit atau menghilangkan kerutan wajah, baik dilakukan dengan alat lukis yang digerakkan tangan, atau dilakukan melalui mouse pada komputer.
Maka selama aktivitas editing foto terjadi melalui perbuatan/tindakan manusia untuk meniru bentuk makhluk bernyawa, maka mengedit foto makhluk bernyawa hukumnya haram. Sebab hadits-hadits di atas dapat diberlakukan pula untuk aktivitas mengedit foto makhluk bernyawa. Wallahu a'lam.
Marak akhir-akhir ini
Akhir-akhir ini saya sering melihat "lumayan banyak" akhwat-akhwat memasang PP-nya [Photo Profile] dengan pose menggunakan kamera DSLR yang biasanya hasil foto dari pantulan jepretan cermin, atau hasil foto dari minta tolong difotokan temannya kemudian di upload dan jadikan PP.
Ada fenomena apakah gerangan, "kok" kemudian banyak yang menggunakan PP-nya seperti itu?
Apakah mereka "benar" adalah fotografer?
Apakah mereka hanya sekedar ngikut trend saja?
Apakah agar mereka biar bisa dibilang "keren"?
Hummm...kelak Dunialah yang akan menjawabnya
Sahabatku, hidup ini itu butuh karya nyata.
Bukan minta untuk dipuji, bukan pula agar ntuk disambangi. Namun karena dorongan konsekuensi keimanan hakiki, maka memotretlah untuk mendapatkan ridho Illahi. Insyallah demikian
>> Salam Melukis Cahaya Khilafah
Ada fenomena apakah gerangan, "kok" kemudian banyak yang menggunakan PP-nya seperti itu?
Apakah mereka "benar" adalah fotografer?
Apakah mereka hanya sekedar ngikut trend saja?
Apakah agar mereka biar bisa dibilang "keren"?
Hummm...kelak Dunialah yang akan menjawabnya
Sahabatku, hidup ini itu butuh karya nyata.
Bukan minta untuk dipuji, bukan pula agar ntuk disambangi. Namun karena dorongan konsekuensi keimanan hakiki, maka memotretlah untuk mendapatkan ridho Illahi. Insyallah demikian
>> Salam Melukis Cahaya Khilafah
Minggu, 14 Juli 2013
Mirisnya Dunia Fotografi
Oleh : Ukhtyan Muhibbah Firdaus
Bismillaah...
Begitu miris dan menyayat hati terasa, saat melihat begitu banyaknya grup dan komunitas fotografer menjadikan korban bidikannya adalah makhluk indah bernama perempuan.
Bagaimana tidak?
Hampir yang bisa dikatakan menarik itu adalah model-model perempuan dan disana perempuan dijadikan seperti barang yang dikomersialisasikan.
Jijik dan ini sungguh mengerikan, menjadi fotografer semestinya membuat mereka juga bisa melihat suatu fenomena dengan akal sehatnya. Akal yang Allah berikan berpotensi untuk membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.
Bukan lantaran mendapatkan income besar tanpa memang lagi segi keterikatannya dengan hukum Allah. Fatalnya hasil jepretannya justru menjadi jalan sarana penghantar kemaksiatan dan menghinakan martabat perempuan.
Bukankah Islam memiliki pengaturan dalam aspek kehidupan kita. Seorang muslim yang menjadi fotografer pun harusnya juga berfikir sebelum membidik, bukan malah lantas turut andil dalam eksploitasi perempuan.
Kusadari, memang saat ini Barat sudah terlalu kuat merasuk kedalam aliran darah umat muslim hingga kaum muslimsendiri menyetandarkan baik-buruk, menarik atau tidaknya sesuai cara pandang Barat. Barat memang menarik itu dari segi fisik perempuan, yang dia membuka aurat, berpose gaya erotis, dsb, nau'dzubillah
Sehingga jangan salah, jika moral negeri ini merosot karena peran dan andilnya fotografer dalam menyajikan gambar-gambar tak senonoh demikian. Maka Fotografer wajib ngaji Islam, agar tak berorientasi mencari materi belaka, harusnya selalu ada idrak sillah billah (kesadaran hubungannya dengan Allah) dalam menjalani aktivitasnya termasuk dalam hal potret memotret.
Salam Melukis Cahaya Khilafah
"Allahuakbar!" \(^_^)
Dibalik status "Allahuakbar!" \(^_^)
Bismillaah…
Sunyi senyap menghalau hari...
Sepoi angin meniup puing-puing dinding tipisnya kulit berpori...
Menyejukkan nafas serasa berbisik lirih terbukti...
Nyata bertasbih akan karunia Allah telah berikan untuk hari ini...
Pernahkah kita menginginkan sesuatu yang kemudian kita bisa menggapai sesuatu yang hendak kita miliki tersebut? Jawabannya tentulah pasti pernah. Fenomena yang mungkin dulu pernah teralami saat kita berusia belia saat waktu masih kecil. Dikala kita menginginkan punya tas baru, pingin sepatu sekolah baru atau tempat pensil dan buku-buku yang baru. Semuanya Allah berikan kepada kita. Keinginan semua tadi berangkat dari rasa pingin, rasa keinginan kita dan endingnya "amazing" kita bisa memiliki dan menggunakannya. Masya Allah…
Fenomena senada juga banyak dialami kebanyakan orang, maka tak jarang saat ini pun ketika kita hendak menginginkan sesuatu cukuplah berbekal rasa keoptimisan. Ya, “Pasti bisa!”, walhasil keoptimisan yang terus menghunjam benar-benar bisa menghantarkan diri kita mampu untuk menggapainya.
Peristiwa di atas sebenarnya juga aku alami, saat diri ini 'pingin sekali' memiliki kamera DSLR. Mungkin orang di sekitar atau yang kenal aku sudah merasa bosan atau bahkan muak mendengar celotahan lisan ini yang mengungkapkan kata berulang "DSLR-DSLR dan DSLR". Ketika bertemu dengan teman, menjabat tangannya dan adakalanya meminta kepada mereka untuk mengaamiinkan agar aku bisa memiliki DSLR. Di saat menulis juga demikian, hal yang di tulis adalah membicara DSLR dan meminta pula untuk didoakan, hingga yang membaca pun secara tidak langsung turut mendoakan keinginan kita.
Lisan dan tulisan, dua cara yang kuat untuk mengikatkan sebuah keoptimisan. Di saat orang menyeletuk,
“Mana bisa sih kamu memiliki DSLR? kerja aja juga belum, gimana bisa dapat uang buat beli DSLR?”
Dan mungkin di saat ada orang yang membatin ,
“Aiih..apa mungkin dia punya DSLR, kalau kerjaannya cuma ngomong ngoceh "DSLR-DSLR" mulu?”
Dan disaat orang-orang bilang,
"Sudahlah gak usah terlalu tinggi-tinggi punya keinginan! dapat itu tuh susah, susah, dan bla..bla..lalala..."
Jujur saja, di saat waktu aku pernah berceloteh pingin DSLR uang seratus ribu saja aku tak punya. Bahkan jika di minta "Plisss sisihkan saja uangmu lima ribu perhari" menyisihkan uang untuk menabung lima ribu saja dalam sehari aku belum bisa. Uang saku sehari hanya cukup untuk membeli bensin dan membeli makan siang saja. Terbayang bukan memang bukan perkara yang mudah untuk mengumpulkan uang seratus ribu karena bagiku itu hal yang sulit, apalagi sampai bisa mengumpulkan uang lebih dari satu juta mengingat harga DSLR yang lebih dari 2-3 jutaan. Bagi segelintir orang melihat kondisi kantong yang seperti ini, jelas bisa jadi akan menciutkan keinginannya, apalagi pingin memiliki DSLR. Tapi, bagiku kunci rasa 'pingin; itu ada pada “KEIMANAN”. Cukuplah kita tawakal menggantungkan setiap urusan kepada Allah bahwa “rizki itu tak akan kemana”, percayalah!
Menginginkan dan bisa memiliki DSLR memang bukan sebuah janji, namun melalui ketawakalan akan janji Allah tentang rizki yang sudah Allah jamin, tidak ada salahnya jika diri ini menginginkan DSLR, terlebih misi memiliki DSLR adalah 'photografy for Da'wah'.
Hal yang mungkin di kata orang 'punya DSLR itu mustahil', sejatinya itu adalah perkara yang dekat dengan kita ketika kita mau bertawakal kepada Allah dan selalu optimis untuk bisa memilikinya.
Waktu begitu cepat bergulirnya, hingga tiada yang menyangka, dan rizki Allah pun datang secara tiba-tiba.
Kala itu malam sabtu, adikku yang berada di seberang pulau sana memberikan kabar dengan inti redaksinya begini,
“Mbak jadi pingin beli kamera?”
Ku sambut seruannya dengan mengiyakannya bergaya ala 'orang dingin' menahan kehebohan namun dalam hati sesungguhnya sampai sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tak lama kemudian dia pun membalas via sms,
“Besuk uangnya ku transfer Mbak”.
"Deggg!" jatung ini rasanya semakin kuat memompa aliran darah..Masya Allah mimpi apa semalam, ini benar-benar Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu, dan sungguh tiada menyangka secepat itu pula Allah tandakan kepadaku untuk memiliki DSLR, dan benar "rizki itu tak akan kemana".
Karena aku tak memiliki ATM, dia pun menyarankanku untuk meminjam ATM milik Bunda. Waktu kian cepat berlalu, hari yang dijanjikan untuk menransfer pun tiba saat malam minggu. Malam minggu ini aku ada agenda Mabit (Malam Bina Takwa), maka aku pun izin kepada Bapak dan Ibunda untuk bermalam di rumah binaan (Rumbin). "Alhamdulillah, mereka mengizinkanku semoga Allah membalas kebaikan mereka berdua dengan sebaik-baik balasan. Aamiin. Tiada terlupa aku pun meminta izin meminjam ATM milik Bunda.
Sabtu pagi ini, aku menargetkan nanti malam bada' magrib aku berazzam akan membeli DSLR. Maka sabtu pagi itu juga aku direkomendasikan adik untuk terlebih dulu survei-survei ke beberapa toko tempat penjual kamera. Ternyata antara toko satu dengan toko yang lainnya yang saling berdekatan sudah memiliki harga yang berbeda. Ada lima tempat yang berhasil ku sasar pagi itu. Menanyakan akan tipe-tipe, kualitas dan budget harga tentunya. Usai memutari kota Jogja, saatnya berangkat mengikuti agenda Mabit.
Siang berlalu, sore berlalu, aku pun ingat Adik sore ini menjanjikan akan menransfer uang. Ku sms dia,
“Dik jadi ditransfer kah?”, mungkin hati ini sudah tiada sabar. Tak lama kemudian akhirnya dia membalas smsku,
“Belum Mbak, ATM di sini lagi pada eror” balasnya.
“Oh yaudah Dik” balasku, ini sedang menguji kesabaran.
Aku membatin, mungkin harus nunggu beberapa jam lagi. Aku pun berusaha sabat akan mencoba menghubungi dia nanti, mungkin saja Adik bisa nransfernya nanti malam.
Malam telah tiba, artinya target berazzam membeli DSLR bada' magrib terlewatkan sudah. Adanya tetap sabar dan terus jalin ketawakalan kepada Allah, rasa bergantung itu hanya kepada Allah, Allah Yang Maha Berkuasa.
Malam hari mulai lagi ku sapa si Adik,
“Dik, sudah jadi ditransfer”. Jawabnya,
“Di sini Ujan Mbak, ATM eror”, singkatnya.
Ya yang pada intinya dia tidak jadi mentransfer uang hari itu.
“Oh yaudah dik, jaga kesehatan ya”. Balasku dengan perasaan yang harus mencoba tetap bersabar.
Malam pun tiba, sesi acara Mabit adalah CDC (Cerita dengan Cinta), ini seru acaranya.
Malam semakin larut, kami pun menarik selimut tidur, dan bersiap menyambut hari esok.
Mentari pun hadir seperti mengintip malu-malu di ufuk Timur sana, kehadirannya menghangatkan buminya Allah.
Pagi hari sejatinya selalu kabar gembira karena Allah selalu memberikan bukti akan “Rizki itu tak akan kemana”.
Ahad pagi tersebut Adikku berkabar,
“Sudah ku transfer Mbak”.
Pekikan takbir...."Takbir! Allahuakbar!"
"Benarkah???"
"Adik seriuskah???"
Maha besar Allah yang menjamin rizki bagi setiap hamba-hamba-Nya. Ucapan takbir itulah yang bisa mewakili semua ini.
Sekitar pukul 08.00 aku mengawali menyusuri toko kamera yang kemarin sempat ku survei. Bisa bertepok jidat ternyata pagi ini tak ada satu pun toko kamera yang buka. Aku pun berfikir, “Oh iya, ini kan hari minggu”. Aku pun membalikkan arah motor dan kembali menuju rumbin tempat mabit kami semalam. Segeralah berkemas seraya mengambil leptop karena hari ini ada acara Aksi Tarhib (menyambut) Ramadhan. Alhamdulillah nikmat dan senang rasanya bisa bertemu dengan sahabat muslimah lainnya bisa bersama-sama menyambut Ramadhan dengan riang gembira.
Usai acara aksi, aku berjalan melaju kembali ke Rumbin, karena siang ini harus bertemu dengan adik angkatan yang mereka punya semangat mengkaji Islam yang Wow..Masya Allah. Semoga Adik-adik bisa istiqomah mengkaji Islam yaa. Aamiin
Sore harinya aku kembali mengendakan mendatangi toko kamera. Aku susuri lagi, ternyata toko yang kemarin sempat ku survei masih juga tutup. Beranjak ke toko kamera yang lainnya, "Alhamdulillah" sudah ada yang buka. Ku belok kanan memutar arah dan mencari ATM terdekat. Mencari ATM pun ternyata butuh mengenali medan juga, akhirnya muter-muter jalan jogja untuk mencari ATM, akhirnya ketemu juga dengan ATM yang dimaksud. Masuk ke ruang ATM, mengeluarkan card, memasukan card dan memencet empat digit password. Singkat cerita, endingnya aku hanya tidak bisa mengambil semua uang yang ditransferkan karena ATM hanya bisa maksimal empat kali pengambilan.
Ya sudah, langsung saja cabut menuju toko kamera. Di sapalah di sana dengan ramah oleh mas-mas penjaga toko. Mas penjaga tokonya mengeluarkan Kamera DSLR D5100, mulai dibukakan di dalam lemari kaca dan D5100 dikeluarkan. Dibukalah plastik pelindungnya, mulai dipasang baterai dan memory cardnya. “Silahkan kalau mau Mbak coba dulu”, kata penjaga toko itu.
“Oh iya boleh”. Rasanya 'Alhamdulilah' DSLR berhasil terpegang di kedua tangan ini.
Satu kata yang bisa mewakili terwujudnya celotehan akan keoptimisan memiliki DSLR hanya dengan takbir, “Allahuakbar! Allah Maha Besar, rizki itu tiada yang menduga. Melalui wasilah (sarana) Adiklah rizki itu sebagai perantaranya. Yang jelas Rizki itu memang sudah Allah tetapkan kepada setiap makhluk ciptaan-Nya.
Mendapatkan amanah DSLR ini adalah pinjaman dari AllahTa'ala, tiada yang perlu dibanggakan cukuplah Allah yang kita puji. Bisa memiliki DSLR pertanda kita bisa menjagai amanah tersebut. Semoga amanah memiliki DSLR ini bisa dijalankan dengan sebaik-baiknya. Aamiin, Bismillaah…
Alhamdulillah, Subhanallah, Allahuakbar, terlantun shalawat kepada Rasulullah saw. Teruntai syukron wa jazakumullahu khairan katsiron kepada Ibun, Bapak, my lovely brother, kepada sahabat-sahabat yang pernah meng”aamiin”kan doa saya. Betul Allah kini telah mengabulkan doa-doa sahabat-sahabat semuanya.
Kepada Mbak Tika, Mbak Ani, Mbak Ryang, Mbak Mitri, Mbak Puspita, Mbak Erie, Mbak Ulin, Dik Nila, Kak Novita M Noer, Kak Erlida, Dik Rizka, Mbak Ririn, Dik hani, Dik Ina, Ukhti Niken, Ukhti Mut, dik Dini, Kak Jum, Dik Umi Rahayu, Dik Imas, Dik Mila, Dik Rahma, Dik Kania, dik Ayhu Asri, Ukhti Lastri, Dik Rike, Mbak Lida, Dik Ulfa, Ummi Nurlela, Bu Unce, Kak Andrealica N, Khola Eres, Kak Rindy, Dik Annisa, Kak Artika, Kak Citra, Kak Meyra, Dik Gadis, Member Grup Pelukis Cahaya Khilafah, Grup Komunitas Belajar Nulis yang mendoakan dan banyak lagi yang satu persatu tidak bisa saya sebutkan saking banyaknya yang mendoakan, Alhamdulilah tsumma Alhamdulillah. Tanpa kekuatan doa dari semuanya, mungkin bisa jadi DSLR ini belum menjadi amanah pribadi saya.
Yang sudah menyempatkan membaca, semoga menginspirasi dan ikut berpekik takbir.
Allahuakbar! \(^__^)
Mari gabung juga ke page Komunitas Muslimah Fotografi Indonesia :)
Bismillaah…
Sunyi senyap menghalau hari...
Sepoi angin meniup puing-puing dinding tipisnya kulit berpori...
Menyejukkan nafas serasa berbisik lirih terbukti...
Nyata bertasbih akan karunia Allah telah berikan untuk hari ini...
Pernahkah kita menginginkan sesuatu yang kemudian kita bisa menggapai sesuatu yang hendak kita miliki tersebut? Jawabannya tentulah pasti pernah. Fenomena yang mungkin dulu pernah teralami saat kita berusia belia saat waktu masih kecil. Dikala kita menginginkan punya tas baru, pingin sepatu sekolah baru atau tempat pensil dan buku-buku yang baru. Semuanya Allah berikan kepada kita. Keinginan semua tadi berangkat dari rasa pingin, rasa keinginan kita dan endingnya "amazing" kita bisa memiliki dan menggunakannya. Masya Allah…
Fenomena senada juga banyak dialami kebanyakan orang, maka tak jarang saat ini pun ketika kita hendak menginginkan sesuatu cukuplah berbekal rasa keoptimisan. Ya, “Pasti bisa!”, walhasil keoptimisan yang terus menghunjam benar-benar bisa menghantarkan diri kita mampu untuk menggapainya.
Peristiwa di atas sebenarnya juga aku alami, saat diri ini 'pingin sekali' memiliki kamera DSLR. Mungkin orang di sekitar atau yang kenal aku sudah merasa bosan atau bahkan muak mendengar celotahan lisan ini yang mengungkapkan kata berulang "DSLR-DSLR dan DSLR". Ketika bertemu dengan teman, menjabat tangannya dan adakalanya meminta kepada mereka untuk mengaamiinkan agar aku bisa memiliki DSLR. Di saat menulis juga demikian, hal yang di tulis adalah membicara DSLR dan meminta pula untuk didoakan, hingga yang membaca pun secara tidak langsung turut mendoakan keinginan kita.
Lisan dan tulisan, dua cara yang kuat untuk mengikatkan sebuah keoptimisan. Di saat orang menyeletuk,
“Mana bisa sih kamu memiliki DSLR? kerja aja juga belum, gimana bisa dapat uang buat beli DSLR?”
Dan mungkin di saat ada orang yang membatin ,
“Aiih..apa mungkin dia punya DSLR, kalau kerjaannya cuma ngomong ngoceh "DSLR-DSLR" mulu?”
Dan disaat orang-orang bilang,
"Sudahlah gak usah terlalu tinggi-tinggi punya keinginan! dapat itu tuh susah, susah, dan bla..bla..lalala..."
Jujur saja, di saat waktu aku pernah berceloteh pingin DSLR uang seratus ribu saja aku tak punya. Bahkan jika di minta "Plisss sisihkan saja uangmu lima ribu perhari" menyisihkan uang untuk menabung lima ribu saja dalam sehari aku belum bisa. Uang saku sehari hanya cukup untuk membeli bensin dan membeli makan siang saja. Terbayang bukan memang bukan perkara yang mudah untuk mengumpulkan uang seratus ribu karena bagiku itu hal yang sulit, apalagi sampai bisa mengumpulkan uang lebih dari satu juta mengingat harga DSLR yang lebih dari 2-3 jutaan. Bagi segelintir orang melihat kondisi kantong yang seperti ini, jelas bisa jadi akan menciutkan keinginannya, apalagi pingin memiliki DSLR. Tapi, bagiku kunci rasa 'pingin; itu ada pada “KEIMANAN”. Cukuplah kita tawakal menggantungkan setiap urusan kepada Allah bahwa “rizki itu tak akan kemana”, percayalah!
Menginginkan dan bisa memiliki DSLR memang bukan sebuah janji, namun melalui ketawakalan akan janji Allah tentang rizki yang sudah Allah jamin, tidak ada salahnya jika diri ini menginginkan DSLR, terlebih misi memiliki DSLR adalah 'photografy for Da'wah'.
Hal yang mungkin di kata orang 'punya DSLR itu mustahil', sejatinya itu adalah perkara yang dekat dengan kita ketika kita mau bertawakal kepada Allah dan selalu optimis untuk bisa memilikinya.
Waktu begitu cepat bergulirnya, hingga tiada yang menyangka, dan rizki Allah pun datang secara tiba-tiba.
Kala itu malam sabtu, adikku yang berada di seberang pulau sana memberikan kabar dengan inti redaksinya begini,
“Mbak jadi pingin beli kamera?”
Ku sambut seruannya dengan mengiyakannya bergaya ala 'orang dingin' menahan kehebohan namun dalam hati sesungguhnya sampai sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tak lama kemudian dia pun membalas via sms,
“Besuk uangnya ku transfer Mbak”.
"Deggg!" jatung ini rasanya semakin kuat memompa aliran darah..Masya Allah mimpi apa semalam, ini benar-benar Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu, dan sungguh tiada menyangka secepat itu pula Allah tandakan kepadaku untuk memiliki DSLR, dan benar "rizki itu tak akan kemana".
Karena aku tak memiliki ATM, dia pun menyarankanku untuk meminjam ATM milik Bunda. Waktu kian cepat berlalu, hari yang dijanjikan untuk menransfer pun tiba saat malam minggu. Malam minggu ini aku ada agenda Mabit (Malam Bina Takwa), maka aku pun izin kepada Bapak dan Ibunda untuk bermalam di rumah binaan (Rumbin). "Alhamdulillah, mereka mengizinkanku semoga Allah membalas kebaikan mereka berdua dengan sebaik-baik balasan. Aamiin. Tiada terlupa aku pun meminta izin meminjam ATM milik Bunda.
Sabtu pagi ini, aku menargetkan nanti malam bada' magrib aku berazzam akan membeli DSLR. Maka sabtu pagi itu juga aku direkomendasikan adik untuk terlebih dulu survei-survei ke beberapa toko tempat penjual kamera. Ternyata antara toko satu dengan toko yang lainnya yang saling berdekatan sudah memiliki harga yang berbeda. Ada lima tempat yang berhasil ku sasar pagi itu. Menanyakan akan tipe-tipe, kualitas dan budget harga tentunya. Usai memutari kota Jogja, saatnya berangkat mengikuti agenda Mabit.
Siang berlalu, sore berlalu, aku pun ingat Adik sore ini menjanjikan akan menransfer uang. Ku sms dia,
“Dik jadi ditransfer kah?”, mungkin hati ini sudah tiada sabar. Tak lama kemudian akhirnya dia membalas smsku,
“Belum Mbak, ATM di sini lagi pada eror” balasnya.
“Oh yaudah Dik” balasku, ini sedang menguji kesabaran.
Aku membatin, mungkin harus nunggu beberapa jam lagi. Aku pun berusaha sabat akan mencoba menghubungi dia nanti, mungkin saja Adik bisa nransfernya nanti malam.
Malam telah tiba, artinya target berazzam membeli DSLR bada' magrib terlewatkan sudah. Adanya tetap sabar dan terus jalin ketawakalan kepada Allah, rasa bergantung itu hanya kepada Allah, Allah Yang Maha Berkuasa.
Malam hari mulai lagi ku sapa si Adik,
“Dik, sudah jadi ditransfer”. Jawabnya,
“Di sini Ujan Mbak, ATM eror”, singkatnya.
Ya yang pada intinya dia tidak jadi mentransfer uang hari itu.
“Oh yaudah dik, jaga kesehatan ya”. Balasku dengan perasaan yang harus mencoba tetap bersabar.
Malam pun tiba, sesi acara Mabit adalah CDC (Cerita dengan Cinta), ini seru acaranya.
Malam semakin larut, kami pun menarik selimut tidur, dan bersiap menyambut hari esok.
Mentari pun hadir seperti mengintip malu-malu di ufuk Timur sana, kehadirannya menghangatkan buminya Allah.
Pagi hari sejatinya selalu kabar gembira karena Allah selalu memberikan bukti akan “Rizki itu tak akan kemana”.
Ahad pagi tersebut Adikku berkabar,
“Sudah ku transfer Mbak”.
Pekikan takbir...."Takbir! Allahuakbar!"
"Benarkah???"
"Adik seriuskah???"
Maha besar Allah yang menjamin rizki bagi setiap hamba-hamba-Nya. Ucapan takbir itulah yang bisa mewakili semua ini.
Sekitar pukul 08.00 aku mengawali menyusuri toko kamera yang kemarin sempat ku survei. Bisa bertepok jidat ternyata pagi ini tak ada satu pun toko kamera yang buka. Aku pun berfikir, “Oh iya, ini kan hari minggu”. Aku pun membalikkan arah motor dan kembali menuju rumbin tempat mabit kami semalam. Segeralah berkemas seraya mengambil leptop karena hari ini ada acara Aksi Tarhib (menyambut) Ramadhan. Alhamdulillah nikmat dan senang rasanya bisa bertemu dengan sahabat muslimah lainnya bisa bersama-sama menyambut Ramadhan dengan riang gembira.
Usai acara aksi, aku berjalan melaju kembali ke Rumbin, karena siang ini harus bertemu dengan adik angkatan yang mereka punya semangat mengkaji Islam yang Wow..Masya Allah. Semoga Adik-adik bisa istiqomah mengkaji Islam yaa. Aamiin
Sore harinya aku kembali mengendakan mendatangi toko kamera. Aku susuri lagi, ternyata toko yang kemarin sempat ku survei masih juga tutup. Beranjak ke toko kamera yang lainnya, "Alhamdulillah" sudah ada yang buka. Ku belok kanan memutar arah dan mencari ATM terdekat. Mencari ATM pun ternyata butuh mengenali medan juga, akhirnya muter-muter jalan jogja untuk mencari ATM, akhirnya ketemu juga dengan ATM yang dimaksud. Masuk ke ruang ATM, mengeluarkan card, memasukan card dan memencet empat digit password. Singkat cerita, endingnya aku hanya tidak bisa mengambil semua uang yang ditransferkan karena ATM hanya bisa maksimal empat kali pengambilan.
Ya sudah, langsung saja cabut menuju toko kamera. Di sapalah di sana dengan ramah oleh mas-mas penjaga toko. Mas penjaga tokonya mengeluarkan Kamera DSLR D5100, mulai dibukakan di dalam lemari kaca dan D5100 dikeluarkan. Dibukalah plastik pelindungnya, mulai dipasang baterai dan memory cardnya. “Silahkan kalau mau Mbak coba dulu”, kata penjaga toko itu.
“Oh iya boleh”. Rasanya 'Alhamdulilah' DSLR berhasil terpegang di kedua tangan ini.
Satu kata yang bisa mewakili terwujudnya celotehan akan keoptimisan memiliki DSLR hanya dengan takbir, “Allahuakbar! Allah Maha Besar, rizki itu tiada yang menduga. Melalui wasilah (sarana) Adiklah rizki itu sebagai perantaranya. Yang jelas Rizki itu memang sudah Allah tetapkan kepada setiap makhluk ciptaan-Nya.
Mendapatkan amanah DSLR ini adalah pinjaman dari AllahTa'ala, tiada yang perlu dibanggakan cukuplah Allah yang kita puji. Bisa memiliki DSLR pertanda kita bisa menjagai amanah tersebut. Semoga amanah memiliki DSLR ini bisa dijalankan dengan sebaik-baiknya. Aamiin, Bismillaah…
Alhamdulillah, Subhanallah, Allahuakbar, terlantun shalawat kepada Rasulullah saw. Teruntai syukron wa jazakumullahu khairan katsiron kepada Ibun, Bapak, my lovely brother, kepada sahabat-sahabat yang pernah meng”aamiin”kan doa saya. Betul Allah kini telah mengabulkan doa-doa sahabat-sahabat semuanya.
Kepada Mbak Tika, Mbak Ani, Mbak Ryang, Mbak Mitri, Mbak Puspita, Mbak Erie, Mbak Ulin, Dik Nila, Kak Novita M Noer, Kak Erlida, Dik Rizka, Mbak Ririn, Dik hani, Dik Ina, Ukhti Niken, Ukhti Mut, dik Dini, Kak Jum, Dik Umi Rahayu, Dik Imas, Dik Mila, Dik Rahma, Dik Kania, dik Ayhu Asri, Ukhti Lastri, Dik Rike, Mbak Lida, Dik Ulfa, Ummi Nurlela, Bu Unce, Kak Andrealica N, Khola Eres, Kak Rindy, Dik Annisa, Kak Artika, Kak Citra, Kak Meyra, Dik Gadis, Member Grup Pelukis Cahaya Khilafah, Grup Komunitas Belajar Nulis yang mendoakan dan banyak lagi yang satu persatu tidak bisa saya sebutkan saking banyaknya yang mendoakan, Alhamdulilah tsumma Alhamdulillah. Tanpa kekuatan doa dari semuanya, mungkin bisa jadi DSLR ini belum menjadi amanah pribadi saya.
Yang sudah menyempatkan membaca, semoga menginspirasi dan ikut berpekik takbir.
Allahuakbar! \(^__^)
Mari gabung juga ke page Komunitas Muslimah Fotografi Indonesia :)
Sabar, Nrimo & Ikhlas
Bismillaah...
Adakah yang bisa membaca gambar diatas?
Tepat sekali, disana terdapat tulisan "Sabar. Nrimo & Ikhlas".
Sebuah rangkaian kata yang memiliki makna dalam
Ada iba, ada rasa kasian
Namun, inilaf fakta akan salah satu fenomena yang terjadi di dalam negeri
Negeri yang elok akan sumber daya alamnya
Negeri yang kaya akan kekayaan atas dan dalam buminya
Ada warga yang berprofesi sebagai pemulung barang bekas
Pagi-pagi sudah mencari barang bekas untuk di jual
Ada segi lain yang bisa kita pelajari dari seorang pemulung
Ia rajin bekerja, tanpa rasa malu untuk memenuhi nafkah keluarganya
Semangat sabar, nrimo dan ikhlas selalu berusaha melekat pada aktivitasnya
Ku bisa pastikan jika negara ini mampu mengelola Sumber daya alam dengan baik
Pasti tak akan ada pekerjaan yang seperti itu.
Adakah yang bisa membaca gambar diatas?
Tepat sekali, disana terdapat tulisan "Sabar. Nrimo & Ikhlas".
Sebuah rangkaian kata yang memiliki makna dalam
Ada iba, ada rasa kasian
Namun, inilaf fakta akan salah satu fenomena yang terjadi di dalam negeri
Negeri yang elok akan sumber daya alamnya
Negeri yang kaya akan kekayaan atas dan dalam buminya
Ada warga yang berprofesi sebagai pemulung barang bekas
Pagi-pagi sudah mencari barang bekas untuk di jual
Ada segi lain yang bisa kita pelajari dari seorang pemulung
Ia rajin bekerja, tanpa rasa malu untuk memenuhi nafkah keluarganya
Semangat sabar, nrimo dan ikhlas selalu berusaha melekat pada aktivitasnya
Ku bisa pastikan jika negara ini mampu mengelola Sumber daya alam dengan baik
Pasti tak akan ada pekerjaan yang seperti itu.
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=154332948089911&set=a.154332748089931.1073741829.128677780655428&type=1&relevant_count=1
Antara DSLR dan JANJI
Dari hal yang tidak dijanjikan memiliki DSLR saja bisa terpenuhi, apalagi jelas bisyarah Rasulullah yang sudah Allah janjikan. Benar, sesungguhnya janji Allah sangat dekat jarak pemenuhannya bagi orang-orang yang yakin.
Panji Rasul
Bismillaah...
Panji ini adalah panji yang Rasulullah saw dan para sahabat gunakan untuk membela Islam
Panji ini bukanlah milik satu kelompok, namun panji ini milik semua umat muslim
Bagaimana kita bisa melayakkan diri menjadi sebagai sebaik-baik hamba?
Cukup dengan menjadikan panji ini sebagai panji penaung perjuangan hidup kita
Mungkin kita pun mengenal akan kisah para sahabat yang berjuang memegang panji Rasulullah
Hingga mereka pun mengorbankan nyawanya untuk mati syahid membela Islam Kaffah
Semoga kita pun bisa demikian. Aamiin
>> Salam Melukis Cahaya Khilafah
Panji ini adalah panji yang Rasulullah saw dan para sahabat gunakan untuk membela Islam
Panji ini bukanlah milik satu kelompok, namun panji ini milik semua umat muslim
Bagaimana kita bisa melayakkan diri menjadi sebagai sebaik-baik hamba?
Cukup dengan menjadikan panji ini sebagai panji penaung perjuangan hidup kita
Mungkin kita pun mengenal akan kisah para sahabat yang berjuang memegang panji Rasulullah
Hingga mereka pun mengorbankan nyawanya untuk mati syahid membela Islam Kaffah
Semoga kita pun bisa demikian. Aamiin
>> Salam Melukis Cahaya Khilafah
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=153207811535758&set=a.145769205612952.1073741828.128677780655428&type=1&relevant_count=1
Mengenal Dunia Fotografi
INSPIRASI MUSLIMAH FOTOGRAFER
------------------------------ -------------------
Mari Mengenal Dunia Fotografi
Sering sekali kita secara singkat mengetahui akan makna Fotografer. Ya, tepat sekali yaitu orang yang memotret dengan alat kamera. Namun, perlu kita ketahui bahwa fotografer ternyata bukanlah sembarangan orang yang sekedar bisa memotret semata, namun harus memiliki teknik agar dapat menghasilkan gambar yang bagus. Dalam situs id.wikipedia.org didefinisikan fotografer atau juru foto (bahasa Inggris: photographer) adalah orang-orang yang membuat gambar dengan cara menangkap cahaya dari subyek gambar dengan kamera maupun peralatan fotografi lainnya, dan umumnya memikirkan seni dan teknik untuk menghasilkan foto yang lebih bagus serta berusaha mengembangkan ilmunya.
Maka menjadi fotografer itu, minimal sedang belajar tentang bagaimana memfungsikan fitur-fitur yang ada dalam kamera, atau settingan dalam menangkap gambar dan teknik memotret. Semakin banyak kita belajar maka semakin banyak ilmu yang dapat kita tuai.
Tahukan anda, darimana asal kata Fotografi?
Fotografi (dari bahasa Inggris: photography, yang berasal dari kata Yunani yaitu "photos" : Cahaya dan "Grafo" : Melukis/menulis.) adalah proses melukis/menulis dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.
Prinsip fotografi adalah memokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghailkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan (selanjutnya disebut lensa).
Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan mengubah kombinasi ISO/ASA (ISO Speed), diafragma (Aperture), dan kecepatan rana (speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma & Speed disebut sebagai pajanan (exposure). Sumber : id.wikipedia.org
Saya jadi merasa menemukan puzzle yang hilang, saat mencoba mengaitkan disetiap ending keterangan gambar foto/inspirasi berbagi ilmu foto/kepenulisan dengan kalimat "Salam Melukis Cahaya Khilafah "
Salam yang memberikan makna tersirat bahwa hasil foto yang ditangkap menjadi perekam fenomena antara rantai satu dengan rantai satu lainnya yang sedang berjalan mewujudkan kembali Khilafah Islamiyyah. Insyallah demikian.
Bismillaah..mari memotret untuk berdakwah
>> Salam Melukis Cahaya Khilafah
------------------------------
Mari Mengenal Dunia Fotografi
Sering sekali kita secara singkat mengetahui akan makna Fotografer. Ya, tepat sekali yaitu orang yang memotret dengan alat kamera. Namun, perlu kita ketahui bahwa fotografer ternyata bukanlah sembarangan orang yang sekedar bisa memotret semata, namun harus memiliki teknik agar dapat menghasilkan gambar yang bagus. Dalam situs id.wikipedia.org didefinisikan fotografer atau juru foto (bahasa Inggris: photographer) adalah orang-orang yang membuat gambar dengan cara menangkap cahaya dari subyek gambar dengan kamera maupun peralatan fotografi lainnya, dan umumnya memikirkan seni dan teknik untuk menghasilkan foto yang lebih bagus serta berusaha mengembangkan ilmunya.
Maka menjadi fotografer itu, minimal sedang belajar tentang bagaimana memfungsikan fitur-fitur yang ada dalam kamera, atau settingan dalam menangkap gambar dan teknik memotret. Semakin banyak kita belajar maka semakin banyak ilmu yang dapat kita tuai.
Tahukan anda, darimana asal kata Fotografi?
Fotografi (dari bahasa Inggris: photography, yang berasal dari kata Yunani yaitu "photos" : Cahaya dan "Grafo" : Melukis/menulis.) adalah proses melukis/menulis dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.
Prinsip fotografi adalah memokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghailkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan (selanjutnya disebut lensa).
Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan mengubah kombinasi ISO/ASA (ISO Speed), diafragma (Aperture), dan kecepatan rana (speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma & Speed disebut sebagai pajanan (exposure). Sumber : id.wikipedia.org
Saya jadi merasa menemukan puzzle yang hilang, saat mencoba mengaitkan disetiap ending keterangan gambar foto/inspirasi berbagi ilmu foto/kepenulisan dengan kalimat "Salam Melukis Cahaya Khilafah "
Salam yang memberikan makna tersirat bahwa hasil foto yang ditangkap menjadi perekam fenomena antara rantai satu dengan rantai satu lainnya yang sedang berjalan mewujudkan kembali Khilafah Islamiyyah. Insyallah demikian.
Bismillaah..mari memotret untuk berdakwah
>> Salam Melukis Cahaya Khilafah
Senin, 01 Juli 2013
Berkaryalah
INSPIRASI MUSLIMAH FOTOGRAFER
=========================
Saya belum punya fasilitas yang memadai, apa benar saya bisa berkarya?
Anda tidak harus memiliki fasilitas dalam artian menunggu memiliki Leptop/komputer terlebih dahulu, jika anda ingin menjadi penulis!
Cukuplah gunakan sarana yang anda miliki, semisal buku, kertas, pensil atau bulpoint
Anda tidak harus memiliki kamera DSLR D5100 terlebih dahulu, jika anda ingin menjadi fotografer!
Cukuplah gunakan sarana yang sudah anda miliki, semisal dengan kamera hp, atau pinjam kamera teman
Anda tidak harus memiliki buku-buku Islam yang banyak terlebih dahulu, jika anda harus berbagi ilmu untuk mendakwahkan Islam!
Cukuplah sampaikan apa yang sudah anda fahami, namun juga tidak mencukupkan memperbaiki diri artinya selalu ada keistiqomahan mengkaji Islam, mengamalkannya serta mendakwahkannya kepada yang lainnya
Maka, kendala apa lagi yang membuat anda tidak bisa berkarya?
Jawabannya adalah ketidakmauan diri anda sendiri untuk berkarya.
#Salam Melukis Cahaya #Khilafah :)
=========================
Saya belum punya fasilitas yang memadai, apa benar saya bisa berkarya?
Anda tidak harus memiliki fasilitas dalam artian menunggu memiliki Leptop/komputer terlebih dahulu, jika anda ingin menjadi penulis!
Cukuplah gunakan sarana yang anda miliki, semisal buku, kertas, pensil atau bulpoint
Anda tidak harus memiliki kamera DSLR D5100 terlebih dahulu, jika anda ingin menjadi fotografer!
Cukuplah gunakan sarana yang sudah anda miliki, semisal dengan kamera hp, atau pinjam kamera teman
Anda tidak harus memiliki buku-buku Islam yang banyak terlebih dahulu, jika anda harus berbagi ilmu untuk mendakwahkan Islam!
Cukuplah sampaikan apa yang sudah anda fahami, namun juga tidak mencukupkan memperbaiki diri artinya selalu ada keistiqomahan mengkaji Islam, mengamalkannya serta mendakwahkannya kepada yang lainnya
Maka, kendala apa lagi yang membuat anda tidak bisa berkarya?
Jawabannya adalah ketidakmauan diri anda sendiri untuk berkarya.
#Salam Melukis Cahaya #Khilafah :)
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=150905881765951&set=a.145769205612952.1073741828.128677780655428&type=1&relevant_count=1
Bagaimana jika ada kasus ada yang mengundang/pemotretan di tempat ibadah non muslim?
INSPIRASI MUSLIMAH FOTOGRAFER
=======================
Bagaimana jika ada kasus ada yang mengundang/pemotretan di tempat ibadah non muslim? dan bagaimana etika memotret orang yang sedang beribadah ?
Sebagai pribadi muslimah yang harusnya diperhatikan dalam pemotretan "ritual peribadahan" demikian adalah memahami akan medan, artinya tidak semua medan bisa kita masuki. Saya sendiri memiliki pemahaman bahwa saya sebagai umat muslim dilarang memasuki tempat ibadah non muslim lantaran memang aqidah Islam memiliki larangan untuk bertasyabuh (menyerupai) dengan non muslim. Menjadi muslimah fotografer, "Oke". Namun tidak kemudian "melupakan" identitas kita sebagai seorang muslim, itu prinsipnya.
Sehingga jika dikembalikan kepada kasus diatas yang mengatakan “tidak beretika” disini saya batasi hanya mengambil moment orang beribadah untuk muslim saja. Anggapan tidak beretika demikian sesungguhnya bisa dilihat dari kemapanan serta posisi fotografer dalam mengambil angle foto. Jelas dikata "tidak beretika" ketika memotretnya dari depan (jarak dekat) tepat orang yang sedang sholat. Nah tentu ini bisa dikatakan “Tidak beretika” sebagaimana anggapan orang, karena hal tersebut bisa menganggu kekhusyukan orang dalam beribadah.
Sebagai fotografer memang harus pandai-pandai mencari angle, jikalau pun ingin mendapatkan view depan (alias didepan orang yang salat tersebut) maka mengambilnya bisa dari atas gedung (jika gedungnya tingkat) atau di depannya namun dengan jarak yang cukup jauh, hal ini memang beresiko menggunakan kamera yang bisa zoom atau menggunakan tele.
Atau bisa dengan mengambil dari samping jaga jarak juga, saya rasa juga “tidak masalah” karena tidak mengganggu ibadah dengan artian kamera juga tidak berbunyi saat menjepret dan fotografernya juga tidak berisik tentunya..hehe
Atau opsi lainnya "agar tetap beretika" selainnya kitanya juga berpakaian syar'i (hehe..kuatir saja jangan-jangan kitanya dari busana sudah tidak beretika), kita bisa juga mengambil gambar dari belakang orang yang sedang beribadah salat. Ini sekedar contoh foto yang diambil saat ibadah salat di pengungsian merapi barak stadion maguwoharjo : http://pemikir-ideologis.blogspot.com/2013/06/sholat-di-barak-pengungsian-merapi-2010.html
=======================
Bagaimana jika ada kasus ada yang mengundang/pemotretan di tempat ibadah non muslim? dan bagaimana etika memotret orang yang sedang beribadah ?
Sebagai pribadi muslimah yang harusnya diperhatikan dalam pemotretan "ritual peribadahan" demikian adalah memahami akan medan, artinya tidak semua medan bisa kita masuki. Saya sendiri memiliki pemahaman bahwa saya sebagai umat muslim dilarang memasuki tempat ibadah non muslim lantaran memang aqidah Islam memiliki larangan untuk bertasyabuh (menyerupai) dengan non muslim. Menjadi muslimah fotografer, "Oke". Namun tidak kemudian "melupakan" identitas kita sebagai seorang muslim, itu prinsipnya.
Sehingga jika dikembalikan kepada kasus diatas yang mengatakan “tidak beretika” disini saya batasi hanya mengambil moment orang beribadah untuk muslim saja. Anggapan tidak beretika demikian sesungguhnya bisa dilihat dari kemapanan serta posisi fotografer dalam mengambil angle foto. Jelas dikata "tidak beretika" ketika memotretnya dari depan (jarak dekat) tepat orang yang sedang sholat. Nah tentu ini bisa dikatakan “Tidak beretika” sebagaimana anggapan orang, karena hal tersebut bisa menganggu kekhusyukan orang dalam beribadah.
Sebagai fotografer memang harus pandai-pandai mencari angle, jikalau pun ingin mendapatkan view depan (alias didepan orang yang salat tersebut) maka mengambilnya bisa dari atas gedung (jika gedungnya tingkat) atau di depannya namun dengan jarak yang cukup jauh, hal ini memang beresiko menggunakan kamera yang bisa zoom atau menggunakan tele.
Atau bisa dengan mengambil dari samping jaga jarak juga, saya rasa juga “tidak masalah” karena tidak mengganggu ibadah dengan artian kamera juga tidak berbunyi saat menjepret dan fotografernya juga tidak berisik tentunya..hehe
Atau opsi lainnya "agar tetap beretika" selainnya kitanya juga berpakaian syar'i (hehe..kuatir saja jangan-jangan kitanya dari busana sudah tidak beretika), kita bisa juga mengambil gambar dari belakang orang yang sedang beribadah salat. Ini sekedar contoh foto yang diambil saat ibadah salat di pengungsian merapi barak stadion maguwoharjo : http://pemikir-ideologis.blogspot.com/2013/06/sholat-di-barak-pengungsian-merapi-2010.html
Langganan:
Postingan (Atom)