Tampilkan postingan dengan label Sepercik Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepercik Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Januari 2014

Di sini kita pernah bertemu



Di sini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau menghulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria
Kini dengarkanlah…

Beberapa bait dari lirik The Brothers diatas seolah telah mengundang kembali rasa dan aura solidnya bertemu dengan orang-orang hebat. Sungguh, betapa senang rasanya apabila kita hidup di dunia bisa dipertemukan dengan sahabat yang mau berbagi dalam suka dan duka. Kita tentu akan bahagia bisa bertemu dengan orang-orang yang bisa menguatkan kita. Kala diri ini merasa lengah, mereka hadir untuk mengajak melangkah.
Kala diri mulai jera ber-asa, mereka hadir menyemangati untuk jangan putus asa. Beruntungnya aku, mereka adalah sahabat-sahabat yang bisa mengingatkanku dalam kebaikan. Berangkat dari sebuah realita tatkala banyaknya kerusakan dan kemerosotan taraf berfikir umat membuat dakwah di zaman saat ini menjadi barang mahal. Mahal yang berarti tidak mudah laku terjual di pasaran manusia saat ini. Wajar jika kemudian ketika kita mencoba membawakan sebuah petunjuk dan firman-Nya untuk memuliakan manusia justru banyak ditolak.
Alamiahnya dakwah ditolak, dicerca, diejek, dicemooh, disinisi, dikucilkan dan lain sebagainya. Status muslimah pengemban dakwah pun tak jarang mudah tergoyah dengan godaan yang mengurungkan niat untuk berdakwah. Wajar ketika ditengah jalan kemudian pengamban dawkah dihadapkan dengan orang-orang yang menolak dakwahnya hingga membuat goyah pengemban dakwah.
Bagi yang tidak berani menerima resiko benturan masih ada pengemban dakwah yang murung, putus asa, malas berdakwah dan bahkan mundur dari barisan dakwah. Sahabat-sahabat pengemabn dakwah sangat berarti di mataku, ketika aku mencoba memberanikan diri untuk menyampaikan seruan mengajak kebaikan. Benar, masih banyak ditemukan saudara muslim sendiri yang menolak bahkan mencerca dengan tajam. Hatiku tergoyah, bahkan sakit hati itu membuncah. Jika aku sudah sakit hati, futur itu pun datang. Namun, sahabat-sahabat pengemban dakwah tak pernah acuh padaku.
Mereka anggun dalam balutan jilbab dan berkerung, mereka santun berucap dalam tutur. Merekalah orang-orang yang mau mengulurkan tangannya padaku, bahwa perjuangan dakwah ini memang dibutuhkan keikhlasan, pengorbanan, dan kesabaran yang membaja. Teringat bahwa onak duri laju dakwah juga dialami oleh perjuangan dakwah yang Rasulullah Saw alami. Beliau juga tidak pernah sepi akan ujian dan cobaan dalam berdakwah. Artinya bagaimana kita bisa yang apabila orang-orang yang sangat menyayangi dan menguatkan berada disamping kita. Aku sangat ingat kala kita saling berangkulan dan menyanyikan lagu The Brothers bersama

Di sini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau menghulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria
Kini dengarkanlah
Dendangan lagu tanda ikatanku
Kepadamu teman
Agar ikatan ukhuwah kan
Bersimpul padu
Kenangan bersamamu
Takkan ku lupa
Walau badai datang melanda
Walau bercerai jasad dan nyawa
Mengapa kita ditemukan
Dan akhirnya kita dipisahkan
Munkinkah menguji kesetiaan
Kejujuran dan kemanisan iman
Tuhan berikan daku kekuatan
Mungkinkah kita terlupa
Tuhan ada janjinya
Bertemu berpisah kita
Ada rahmat dan kasihnya
Andai ini ujian
Terangilah kamar kesabaran
Pergilah derita hadirlah cahaya

Pelukan erat itu masih hangat dalam benak, terukir indah dalam bayang-bayang waktu yang telah berlalu. Kekuatan yang mereka berikan padaku membekas dalam sanubari, menyibak dalam langkah keoptimisan. Dakwah memang tidak mudah, namun bukan berarti kita tidak bisa. Ikatan ukhuwah yang kelak akan menjadi pengikat kuat akan barisan-barisan dakwah yang akan menghapuskan tindak kedzaliman dan kerusakan di dunia. Tetaplah melangkah dalam barisan dakwah, meski harus kepayah tapi ingatlah ada pundi-pundi pahala yang siap menunggu kelak di Surga-Nya.

TANGIS TERAKHIR NABI MUHAMMAD RASULULLAH SAW -KEPALA DAULAH ISLAM PERTAMA DI DUNIA

TANGIS TERAKHIR NABI MUHAMMAD RASULULLAH SAW -KEPALA DAULAH ISLAM PERTAMA DI DUNIA
===================================

Tiba-tiba ada ucapan salam. “Boleh saya masuk?” lelaki itu bertanya.

Namun Fatimah tidak mengizinkannya masuk ruangan. “Maaf, ayah saya sedang sakit, “kata Fatimah.

Ia berbalik kembali dan menutup pintu. Nabi Muhammad saw. membuka matanya dan bertanya, “Siapa dia, putriku?”

“Aku tidak tahu ayah. Ini pertama kali aku melihatnya,” kata Fatimah lembut.

“Ketahuilah putriku, dia adalah orang yang menghapuskan kenikmatan sementara! Dialah yang menceraikan persahabatan di dunia. Dialah sang Malaikat Maut,” kata Rasulullah saw.

Fatimah menahan genangan air matanya. Malaikat maut datang kepada-Nya, tetapi Rasulullah saw. bertanya mengapa Jibril tidak datang bersamanya. Kemudian Rasulullah saw. menatap putrinya dengan pandangan nanar, seolah-olah ia tak ingin kehilangan setiap bagian dari wajah putrinya. Kemudian, Jibril dipanggil. Jibril sebenarnya telah siap dia langit untuk menyambut ruh Rasulullah sang pemimpin Bumi.

“Wahai Jibril, jelaskan kepadaku tentang hak-hakku di hadapan Allah!”, Rasulullah saw. meminta dengan suara yang sangat lemah.

“Pintu-pintu langit telah dibuka. Para malaikat sedang menunggu ruh Anda. Semua pintu Surga terbuka luas menunggu Anda” kata Jibril.

Namun, kenyataannya, jawaban itu tidak membuat Rasulullah saw. lega. Matanya masih penuh kekhawatiran.

“Anda tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril.

“Ceritakan tentang nasib umatku di masa depan?” kata Rasulullah saw.

“Jangan khawatir, wahai Rasulullah, saya mendengar Allah berkata:” Aku haramkan Surga untuk semua orang, sebelum umat Muhammad memasukinya, ” kata Jibril.

Waktu bagi malaikat Izrail melakukan pekerjaannya semakin dekat dan dekat. Perlahan-lahan,ruh Rasulullah saw. dicabut. Tampak tubuh Rasulullah saw. bermandikan peluh, saraf lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakit ini!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam mengerang dengan perlahan. Fatimah memejamkan mata, Ali yang duduk di sampingnya tertunduk dalam dan Jibril pun memalingkan mukanya.

“Apakah aku sedemikian menjijikkan sehingga engkau memalingkan muka wahai Jibril?” Rasulullah saw. bertanya.

“Siapa yang bisa tahan melihat Kekasih Allah di ambang sakaratul mautnya?” kata Jibril. “Bukan untuk berlama-lama,” kemudian Rasulullah saw. mengerang karena sakit yang tak tertahankan.

“Ya Allah betapa besar Sakaratul maut ini. Berikan kepadaku semua rasa sakit, tapi jangan untuk Umatku.“ Tubuh Rasulullah saw. mendingin, kaki dan dadanya tidak bergerak lagi. Dengan berlinang air mata, bibirnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu. Ali mendekatkan telinganya ke Rasulullah saw., “Jagalah shalat dan jagalah orang-orang lemah di antara kamu.”

Di luar ruangan, ada tangisan, ada kegaduhan. Para sahabat saling berpelukan. Fatimah menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sekali lagi, Ali mendekatkan telinganya ke Rasulullah saw. dan dengan mulut yang telah membiru serta air mata berlinang, Rasulullah berucap lirih: “Ummatii , Ummatii, Ummatii…” “Umatku, umatku, umatku…“

-------------------------------------------------------------------------
Ya Rasulullah.. Kami rindu berjumpa denganmu..
Rindu kehidupan saat ini kembali menghidupkan seluruh risalah agung yang tlah engkau ajarkan kepada ummatmu..

Rindu syari'atmu tegak kembali di dunia ini sehingga ummatmu berlomba-lomba menuju ketaqwaan di segala aspek kehidupannya. Rindu kami padamu Yaa Rasul..

Semoga kami bisa menjadi ummatmu yang terbaik dengan mewujudkan kembali bisyarahmu ''...tsumma takuunu khilafatan 'ala minhajin nubuwwah''. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin

Memoar dari Penjara dan Indahnya Persahabatan bersama Amir Hizbut Tahrir, Al-Alim –Al-Jalil Sheikh Ata bin Khalil Abu al- Rashtah

Oleh:  Salim al- Amr

Bagian Pertama
Majalah Al – Waie edisi Arab menerima beberapa memoar dari yang terhormat, Salim al- Amr. Kami telah mempublikasikan sebagian dari memoar itu, karena Insya Allah di dalamnya terdapat pelajaran dan manfaat bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran. Kami menyampaikan terima-kasih dan penghargaan kepada Saudara Salim untuk memoar yang ekspresif dan menggugah ini. Kami memohon kepada Allah SWT untuk memberikan kepadanya apa yang yang akhirnya akan datang, dan semoga Allah menjaganya dari segala keburukan dan kejahatan.

Memoar Penjara dan Penghargaan Persahabatan (1)
Awalnya dimulai dari Penjara Gurun Sawaqa di Yordania. Hari itu saya tidak tahu tentang Hizbut Tahrir kecuali beberapa perkara yang membuat saya meremehkan dan membenci. Semoga Allah mengampuni orang yang menjadi penyebab atas masalah ini!
Pada pagi hari itu, berita datang ke penjara bahwa seorang tahanan bernama Ata Abu al- Rashtah [Abu Yasin] akan dipindahkan dari Penjara Juwaideh ke Penjara Gurun Sawaqa. Hal ini tidak begitu menjadi masalah bagi saya sebagaimana pentingnya hal itu bagi para syabab  (anggota) Hizbut Tahrir yang berada di ruang sebelah depan ruangan kami. Saya menyaksikan wajah-wajah ceria mereka, hanya karena mereka mendengar tentang kedatangannya. Saya mengetahui dari mereka bahwa ia adalah juru bicara resmi Hizbut Tahrir. Namun siapa dari kami yang mengenalnya?
“Bagaimana anda tidak kenal siapa orang ini, dia adalah salah seorang dari sangat sedikit orang yang menulis tentang ekonomi Islam!” seru teman saya (Ahmad al – Sa’oub, yang merupakan saudara saya seiman – dalam melawan orang-orang Yahudi). Tentu saja, Ahmad termasuk yang rajin membaca koran sampai-sampai kami mengatakan bahwa kami membeli koran seharga dua puluh sen dan dia membacanya seharga satu dinar! Bahkan iklan kecil tidak akan luput dari perhatiannya.

Ketika itu saya berada di sebuah ruangan dengan orang-orang yang disebut sebagai  orang ‘Afghan Yordania’. Kasus ini adalah satu kasus yang rumit di mana banyak orang yang tidak bersalah dizhalimi. Pada saat itu, kasus kami diberi nama sebagai ‘Kasus Wadi Mujib’. Singkatnya, kasus kami adalah suatu operasi syahid melawan para turis Yahudi yang datang ke Yordania, yang dilakukan pada ulang tahun pertama pembantaian yang dilakukan di Masjid Ibrahimi tanggal 24 Februari 1995, namun operasi gagal, dan saya dijatuhi hukuman mati, kemudian dikurangi menjadi hukuman penjara seumur hidup dengan kerja paksa.
Pemikiran saya pada saat itu lebih dekat kepada Salafi jihadi, karena itu terdapat perbedaan yang sangat jauh dalam pemikiran antara saya dan Hizbut Tahrir. Saya mengakui bahwa saya belum matang secara intelektual pada saat itu. Saya tidak peduli tentang pemikiran (fikr) atau mengetahui apa artinya. Kami tidak tahu terminologi yang kami dengar dari Syabab Hizbut Tahrir dan tidak mau memperhatikannya karena kami sangat meremehkan /mengolok-olok arti kata pemikiran (fikr). Ketika kami melihat Abu Yasin dan para pengikutnya pindah dari satu ruangan ke ruangan untuk menunaikan kewajiban kepada salah seorang dari mereka. Salah seorang teman kami berkata sinis : “Ini adalah pemimpin mereka yang megajarkan tentang pemikiran kepada mereka”. Kami pun menertawakan mereka dan dengan naif.
Di saat kami sibuk dengan masalah-masalah internal kami dan mencari berita tentang amnesti umum yang kami dengar dari waktu ke waktu, sambil berharap untuk keluar dari penjara, para Syabab Hizbut Tahrir sibuk menyerap ilmu dari Abu Yasin. Mereka, seperti yang dijelaskan oleh penulis Abdullah Abu Rumman ketika dia dipenjara karena isu roti, “mereka menulis sebuah buku setiap minggu.” Realitas mereka juga digambarkan oleh Profesor Hamza al – Aneed, pada saat dikunjungi keluarganya. Dia berkata kepada keluarganya:  bahwa bersama kami ada Abu Yasin, yang selalu memberi  kajian secara berkelanjutan. Karena itu berita tentang amnesti umum tidak menyibukan mereka (para syabab). Mereka meyakini bahwa penjara adalah qadaa’ dari Allah.  Jarang sekali ada permasalahan internal di antara mereka. Sheikh Atha telah membuat mereka sibuk dengan kajian dan menulis. Beliau mengajar mereka bahasa arab dan ushul fiqih. Ketika kami pergi berolah raga banyak dari mereka yang pergi ke perpustakaan penjara untuk membenamkan waktu mereka mempelajari kitab-kitab tafsir  dan meminjam buku karena mereka igin menjalankan tugas kewajiban yang ditugaskan kepada mereka (oleh Abu Yasin).

Memoar Penjara dan  Penghormatan Persahabatan (2)
Kadang-kadang kami terkena konflik, sebagai akibat dari perkelahian dengan pihak administrasi penjara yang sebenarnya tidak perlu. Hal ini biasanya terjadi karena saudara-saudara Salafi Jihadi (negara menyebut kasus mereka sebagai kasus baiat kepada imam). Mereka menganggap para polisi adalah kumpulan thaghut, sehingga wajar terjadi permusuhan, yang membuat hidup kami selalu dalam keadaan konflik di dalam penjara, dikarenakan bentrokan diantara orang-orang seperti ini dan para penjaga tahanan dan polisi.
Kemudian, administrasi penjara berusaha menekan kami dengan melemparkan gas air mata untuk memecah belah kami. Mereka memutuskan untuk membagi kami ke dalam kamar-kamar kecil, yang tersebar di dua lantai, sehingga dapat mengurangi banyak masalah. Situasi saat itu adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh penulis dan wartawan Abdullah Abu Rumman dalam sebuah artikel yang ditulisnya ketika dia dibebaskan dari penjara dengan judul, “Pemimpin di Penjara ” (Wa fi al- sujuun ‘umara’) .
Karena saya bertanggung jawab sebagai pimpinan para tahanan, saya melayani sekelompok tahanan dari gerakan-gerakan yang berbeda : orang-orang Yordania Afghanistan, orang-orang dari gerakan yang berbeda, dan dari Hizbut Tahrir, karena sebagian dari mereka berada di sel saya, di antaranya adalah Tariq al – Ahmar, serta insinyur Laith Shubeilat. Abu Musab al-Zarqawi juga seorang pemimpin dari sebuah kelompok. Walid Hijazi adalah pemimpin Syabab Hizbut Tahrir di dalam sel termasuk Abu Yasin, karena Abu Yasin menolak untuk menjadi pemimpin. Malah dia sering berusaha untuk menjadikan Syabab sebagai pemimpin, dan membimbing mereka pada beberapa perkara.
Pada saat Sholat Jumat, kami biasa shalat di kamar. Berkali-kali kami mendengar khutbah Jumat dari Sheikh Ata dan kadang-kadang dari Abu Muhammad al- Maqdisi. Ini terjadi sebelum kami dibagi ke dalam kamar-kamar kecil. Khotbah Abu Yasin  sangat memukau sehingga mempengaruhi sebagian kelompok salafi.  Kemudian para pemimpin kelompok salafi menyadari hal ini, sehingga mereka membuat masalah untuk memisahkan kelompoknya dari syaikh Atha. Inilah yang sebenarnya terjadi.

Abu Yasin kerap memberikan pelajaran secara rutin di kamar kami mengenai ushul fiqh yang biasa dihadiri sebagian Syabab di dalam ruangan. Pelajaran rutin lainnya diberikan oleh Saudara Shabeita, juga dari Hizbut Tahrir, mengenai bahasa Arab. Namun sayangnya kami tidak menaruh perhatian besar terhadap pelajaran ini.
Abu Yasin selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk berdiskusi dengan orang-orang lain di kamar yang berbeda, baik pada saat ada yag sakit atau pada situasi berkabung. Beliau tidak pernah  putus asa. Dia biasa menasehati teman-temannya dengan Wasiat Rasulullah SAW sahabat-sahabatnya,
«صلْ من قطعك، واعفُ عمّن ظلمك»
“Sambungkanlah hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu dan maafkanlah  orang yang menzalimimu”.
Dia biasa mengabaikan pelecehan yang dilakukan terhadap dirinya oleh orang-orang lain dari gerakan-gerakan lain dan tidak meresponnya kecuali dengan kebaikan.
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (QS Fussilat : 34 )
Saat itu kami biasa mengejek para Syabab Hizbut Tahrir itu namun pada saat yang sama kami juga biasa mencintai mereka. Sebagian dari kami biasa menggoda mereka dengan mengatakan, “Kamu Syabab Hizbut Tahrir, ketika kamu pergi untuk minum kopi kamu meminta kepada pelayan untuk membawakan anda satu cangkir teh dan membawakan juga dua orang untuk berdiskusi.” Saya melihat Abu Yasin menertawakan gurauan ini, yang disampaikan oleh teman saya Idul Jahaleen (dari kasus orang ‘Afghan Yordania’), yang telah kehilangan kedua kakinya dalam usaha meledakkan bioskop – semoga Allah memberinya kesehatan. Dr. Ali al – Faqir, yang biasa duduk dalam lingkaran pengajian Abu Yasin dan belajar Usul, akan mengatakan kepada kami untuk bersikap adil, ketika kami hanya berdua: saudaraku, jika ada orang yang layak dihormati, maka itu adalah Abu Yasin. (Hal ini termasuk ke dalam pengakuan jujur tentang seseorang).
Setelah dua tahun di penjara, gambaran mulai jelas bagi saya sedikit demi sedikit. Saya bisa melihat hal-hal secara obyektif. Saya terutama melihat bertambahnya masalah-masalah internal hanya karena alasan-alasan sepele, suatu hal yang membuat saya membuang-buang waktu saja. Saya kemudian menulis permintaan kepada administrasi penjara untuk mengirimkan saya ke lantai dua, ruangan tempat para Syabab Hizbut Tahrir itu. Permohonan saya disetujui, namun dibatalkan beberapa jam kemudian! Jadi saya tinggal di sana hanya semalam, kemudian kembali ke ruangan asal saya. Duh, sungguh kebahagiaan yang belum terlaksana.
Dari waktu ke waktu, kami mengucapkan selamat tinggal kepada Syabab yang dibebaskan, dan menjadi kebiasaan untuk merayakan saat pembebasan mereka. Bersama dengan sipir penjara, saya mengorganisir malam pelepasan sebagian dari mereka, saya ikut tidur di kamar-kamar mereka, untuk mempersembahakan bebrapa nyanyian/nasyid untuk merayakan pembebasan mereka.
Kemudian datanglah hari ketika Allah SWT memberikan kehormatan kepada saya untuk berjumpa dengan Amir Hizbut Tahrir dan Syababnya dalam satu sel, ketika kami dipindahkan ke Penjara Salt (di utara – barat Jordan) yang dibagi-bagi ke dalam sel-sel yang tidak tersinari matahari. Di dalam sel itu terdapat tempat tidur yang terbuat dari dua lantai beton dan setiap sel memiliki empat tingkat, yakni delapan tahanan dalam sebuah ruangan.
Jika dibandingkan dengan Penjara Sawaqa, Penjara Salt merupakan ujian yang lebih berat. Suasanaya pun berubah, tempatnya sangat sempit, kelembabannya berlipat dan permasalahan-pun meningkat. Tidak berlebihan jika saya katakan bahwa saya adalah orang yang paling banyak mendapatkan manfaat karena perpindahan ini, meskipun semua orang tahu bahwa mereka membawa saya dengan jarak dua kali lipat jauhnya dari keluarga saya, karena saya berasal kota Karak. Dengan karunia Allah, berubahlah kesulitan di penjara ini menjadi kenikmatan tersendiri.

Memoar Penjara dan Indahnya Persahabatan (3)
Setiap penjara memiliki suasana yang berbeda. Meskipun kurangnya pelayanan dan sel-sel kecil di Penjara Salt, kami mulai terbiasa dengan tempat itu. Penjara bukanlah hanya tembok. Terkadang seseorang bisa mengubah kesulitan di penjara menjadi nikmat, karena kehendaknya sendiri, meskipun terdapat banyak rintangan.
Pada saat itu Abu Yasin hendak mengucapkan selamat tinggal pada sebagian besar Syabab Hizbut Tahrir di penjara itu. Tidak ada yang tersisa dari mereka kecuali hanya sedikit, yang semuanya akan segera bebas karena hukuman mereka berakhir. Saya ingat mereka adalah Walid Hijazi, Suhaib Ja’ara, dan Abdul al- Rahim Abu ‘ Alba. Ini adalah apa yang terjadi; dalam beberapa minggu mereka akan berada di luar tembok penjara, menghirup udara kebebasan.
Tak seorang pun dari Syabab yang tersisa di ruangan kecuali Abu Yasin. Betapa menyakitkan dan menyedihkan ketika seseorang ditinggal seorang diri terisolasi, tanpa seorang teman di dalam ruangan. Terhadapnya saya mengulang-ulang syair yang berbunyi:
Orang-orang yang aku cintai telah pergi & Aku tersisa menyendiri seperti sebilah pedang
Di sini saya memutuskan untuk pindah ke kamarnya, terutama karena sekarang hal ini sudah menjadi lebih mudah.
Saya juga teringat akan perkataan seorang penyair :
Jika angin-anginmu telah berhembus, maka manfaatkanlah & karena bagi setiap kegaduhan pasti ada ketenangan
Ada banyak alasan atas keputusan saya ini, di antarannya:  suasana kedamaian di dalam ruangan Abu Yasin; melayani seorang pria yang sudah beruban. Maka Dia memang layak untuk dilayani -Karena di antara wujud menganggungkan Allah adalah menghormati seorang Muslim yang telah tua dan mengormati Ahli Al-Qur’an -, keluasan hati yang menjadi ciri khas Abu Yasin. Suatu hari saya melihat ada seorang pemuda yang banyak berbuat buruk kepadanya, namun dia tidak memperdulikannya.
Setelah pindah ke selnya, saya mulai memperhatikan pria itu dari dekat, bagaimana cara dia makan, bagaimana cara dia minum, bagaimana cara dia melakukan wudhu, bagaimana cara dia beribadah, dan bagaimana cara dia berurusan dengan orang-orang. Saya melihat Islam terwujud dalam kenyataan di dalam sel itu. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada hamba yang dikehendaki-Nya.
Abu Yasin adalah orang yang dihormati semua orang. Dia selalu menyambut anda dengan senyum. Ketika dia berwudhu dia tidak menyia-nyiakan air, dia akan menutup keran beberapa kali selama wudhu’ saat dia bergerak dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lain. Saya akan bertanya kepadanya, “Abu Yasin, apakah anda khawatir air di penjara akan habis?” “Air ini adalah milik umum”, dia akan menjawab, “air harus dilestarikan dan jangan di sia-siakan.”
Dia biasa menyambut semua orang dengan salam, namun beberapa tahanan dari gerakan-gerakan lain tidak akan membalas salamnya, suatu hal yang membuatnya sedih. Dia akan berkata kepada saya, “Bagaimana mentalitas seperti itu ditangani ketika negara Islam berdiri? “Dia diam sebentar dan kemudian berkata, “Tidak ada solusi untuk hal ini, setelah pembentukan Khilafah, kecuali bahwa mereka ditempatkan di perbatasan untuk berperang melawan musuh.”
Hanya ada satu televisi di penjara, untuk semua orang. Televisi itu selalu berada di ruang makan. Abu Yasin pergi ke sana hanya untuk menonton berita pukul delapan dan kemudian akan kembali ke selnya.

Suatu hari salah seorang tahanan lain, dari keluarga Tahhan, yang bukan dari Syabab Hizbut Tahrir (dia dipenjara karena membawa senjata) berkata kepada saya, “Saudaraku, anda tidak tahu betapa saya menghormati orang ini (Ata). Saya telah melihatnya lebih dari sekali menangis setelah mendengarkan buletin berita, terutama ketika dia mendengar berita yang menyakitkan dari Aljazair dan pembunuhan yang terjadi di sana.”
Karena saya berasal dari klan Amr yang terkenal dari kota Karak, sebagian panglima militer yang berasal dari selatan berupaya mendekati saya; kami biasa pergi ke halaman untuk beristirahat di belakang penjara. Kadang-kadang sipir penjara pun keluar bersama kami.
Suatu hari, seorang panglima militer dari klan al- Shabtat al – Tufayla mengatakan kepada saya bahwa dia telah menghabiskan masa pengabdiannya pada Dinas Keamanan Preventif, sebelum dipindahkan ke penjara itu. Setelah mulai keakraban dan persahabatan tumbuh diantara kami, dia berkata kepada saya, “Salim, menurut pendapat anda, siapa yang paling berbahaya bagi rezim Yordania dari orang-orang yang ada di sini? “Jawaban saya singkat: kelompok  ‘kesetiaan kepada  Imam’ (yaitu ‘Salafi Jihadi’) lalu ‘Peledak Ajloun’. Dia sedikit tertawa dan kemudian berkata, “Semua orang itu tidak bisa melemahkan kami. “Kemudian dia berkata, ” Apakah anda melihat bahwa orang itu (Abu Yasin) berjalan di sana sendirian, tidak ada seorangpun di antara kamu yang memperhatikannya.” “Ya,” jawab saya . “Dia adalah yang paling berbahaya dari anda bagi rezim Yordania.”

Saya kemudian menyadari bahwa kenyataan ini tidak seperti yang terlihat. Sebagian Petinggi militer sering datang dengan diam-diam ke sel itu untuk duduk bersama Abu Yasin, ketika mereka yakin tidak ada penjaga keamanan penjara.  Saya kemudian menyadari bahwa nushroh (adanya perlindungan/pertolongan dari para pemegang kekuasaan) itu adalah sesuatu yang mungkin terjadi. Saya juga  yakin bahwa banyak dari keluarga Fir’aun yang menyembunyikan keimanan mereka (maksudnya banyak orang yang berada di lingkungan rejim pemerintah yang tidak mendukung rejim itu, dan siap memberikan dukungannya kepada para pengemban dakwah)
Dahulu saya dulu tidak mampu membedakan antara Mubtada (subjek) dengan Khabar (predikat) dalam ilmu nahwu. Suatu hari, Abu Yasin berkata kepada saya, “Mengapa anda tidak memanfaatkan waktu anda dan belajar bahasa Arab? ” Saya menjawab, “Ini adalah pelajaran yang sulit yang saya tidak mengerti, lupakan saja”. Maka Abu Yasin berkata : “Yang harus anda lakukan adalah membawa mushaf al- Quran, buku catatan, dan pena, kemudian serahkan sisanya kepada saya. Anda akan belajar itu, Insya Allah”. Saya-pun menentangnya, bahwa dia akan membuang-buang waktu di tempat yang salah. Namun, dia bersikeras untuk mengajariku bahasa Arab. Mengapa tidak, ini adalah bahasa Al-Qur’an dan kunci untuk memahaminya dan menggali hukum-hukumnya.
Pada akhirnya, saya meyakinkan sebagian narapidana lain untuk belajar bahasa Arab, dan kami mulai pada metode lama sekolah Qur’an (katatib). Kami mulai membedakan antara Kalimah Isim, Kalimah Fi’il, dan Harf, dan bahwa Jumlah  itu adalah suatu ungkapan yang berfaidah dan bermakna (Kalaamun Mufiidun Dzuu Ma’nan) . Sebagian besar contoh yang dia gunakan adalah dari Al-Qur’an, demikian juga tugas-tugas yang dia berikan kepada kami. Pada akhirnya, setelah beberapa minggu kami menjalani tes yang saya tidak pernah bermimpi pernah mampu menyelesaikannya di masa lalu – Yakni menyelesaikan i’rab Surat al – Anfal (mengurai kata dan kalimat) secara sempurna, dan saya bisa melakukannya. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang terbaik atas pelajaran yang diajarkannya! (diterjemahkan riza/yasin, sumber: alwaie bahasa arab edisi 324)

WASIAT SYAIKH TAQIYUDDIN AN-NABHANI


Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah seorang âlim allâmah (berilmu dan sangat luas keilmuannya). seorang mujtahid mutlak abad ini. Beliau adalah pendiri Hizbut Tahrir. Nama lengkapnya adalah Syaikh Taqiyuddin bin Ibrahim bin Mushthafa bin Ismail bin Yusuf an-Nabhani. Nasab beliau bernisbat kepada kabilah Bani Nabhan, salah satu kabilah Arab Baduwi di Palestina yang mendiami kampung Ijzim, distrik Shafad, termasuk wilayah kota Hayfa di Utara Palestina.

Beliau memberikan 11 nasehat Kepada Pengemban Dakwah agar selalu istiqomah di jalan dakwah ini :

1. Ketahuilah, kaum muslim tidak pernah mundur dari posisinya sebagai pemimpin dunia selama berpegang teguh kepada agamanya.

2. Patut diperhatikan dengan seksama bahwa usaha mengemban qiyadah fikriyah Islam adalah dalam rangka membangkitkan kaum muslim.

3. Dalam mengembangkan dakwah Islam hendaknya kita berpegang kepada satu prinsip, yaitu menyebarluaskannya sebagai qiyadah fikriyah bagi seluruh dunia.

4. Mengemban dakwah saat ini hendaknya dikembangkan dengan metode yang sama dengan masa sebelumnya, yakni dengan menjadikan metode dakwah rasul sebagai suri teladan.

5. Mengemban dakwah membutuhkan sikap terus terang dan keberanian, kekuatan dan pemikiran.

6. Mengemban dakwah Islam harus meletakkan kedaulatan secara mutlak hanya untuk mabda’ Islam.

7. Mengemban dakwah Islam hendaknya dilakukan secara serius. Seorang pengemban dakwah tidak akan mengambil jalan kompromi.

8. Mengemban dakwah mengharuskan setiap langkah memiliki tujuan dan mengharuskan pengemban dakwah senantiasa memperhatikan tujuan itu.

9. Pengemban dakwah hendaknya mengemban dakwah Islam dengan menyajikan peraturan-peraturan yang dapat memecahkan problematika manusia.

10. Ketahulah dan pahamilah: pengemban dakwah tidak akan mampu memikul tanggung jawab dan kewajiban-kewajibannya tanpa menanamkan pada dirinya cita-cita untuk mengarah kepada jalan kesempurnaan, selalu mengkaji dan mencari kebenaran.

11.Para pengemban dakwah harus menunaikan kewajibannya sebagai sesuatu yang dibebankan Allah dipundak mereka. Hendaknya mereka melakukannya dengan gembira dan mengharapkan ridha Allah.

Semoga nasehat dan wasiat ini semakin membakar ghirah juang kita agar khilafah segera tegak dengan ijinNya. Syaikh Taqiyudin an-nabhani menyatakan bahwa Khilafah: adalah kepemimpinan umum bagi kaum muslimin seluruhnya di dunia, untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh dunia. Definisi inilah yang telah dirumuskan oleh Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani (w. 1398 H/1977 M) dalam kitab-kitabnya, misalnya kitab Al-Khilafah (hal. 1), kitab Muqaddimah Ad-Dustur (bab Khilafah) hal. 128, dan kitab Asy-Syakshiyyah Al-Islamiyah, Juz II hal.

Aduhai, Cinta!



“Jatuh cinta berjuta nikmatnya….” lirik lagu ini membuatku mulai bertanya-tanya mengapa tema cinta selalu menjadi bahan menarik untuk diperbincangkan?. Tidak muda, tua, laki-laki, perempuan dari berbagai kalangan manusia jika membahas cinta tentu selalu ada menariknya. Cinta adalah fitrah, dia tercipa memiliki dua potensi yakni buruk dan baik. Cinta yang buruk adalah ketika naluri cinta dipenuhi secara liar tanpa memperhatikan adab serta aturan agama. Hewan juga memiliki cinta, namun apakah cara hewan dalam memenuhi cinta sama dengan cara manusia memenuhi cinta? jawabannya tentu berbeda.

Allah Sang Maha Pencipta cinta telah memberikan akal kepada setiap manusia untuk berfikir. Akal berfungsi luar biasa dan ini tak bisa ditandingi oleh makhluk-makhluk lainnya. Manusia diberikan potensi akal agar manusia mau berfikir, mau menimbang dan bisa menghukumi suatu tindakan berbuah baik ataukah berbuah pada keburukan. Manusia jika berfikir mandiri tanpa didampingi standar aturansang Maha Pengatur juga memiliki pengarahan yang buruk sesuai dengan insting masing-masing, bukankah ini mirip dengan hewan?

Beruntunglah kita sebagai manusia yang telah Allah karuniakan kemantapan iman. Tatkala naluri cinta tumbuh dan menggebu dapat kita tundukan dengan keimanan yang kita miliki. Tidak bisa dipungkuri bahwa memenuhi naluri cinta dengan ketundukan iman bukan hal yang mudah karena banyak godaannya. Terlebih media saat ini membuka kran lebar-lebar untuk memancing cinta berpacu. Bagi para wanita dan laki-laki yang sama-sama tak menjadikan aturan Sang Penciptanya sebagai guide, tentu akan mudah terperosok oleh cinta semu yang berujung nista. Fatal akibatnya, muski terpuaskan di dunia namun apakah mereka lupa bahwa kelak ada akherat pertanggungjawaban?

Semoga kita termasuk orang-orang yang sadar, yang selalu menghadirkan Sang Maha Pencipta dalam segala aktivitas kita, termasuk dalam aktivitas memenuhi naluri cinta sesuai dengan aturan-aturanNya. Hidup penuh dengan perjuangan dan cobaan, maka jalanilah dengan sabar dan keistiqomahan.


Sabtu, 25 Januari 2014

Nasihat Al-’Alim Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil untuk Mempelajari Bahasa Arab

Al-‘Alim al-Syaikh ‘Atha bin Khalil membantah pemahaman yang menafikan pentingnya pemahaman bahasa arab dalam menafsirkan al-Qur’an. Al-Syaikh ‘Atha bin Khalil pun menegaskan:
ومن الجدير ذكره أن من أراد أن يفهم القرآن بغير لغته التي بها أنزل يكون قد عطّل فهم القرآن والعمل به، ويكون بذلك قد ارتكب إثما عظيما لأن القرآن قد أنزل باللغة العربية وبغيرها لا يمكن أن يفهم فهما سليما
“Dan di antara hal yang sudah semestinya disampaikan bahwa siapa saja yang ingin memahami al-Qur’an tanpa ada kemauan untuk memahami bahasanya (bahasa arab) yang Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa tersebut, pasti akan gagal memahami al-Qur’an dan mengamalkannya, dan karena faktor ini ia telah berdosa dengan dosa yang besar karena al-Qur’an telah turun dengan bahasa arab dan tanpa memahami bahasa arab tidak mungkin ia memahami al-Qur’an dengan pemahaman yang benar.”
Al-Syaikh ‘Atha bin Khalil menambahkan:
ولهذا حرص الفقهاء على العربية وعلومها، ناهيك عن المجتهدين ليتمكنوا من فهم القرآن واستنباط الأحكام الشريعة منه
“Dan oleh karena itu, para ulama ahli fikih memerhatikan bahasa arab dan ilmu-ilmunya, belum lagi para mujtahidin (dimana salah satu syarat asasi ijtihad adalah bahasa arab-pen.), sehingga mampu memahami al-Qur’an dan menggali hukum-hukum syari’ah darinya.”
Dan dalam kitab tafsirnya pun Al-Syaikh ‘Atha bin Khalil menyatakan bahwa diantara sebab kesesatan adalah kelemahan dalam memahami bahasa arab.
Lihat: al-’Alim asy-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasythah. 1427 H/ 2006. At-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr (Sûrah Al-Baqarah). Cetakan ke-2. Beirut: Dar al-Ummah.

Sumber : Ustadz Irfan Abu Naveed


Senin, 16 September 2013

JANJI ALLAH PASTI DATANG


"Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah."[QS Faathir : 5]

Berita Cinta Dunia

"Akan datang suatu masa, di mana bangsa-bangsa akan mengeroyok kalian seperti orang-orang rakus memperebutkan makanan di atas meja." 

"Apakah karena pada saat itu jumlah kami sedikit ya Rasulullah?" 

Rasulullah menjawab, "Tidak, bahkan kamu pada saat itu mayoritas, akan tetapi kamu seperti buih di atas permukaan air laut. Sesungguhnya Allah telah mencabut rasa takut dari musuh-musuh kalian, dan telah mencampakkan nilai penyakit al-wahn pada diri dan perasaan kamu."

Sahabat bertanya, "Apakah penyakit al-wahn itu, ya Rasulullah?"

Nabi Shalallah Alaihi Wassalam menjawab, "Al Wahn adalah penyakit cinta dunia dan takut mati’". 

[HR. Abu Daud]

Jumat, 26 Juli 2013

INSPIRASI DAUN


Bismillaah…

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Inilah kiranya yang bisa mewakili potret diatas, Allah swt senantiasa memberikan apa dibutuhkan oleh makhluk-Nya. Tak terkecuali pohon yang butuh akan kesegaran akan derasan rintik derai hujan.

Kesegaran yang senantiasa dirindukan oleh pohon ini, tak bisa terbayangkan apa jadinya jika hujan tidak kunjung datang
Tentulah sang pohon hanya akan terus bertahan menjalarkan akarnya untuk bisa hidup.
Dilain sisi, pohon pun juga membutuhkan energi dari sang matahari, maka benar “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Tidak perlu jauh-jauh untuk mensyukuri akan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita.
Dari apa yang kita pandang disekitar kita saja sudah bisa memunculkan rasa akan Maha Besar-Nya Allah
Tak perlu jauh pula dari sekitar kita, dari apa yang ada didalam diri kita saja sudah tiada taranya Allah berikan kenikmatan kepada kita.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Darah kita masih mengalir
Jantung kita masih berdetak
Nadi kita masih berdenyut
Nafas kita masih terhirup
Mata kita masih bisa melihat
Telinga kita masih bisa mendengar
Hati kita masih bisa merasakan
Tangan kita masih bisa meraba
Kaki kita masih bisa tegak berjalan
Jari kita masih bisa mengetik

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Cukuplah kepada Allah kita bersyukur tentang semuanya.
Semua yang senantiasa Allah berikan saat kita membutuhkannya. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.
Pancangkan keterikatan kita dengan hukum Allah, baru itu bersyukur namanya

‪#‎Salam‬ Melukis Cahaya Khilafah..

Follow me : http://pemikir-ideologis.blogspot.com/


Minggu, 14 Juli 2013

Antara DSLR dan JANJI

Dari hal yang tidak dijanjikan memiliki DSLR saja bisa terpenuhi, apalagi jelas bisyarah Rasulullah yang sudah Allah janjikan. Benar, sesungguhnya janji Allah sangat dekat jarak pemenuhannya bagi orang-orang yang yakin.

Minggu, 23 Juni 2013

Mundur, bukan itu jalannya

♥♥♥ SEPERCIK INSPIRASI ♥♥♥
====================
Bismillaah...

Ada yang menguntai rindu...
Ada yang menyapa mengungkap kata...
Ia lontarkan rasa rindunya tentang hangat berdiskusi bersama
Ia sampaikan pula akan kerinduan masa nikmat dakwah kita..
dan dalam waktu dekat ini, lagi-lagi ia masih mencoba menyapa...

Ku katakan padanya...
Bukankah aku telah menyayangimu dan mengajakmu belajar mengkaji Islam bersama?
Bukankah aku sudah memperhatikanmu dan menjelaskan akan apa pentingnya Iman?
Namun, ntah apa yang khilaf, hingga kau justru milih mundur dari barisan perjuangan Islam.

Pun jua kau memahami itu diarea yang kau kuasai
Ya, "Life is choice"...
Hendak mengkaji Islam atau berhenti itu adalah pilihan
Kau mau istiqomah dakwah atau berhenti itu juga pilihan
Tak ada suruhan dan tak ada paksaan...

Ku hanya bisa mendoa kepada Allah yang Maha Berkuasa
Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati manusia
Tak ada yang susah bagi Allah untuk memperbanyak pejuang-pejuang-Nya
Tak ada yang sulit bagi Allah untuk menyegerakan akan janji-janji-Nya

Aku pun coba mengerti posisimu...
Dilain sisi dirimu sudah diberikan pemahaman tentang Islam
Maka pemahaman itulah yang semestinya menggerakkan dirimu untuk menjalankan akan wajibnya belajar dan berdakwah Islam
Untuk itu bergeraklah karena pemahaman bukan atas dasar perasaan

Jika kau merasa ada kendala, maka tanyakanlah padaku
Jika kau mendengarkan suara-suara sumbang, maka sheringkanlah padaku
Jika kau terbayang oleh benak asumsi-asumsi, maka kroscekkanlah padaku
Bukan justru mundur dari barisan perjuangan, itu bukan jalan keluar sayang...

>> Semoga kita bisa istiqomah dan menguatkan di barisan perjuangan dakwah Khilafah.
Tak peduli seberapa harta yang harus kita keluarkan untuk dikeluarkan, tak peduli seberapa banyak orang yang turut andil memperjuangkan, serta tak peduli akan seberapa lama waktu yang digunakan untuk menjemput kemenangan, yang terpenting adalah KEYAKINAN kita akan janji Allah dan bisyarah Rasulullas saw. Allahuakbar!

-------------------------------------------------------------------------------------
Mari Sahabat...Raih Pahala SEBARKAN Informasi ini...
Semoga tercatat sebagai amal sholih bersama. Dan semoga kian banyak yang menginginkan akan diterapkannya kembali Khilafah Islamiyyah yang telah amat sangat kita rindukan.Aamiin
Jazakumullahu khairan khatsiron 


> http://www.facebook.com/photo.php?fbid=511248128924302&set=a.304743782908072.64126.304591352923315&type=1&relevant_count=1

♥♥♥ SEPERCIK INSPIRASI ♥♥♥

Bismillaah...

Semakin nyata kemenangan Islam di depan mata
Ketika semakin banyak yang mencoba menghalangi sebuah dakwah sebagai karya nyata
Dakwah menegakkan Khilafah bukanlah hal yang mudah
Karena perjuangannya bukanlah perjuangan yang murah

Jika kini sebuah cacian, omelan dan sebuah hujatan adalah sebuah tantangan
Melihat tantangan di luar negeri sana lebih dari itu, saudara kita terpenjara, dibunuh, ditembak, dan lain sebagainya, dan hal ini adalah sebuah tantangan

Menjadi pribadi beriman tak akan pernah sepi oleh namanya ujian
Ia akan senantiasa digodai dan digoyang dengan terpaan angin cobaan Namun bukan untuk merobohkan iman
Melainkan menguji dan mendekatkan kita kepada Allah untuk menguatkan ketinggian iman

Saudariku, benar bahwa dakwah Khilafah bukan hal yang mudah
Itu Sulit, namun sulit bukan berarti kita tidak bisa, pasti bisa
Hanya butuh sedikit kesabaran saja
Dan terus menghunjamkan pada diri sebuah keyakinan akan bisyarah buah konsekuensi Islam mabda

Sahabatku, raih tanganku, genggam tangankuaku yakin tidak sendiri, kita bersama-sama, dan Allah membersamai kitaPertolongan itu Allah dekatKemenangan Islam itu mulai terlihat

Semoga kita bisa Istiqomah berjuang, hingga rambut ini memutih beruban
Hingga nyawa ini merenggang pergi dari badan
Hingga tubuh ini syahid berbau harum dijalan-Nya karena merindukan Islam dan melibatkan diri dengan ikut berjuang untuk menegakkan Syariah & Khilafah. Aamiin

-----------------------------------
Tulisan ini ku persembahkan untuk saudarik-saudariku yang mengazzamkan dirinya terbeli dengan Islam yang dengannya menjadikan dakwah sebagai porosnya serta yang kini tengah berbenah dan berlari bersama-sama untuk tegaknya Khilafah.

BANGUN TIDUR

Dan barang siapa bangun pada pagi hari tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia bukanlah termasuk golongan mereka (kaum muslimin)” (HR. Ath-Thabari).

>> Bangun tidur, setelah memikirkan umat yang dipikirkan adalah "Pengen punya Kamera DSLR"