Minggu, 05 September 2010

Bisakah kita manggapai Lailatul Qadr ?




Makna Lailatul Qadr

Lailatul Qadr adalah malam diturunkannya al-Quran oleh Allah Ta'ala. Adapun tentang makna lailatul qadr, ada beberapa pendapat para ulama.

Pertama: maknanya adalah malam keputusan; atau malam penetapan. Dinamakan demikian karena pada malam itu Allah Ta'ala menetapkan perintah-Nya yang Dia kehendaki, yang berupa kematian, ajal, rezki dan lainnya sampai malam al-qadr tahun beriktunya. Ini pendapat Ibnu Abbas, Ikrimah dan Sa'id bin Jubair.

Kedua: maknanya adalah malam kemuliaan. Dinamakan demikian karena keagungannya, dan kemuliaannya. Ini pendapat az-Zuhri dan lainnya. Ada juga yang mengatakan dinamakan demikian karena perbuatan-perbuatan ketaatan pada malam itu memiliki nilai yang agung dan pahala yang banyak. Abu Bakar al-Warraq berkata: "Dinamakan demikian karena orang yang tidak punya kemuliaan dan keutamaan akan mendapatkannya, jika dia menghidupkan malam tersebut." Ada juga yang mengatakan dinamakan demikian karena pada malam itu Allah Ta'ala menurunkan Kitab (al-Quran) yang memiliki kemuliaan, kepada Rasul (Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam) yang memiliki kemuliaan. Pendapat lain menyatakan, karena pada malam itu para malaikat yang memiliki kemuliaan dan kepentingan turun ke bumi. Pendapat lain menyatakan, karena pada malam itu Allah Ta'ala menurunkan kebaikan, berkah dan ampunan.

Ketiga: maknanya adalah malam yang sempit. Dinamakan demikian karena pada malam itu bumi sesak/sempit dengan para malaikat. Ini dinyatakan oleh al-Khalil.
(Lihat semua keterangan di atas dalam Tafsir al-Qurthuby surat al-Qadr).
Keutamaannya

Cukuplah sebagai keutamaannya bahwa lailatul qadr itu lebih baik daripada seribu bulan. Allah berfirman (yang artinya): "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. al-Qadr 1-3).

Kebanyakan ahli tafsir menyatakan bahwa yang dimaksudkan adalah suatu amalan yang dilakukan pada malam itu lebih baik daripada amalan yang dilakukan seribu bulan yang tidak ada lailatul qadr padanya. Ini dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, as-Syafi'i, dan lainnya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, al-Qurthuby, as-Sa'di dan lainnya dalam surat al-Qadr).

Oleh karena itulah lailatul qadr merupakan malam yang diberkahi. Allah Ta'ala berfirman (yang artinya): "Haa Miim. Demi Kitab (al-Quran) yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (Yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul sebagai rahmat dari Rabb-mu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS ad-Dukhan 1-6).
Waktunya

Ada riwayat dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa lailatul qadr terjadi pada malam Ramadhan ke 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. Pendapat terkuat waktunya adalah pada malam-malam ganjil bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Carilah lailatul qadr pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan". (HR. Bukhari, Muslim no. 1169 dari 'Aisyah).

Dan memang ilmu tentang hal tersebut telah diambil oleh Allah dari Nabi gara-gara kesalahan (yaitu pertengkaran) yang dilakukan oleh dua laki-laki diantara ummmat beliau. 'Ubadah bin as-Shamit berkata: "Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar akan memberitahukan tentang lailatul qadr, lalu ada dua laki-laki diantara kaum muslimin bertengkar maka beliau bersabda: "Sesungguhnya aku keluar untuk memberitahukan kalian tentang lailatul qadr. Tetapi sesungguhnya si Fulan dan si Fulan bertengkar sehingga diangkatlah (ilmu tentang waktu lailatul qadr). Namun mudah-mudah hal itu lebih baik bagi kalian. Carilah lailatul qadr pada malam tujuh, sembilan dan lima (yang terakhir)." (HR. al-Bukhari).
Menggapai Keutamaannya

Jika kita telah mengetahui hal-hal di atas, hendaklah kita memperbanyak berbagai amalan ketaatan pada waktu-waktu di atas. Amalan-amalan itu seperti shalat tarawih, membaca al-Quran, shadaqah, dzikir berdoa dan lain-lain.

'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Kebiasaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika telah masuk sepuluh akhir Ramadhan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan isterinya, bersungguh-sungguh (beribadah) dan mengencangkan sarungnya (tidak menggauli isterinya)." (HR. Bukhari dan Muslim 1174).

'Aisyah juga pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda jika aku mengetahui waktu lailatul qadr, apa yang aku ucapkan di malam itu?" Beliau menjawab: "Ucapkanlah: Allaahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'annii (wahai Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah daku)." (HR. Ibnu Majah dan at-Tirmidzi dengan sanad yang shahih)
Tanda-tandanya

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memberitahukan tanda-tanda lailatul qadr di dalam beberapa haditsnya, antara lain: Dari Abu Hurairah dia berkata: "Kami memperbincangkan lailatul qadr di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: "Siapa diantara kalian yang mengingat ketika bulan muncul, yang bulan itu seperti separuh piring". (HSR. Muslim).

Al-Qadhi 'Iyadh berkata: "Padanya terdapat isyarat bahwa lailatul qadr hanyalah akan terjadi pada akhir-akhir bulan, karena bulan tidak akan demikian munculnya kecuali pada akhir-akhir bulan". (Sifat Shaum Nabi, hal. 90).

Ubay bin Ka'b berkata: "Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui kapan lailatul qadr itu, yaitu malam yang kami diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk shalat padanya. Yaitu malam yang besok paginya (adalah hari ke) dua puluh tujuh. Adapun tandanya adalah matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan putih tidak menyilaukan." (HSR. Muslim no. 762, Tirmidzi, Abu Dawud, al-Humaidi dan lainnya).

Ibnu Abbas berkata: "Lailatul Qadr adalah malam yang lembut, sedang, tidak panas, tidak dingin; matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan lembut, merah". (HR. at-Thayalisi 349, Ibnu Khuzaimah dan al-Bazzar dengan sanad yang hasan)


dari berbagai sumber

Jumat, 03 September 2010

Aksi KUTUK rencana Pembakaran Qur'an

Berpayung teguh,,langit menyapa siang menjelang sore di kota Yogyakarta nan elok akan keramahannya.
Sore tadi (jum'at,3/11/2010) diadakan aksi KUTUK Rencana Pembakaran Qur'an, aksi tersebut bertujuan untuk mengajak berjuang dengan keiklasan dalam rangka membela ISLAM.

Bagaimana dengan perasaan anda jika Al Qur'an yang merupakan wahyu Illahi akan direncanakan di bakar? bagaimana perasaan anda ? geramkah ? atau hanya biasa saja?

Sungguh hal ini telah menghina ISLAM, menghina Rasulullah bahkan telah menghinakan Kalamullah. Naudzubillah




Dengan masiroh aksi damai diharapkan umat ISLAM dapat menjadi salah satu usahanya dalam membendung serta penggagalan rencana kaum kafir untuk membakar Al Qur'an.




Massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Yogyakarta berjalan dari halaman DPRD hingga keperempatan kantor Pos Besar Malioboro. Masa yang diperkirakan mencapai ribuan orang ini mengecam rencana pembakaran Quran di Amerika pada 11 September mendatang.




Dalam Orasi Menegaskan rencana pembakaran kitab suci umat Islam tersebut, pasti memancing reaksi keras dari seluruh Muslim di seluruh dunia. Hal ini akan menimbulkan ketegangan dan konflik keras antarumat beragama






“Kami mengecam keras rencana tersebut sebagai tindakan keji, tidak beradab dan merendahkan kehormatan serta kesucian Alquran. Ini penghinaan terhadap Islam dan kaum Muslim di seluruh dunia,”




Rencana pembakaran Alquran oleh sekelompok orang di Florida, Amerika Serikat, terkait peringatan tragedi WTC/911. Hal ini justru harus
membuat umat Islam di seluruh dunia bersatu guna melawan penghinaan.
Bersatu merapatkan barisan dalam upaya nenerapkan Syariah secara Sempurna dalam Naungan Daulah KHILAFAH RASYIDAH.




Alhamdulillah Aksi damai ini berlangsung tertib. Puluhan polisi melakukan pengaman dan mengatur arus lalu lintas di selitar perempatan Jalan Malioboro.







semoga rencana pembakaran quran dapat tergagalkan secara total.amin.amin.amin

Senin, 30 Agustus 2010

Bisyarah Nabiwa

Ada Bisyarah Nabi, Kamu atau Tidak Sama Sekali . . .

Bisyarah Nabi
Bagaimana andai kata kita mendapatkan uang Rp 2 Milyar dalam waktu sekejap. Dan kabar itu datang. Dan kita juga mengetahui bahwa uang itu berasal dari hal yang halal tentunya. Maka, sesuatu ini pun akan kita kejar. Setelah mendapatkan uang sejumlah Rp 2 Milyar itu maka kegembiraanlah yang akan dirasakan. Bukan saja oleh kita pribadi tapi juga oleh orang-orang disekeliling kita.

Hal yang sama juga dirasakan oleh sepasang suami-istri yang telah berumah tangga lebih dalam 5 tahun. Namun, Allah tidak kunjung memberikan anak kepada mereka. Suatu ketika sang istri mengalami ciri-ciri orang yang sedang dalam keadaan mengandung, dan saat diperiksakan ke dokter benarlah, bahwa sang istri sedang dalam keadaan hamil. Maka, kabar gembira itu pun akan di sambut dengan baik, bergegas menyiapkan berbagai keperluan sang istri dan buah hati.

Begitulah bisyarah. Merupakan kabar gembira. Bisyarah nabi artinya adalah kabar gembira dari Allah SWT melalui lisan nabi. Dan inilah, yang membuat para sahabat bersemangat berjuang menegakan agama islam. Bisyarah itu merupakan hal bersifat pasti dan akan terwujud. Permasalahannya, perwujudan itu tidak pernah kita tahu kapan kan datang menjelang. Sama seperti bisyarah akan datangnya uang Rp 2 M dan juga bayi di dalam kandungan.


Suatu ketika, saat sedang dilaksanakan pelatihan, seorang trainer bertanya kepada para pesertanya. Dengan tegas ia lontarkan kalimat, “ Siapa yang mau mewujudkan bisyarah-bisyarah nabi ini?”. Ada yang ragu, ada yang malu-malu dan bahkan ada yang enggan mengangkat tangannya menggapai bisyarah ini. Dan segelintir orang saja yang mengangkat tangannya, tanda keberanian mereka mengejar janji tersebut. Sang trainer kemudian maju ke depan dan menendang podium yang ada. Ia mengatakan, “ Oooo… begini rupanya ummat terbaik tersebut?”


Ya, banyak sekali seribu alasan yang seakan-akan orang tidak berani mengambil langkah ekstrem dan tegas, dan memilih cara-cara batil dan enggan berjuang meneggakkan agama Islam ini. Padahal, Muhammad al-fatih yang senantiasa diberikan wejangan oleh Aaq Syamsuddin tentang bisyarah penaklukan konstantinopel tidak berdiam diri. Bisyarah itu pun dikejar olehnya, dan ia meyakini bisyarah itu terwujud dengan cara-cara ekstrem dan sesuai dengan aturan Islam. Bisyarah Rasul itu merupakan sebuah keyakinan kita bahwa kemenangan kaum muslimin akan senantiasa terwujud dengan menyelesaikan dan mewujudkan mimpi-mimpi bisyarah kenabian tersebut.


“Akan ada masa kenabian pada kalian selama yg Allah kehendaki Allah mengangkat atau menghilangkan kalau Allah menghendaki. Lalu akan ada masa Khilafah di atas manhaj nubuwwah selama Allah kehendaki kemudian Allah mengangkat jika Allah menghendaki. Lalu ada masa kerajaan yg sangat kuat selama yg Allah kehendaki kemudian Allah mengangkat bila Allah menghendaki. Lalu akan ada masa kerajaan selama yg Allah kehendaki kemudian Allah mengangkat bila Allah menghendaki. Lalu akan ada lagi masa kekhilafahan di atas manhaj nubuwwah.“ Kemudian beliau diam.” (HR. Ahmad)

Hadits di atas merupakan bisyarah dari Allah SWT melalui Rasul-Nya, yang menjelaskan bahwa suatu ketika Khilafah itu akan kembali. Kembalinya kekhilafahan ini, akan sama dengan keberadaan khilafah yang ada pada zaman para sahabat.

Kembalinya Khilafah ini, merupakan janji dan kabar gembira yang pasti (qoth’i) yang sewaktu-waktu akan terwujud dan tegak dan tertunaikan. Permasalahannya adalah, apakah kita memilih diam dan mengangguk-angguk tanpa melakukan tindakan yang nyata? Padahal kondisi saat ini, harusnya memacu kita lebih cepat lagi untuk menggapai Bisyarah ini.

Mungkin kalimat yang pas yang harus saya sampaikan kepada para sahabat semua mungkin seperti ini. “Wahai sahabat, Sungguh Allah SWT melalui lisan Rasul-Nya telah berujar bahwa Khilafah itu akan datang kembali. Khilafah itu akan tegak kembali. Dan sungguh, sepertinya kita yang akan mewujudkan hadits ini. Aku merasa bahwa inilah waktunya, bagi kita semua bergerak kawan. Kita sudah seringkali melihat kebiadaban musuh, kedzhaliman penguasa, dan kesengsaraan ummat. Waktu kita terbatas sahabat. Kalau bukan saat ini, mungkin waktu yang akan diperlukan untuk mewujudkan ini akan lebih lama lagi. Mari sahabat, Bukankah ini janji-Nya, bukankah terwujudnya ini menjadi sebuah mukjizat nabi, dan juga menyelamatkan ummat di seluruh dunia. Kawan, kaum muslim di seluruh dunia nasibnya tergantung pada kita.”

Mari kawan, Bisyarah ini harus segera kita wujudkan. Atau kita lebih memilih berdiam saja. Padahal kita semua bakal menerima kematian. Apakah sama orang-orang yang mati yang memperjuangkan tegaknya Khilafah dan Syariat Islam dengan orang yang berdiam diri atau bahkan memperjuangkan kekufuran demokrasi itu. Ingat kawan, dalam kehidupan ini kita hanya bisa memilih satu pilihan. Menjadi Taqwa atau menjadi kufur.

sumber : Zain Rahman El-Palembani
Fokus Institut/ Direktur Syiar-islam.com



Di balik Konspirasi 11 September

Betulkan WTC diledakkan oleh kaum muslimin ? Menyikapi peristiwa peledakan WTC 11 September 2001 kaum muslimin tidak satu pandangan. Sebagian besar menolak dan tidak percaya bahwa peristiwa mulia tersebut dilakukan oleh pahlawan-pahlawan muslim pemberani. Mereka menganggap kejadian tersebut adalah rekayasa dan konspirasi musuh Islam yakni Israel dan juga Amerika sendiri untuk menstigma buruk Islam dan kaum muslimin dan untuk memberikan justifikasi penyerangan mereka ke dunia Islam. Selintas sepertinya alasan ini cukup masuk akal.





apalagi yang menjadi alih-alih penyulutan dan pembelokan berita tentang isu-isu terorisme yang ditujukan mengacu menjurus kepada kaum muslimin.

sejenak kita beranjak, dari beberapa permasalahn negeri ini, misalkan, setiap kali ada berita tentang pembongkaran mengenai kecurangan, keganjalan yang terjadi di negeri ini, yang menjadi penutup citra pemberitaan di media terutama televisi adalah di kompor-komporkan kembali isu mengenai terorisme.

misal, kasus bank century yang sampai saat ini tidak tercium bagaimana finalnya, tapi sudah di alihkan oleh media dengan penutupan citra melalui pembahasan berita yang dialihkan ke terorisme, alih-alih kembali itu hanya untuk menutupi kebobrokan permasalah negeri ini pasti kembali ke isu-isu terorisme yang GONG awalnya memang yang dilakukan konspirasi barat pada peristiwa penabrakan WTC 11 September di Amerika, 11 september itu sungguh sangat luar biasa efeknya, terlebih pada dunia ISLAM. Banyak orang yang belum tau tentang ISLAM yang seharusnya ia mau untuk mencari tau tentang ketidak tahuan itu untuk belajar, mempelajarinya, mengkajinya mengenai ISLAM.





namun, karena terkesan militan dan jargon barat yang mengatakan itu fundamentalis, itu ekstream, itu terorisme, itu Radikal, membuat umat muslim jadi rentan dan enggan untuk mendalami ISLAM lebih mendalam kembali. Padahal jika kita mau buka mata den menengok keadaan saat ini, kaum muslim mengalami kemunduran yang saat luar biasa kemundurannya dalam berfikir dan entah sampai kapan kemunduran itu akan berakhir, hanya Allah yang tahu.

sejak pengomporan barat tentang "TERORISME" padahal "TERORISME menunjuk TERORISME" akhirnya umat muslim banyak yang menerima ISLAM cukup ISLAM yang biasa-biasa saja. ya ISLAM yang biasa-biasa saja, berarti kalau biasa-biasa saja berarti pahalanya biasa-biasa donk.

Ironis...!!!
bagaimana ISLAM akan jaya kembali, jika kita sebagai umat muslim hanya dengan sentilan kecil isu teroris saja jadi takut untuk mendalami ISLAM.
apakah ISLAM mengharapkan seperti itu ??? Tidak !


semoga argumen-argumen yang menjatuhkan kita yang menjegal perjalanan kita untuk mengkaji dan mendalami ISLAM dapat kita tolak dengan tegas dan terus tetap bersemangat untuk mengkaji dan mendalami ISLAM kembali, agar kejayaan ISLAM dapat menjaya kembali,,,
agar kemuliaan ISLAM dapat kembali ke pangkuan umat MUSLIMIN..amin





AYO SEMANGAT untuk berjuang untuk mengembalikan kembali kehidupan ISLAM yang dahulu pernah Rasulullah SAW contohkan, dengan kembali menerapkan aturan-aturan Allah secara menyeluruh dalam naungan sebuah institusi yaitu sebuah Negara Khilafah Rasyidah.amin

Jumat, 27 Agustus 2010

Penghambaanku . . .



. . .dibanyak malam aku berdo'a

karna diri ini trus merasa bagai tanah lumpur yang bernoda

tiada bersih hanya penuh cela



. . .dibanyak waktu aku tersadar hanya dosa dan dosa terhampar

meski tetes air mataku mengurai

tak akan dosa mampu terlelai

ya Allah hanya Engakau yang bisa ampuni hamba tunjukan Cahaya

Ya Allah Engkau, satu yang mampu pertolongan-Mu selamatkan aku




tiada daya aku tuk melangkah

bertemu dengan-MU pun aku tak kuasa

tapi kepada siapa lagi ku memohon

selain kepada-MU, kembali aku




. . . dibanyak hari aku mencoba

sebut nama tuk mengingatkan

agar tidak mengulang salah-salah yang sama

salah yang selalu berakhir penyesalan




memang penghambaanku belumlah sempurna

segala nilai ibadah masih terpatri duniawai

segala nilai terbentik pujian

ya Allah tetapkan imanku untuk terus dijalan-MU

Selasa, 24 Agustus 2010

Ramadhan: Saatnya Berubah !!


Alhamdulillah, segala pujian dan rasa syukur kita panjatkan hanya kepada Allah SWT, Rabbul ‘alamin, atas nikmat kesempatan yang dihamparkan kepada kita hingga kita bisa kembali bersua dengan syahrul mubarak (syahrus shiyam). Tidak seorang pun dari kita bisa memastikan apakah masih ada kesempatan untuk bersua dengan syahrul maghfirah di 1432 H tahun depan. Karenanya, layak kiranya kita memaksimalkan bulan Ramadhan tahun ini sebagai medium yang efektif untuk melahirkan perubahan-perubahan penting dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat maupun bernegara.

Sadar atau tidak, dari tahun ke tahun ketika kita berkesempatan untuk bertemu dengan Ramadhan. Lalu kita menghiasinya dengan antusias dengan berbagai bentuk macam ibadah wajib maupun sunnah. Kita pun meninggalkan semua perkara yang membatalkan puasa; kita tinggalkan segala perkara yang haram hingga yang makruh, bahkan perkara mubah yang tidak ada nilai taqarrub-nya kepada Allah SWT. Singkatnya, Ramadhan kita isi sepenuhnya dengan ragam amal shalih.

Ramadhan di Tengah Keprihatinan
Sayang, dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, ternyata hingga saat ini kita masih menyaksikan potret kehidupan umat Islam-yang hidup di negeri dengan julukan “zamrud katulistiwa”-yang penuh dengan keprihatinan yang luar biasa. Hasil sensus BPS tahun 2010 ini menunjukkan, dari jumlah penduduk Indonesia sekitar 230 juta, yang masuk kategori miskin sekitar 13% lebih atau (sekitar 30 juta lebih) itu pun jika menggunakan standar yang tidak manusiawi, yakni kemiskinan diukur dengan pendapatan perorang 1 dolar AS/hari (sekitar Rp 9 ribu). Kalau menggunakan standar Bank Dunia, yakni 2 dolar AS/hari (sekitar Rp 18 ribu) tentu kita akan menemukan angka lebih dari 100 juta penduduk miskin di Indonesia. Ironisnya, meski penduduknya banyak yang miskin, negeri ini termasuk negeri terkorup. Riset PERC (Political & economic Risk Consultancy) yang berbasis di Hongkong merilis bahwa Indonesia memiliki indek korupsi hampir “sempurna”; 9,07 dari angka maksimal 10. Padahal sumber APBN negeri ini 70%-nya dari pajak rakyat. Artinya, para koruptor di negeri ini banyak mengkorupsi uang rakyat.

Di negeri ini, meski sudah 65 tahun merdeka, faktanya masih ada 183 kabupaten tertinggal yang tersebar di kawasan Indoensia Timur (70%) dan kawasan Barat Indonesia (30%).

Potret ketidakadilan dalam penegakkan hukum juga demikian kasatmata. Hukum begitu rapuh dan “jompo” jika berhadapan dengan pemilik modal, pejabat dan penguasa; tetapi begitu “gagah” saat berhadapan dengan rakyat kecil dan tidak begitu “melek” hukum.
Kasus terorisme juga terus menampilkan sikap arogan aparat dengan menumpahkan darah rakyat begitu saja hanya bersandarkan pada dugaan atau baru diduga teroris. Langkah kontra-terorisme ini tampak sarat dengan pelanggaran HAM dan tercium kuat aroma “pesanan” dari negara penjajah AS dengan proyek “perang melawan terorisme”. Bahkan ada upaya pelembagaan “perang melawan terorisme” ini dengan lahirnya BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) sebagai proyek jangka panjang kontra-terorisme.
Perilaku “tak bernurani” dari para pejabat Pemerintah maupun DPR juga kerap menjadi berita dan fakta yang mengusik rasa keadilan masyarakat. Misal saja, munculnya uang aspirasi, dana plesiran pejabat, uang rumah atau banyak bentuk “saweran’ lainya sudah menjadi budaya politik di negeri Indonesia. Keadaan ini sangat bertolak belakang dengan kesulitan rakyat hari ini akibat kenaikan tarif dasar listrik (TDL), melambungnya harga berbagai kebutuhan pokok, belum lagi jika bulan depan Pemerintah menaikkan lagi harga BBM. Ironisnya, kenaikan harga yang menjadikan daya beli masyarakat turun dan melahirkan efek domino lainnya di anggap wajar oleh penguasa negeri (Presiden SBY).

Belum lagi jika kita berbicara tentang kebobrokan moral generasi kita, dengan munculnya banyak kasus asusila/pornografi-pornoaksi. Semua itu didukung oleh media yang seolah berupaya meracuni generasi Islam sekaligus mengarahkan mereka pada kultur dan budaya Barat yang bobrok, yang tentu saja berseberangan dengan budaya Islam.

Di sisi lain, penguasa negeri ini malah justru merasa bangga karena negeri ini menjadi negara demokrasi terbesar di dunia Islam. Padahal demokrasi-kapitalis yang diterapkan di negeri inilah yang menjadi akar lahirnya peradaban “sampah” di negeri ini.

Takwa: “Buah Manis” Puasa Ramadhan
Dengan melihat semua fakta ini, kita patut bertanya, bukankah negeri ini mayoritas penghuninya adalah Muslim? Bukankah mayoritas para pejabat/penguasa yang bertengger di kursi-kursi empuk mewah itu juga mayoritas Muslim? Bukankah mereka, saat memasuki bulan Ramadhan, berbondong-bondong antusias mengisinya dengan beragam ibadah agar bisa meraih takwa?

Bukankah setiap Muslim tahu bahwa takwa adalah buah manis yang harus diraih dari proses puasa yang dilakukan sebulan penuh selama Ramadhan? Namun, mengapa puasa Ramadhan seolah tidak memberikan pengaruh apa-apa kepada mereka? Mengapa usai Ramadhan mereka tidak terlahir menjadi pribadi yang baru, yakni pribadi yang benar-benar bertakwa sebagai buah dari puasa Ramadhan?
Tentu, dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, setiap Muslim merindukan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya; kehidupan yang dinamis di bawah sebuah sistem yang sahih, yang bisa menenteramkan jiwa, memuaskan akal dan sesuai dengan fitrah manusia; kehidupan yang dipimpin oleh orang-orang salih, berpandangan jauh ke depan dan visi keumatannya lebih menonjol daripada visi dan kepentingan nafsu pribadinya.

Semua itu landasannya adalah takwa. Takwalah yang menjadikan manusia meraih derajat paling mulia di sisi Allah SWT:
إِنَّ أَكرَمَكُم عِندَ اللَّهِ أَتقىٰكُم ۚ إِنَّ اللَّهَ عَليمٌ خَبيرٌ
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa (QS al-Hujurat [49]: 13).
Takwa pula yang menjadi buah manis dari ibadah puasa selama Ramadhan:
يٰأَيُّهَا الَّذينَ ءامَنوا كُتِبَ عَلَيكُمُ الصِّيامُ كَما كُتِبَ عَلَى الَّذينَ مِن قَبلِكُم لَعَلَّكُم تَتَّقونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 183).

Tentu, Allah SWT tidak pernah menyelisihi janji dan firman-Nya. Jika umat ini mengerjakan ibadah puasa dengan benar (sesuai dengan tuntunan al-Quran dan as-Sunnah) dan ikhlas semata-mata mengharap ridla Allah SWT-seraya belajar memahami hakikat berbagai peribadatan untuk menjadikan dan membentuk jiwa seorang Muslim tunduk pada segala aturan (syariah) dan tuntunan yang dibawa Rasulullah saw.-niscaya hikmah takwa itu akan dapat terwujud.

Saatnya Berubah!
Sadarkah kita, bahwa Ramadhan bagi umat Islam itu bukan segalanya? Ramadhan adalah bagian dari bulan saat Allah SWT memerintahkan di dalamnya satu kewajiban, yakni ibadah puasa. Namun, kewajiban sebagai hamba Allah SWT tidak hanya sebatas puasa. Tentu masih banyak kewajiban lain selain puasa. Ya, Islam tidak sebatas puasa; atau sebatas shalat dan ibadah ritual lainnya. Namun, puasa bisa dijadikan titik tolak untuk menuju perubahan kehidupan kaum Muslim yang lebih baik secara keseluruhan.
Sejatinya, bagi setiap Muslim yang bertakwa, Ramadhan tidak akan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak ukiran yang terpahat kuat di dalam dirinya, yakni sebuah nilai kesadaran akan pentingnya kembali hidup taat dengan aturan Allah SWT.
Bagi seorang Muslim yang bertakwa, akidah dan syariah Islam adalah kebutuhan dan persoalan antara hidup dan mati. Akidah dan syariah Islam harus menjadi faktor penentu hidup ini berarti atau tidak, mulia atau hina, baik dalam di dunia maupun di akhirat kelak.

Karena itu, seorang Muslim yang bertakwa harus berani mengatakan “tidak” terhadap sekularisme. Ia harus segera membuang demokrasi dan mencampakkan ideologi Kapitalisme dengan semua nilai turunannya. Sebab, semua itu jelas-jelas bertentangan dengan akidah dan syariah Islam. Semua itu wajib dilakukan oleh setiap Muslim yang bertakwa selagi Allah SWT masih memberikan kesempatan dan sebelum datangnya ketentuan-Nya:

حَتّىٰ إِذا جاءَ أَحَدَهُمُ المَوتُ قالَ رَبِّ ارجِعونِ ﴿٩٩﴾ لَعَلّى أَعمَلُ صٰلِحًا فيما تَرَكتُ ۚ كَلّا ۚ إِنَّها كَلِمَةٌ هُوَ قائِلُها ۖ وَمِن وَرائِهِم بَرزَخٌ إِلىٰ يَومِ يُبعَثونَ ﴿١٠٠﴾

Hingga jika datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku bias berbuat amal salih sebagai ganti dari yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang dia ucapkan saja. Di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan (QS al-Mukminun []: 99-100).

Sudah menjadi fakta yang tidak terelakkan, jawaban atas carut-marutnya kehidupan kaum Muslim, khususnya di negeri ini, adalah kembali ke jalan Allah SWT, yaitu dengan menegakkan kembali hukum-hukum-Nya secara kaffah dalam institusi Daulah Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. Sebab, tiada kemulian tanpa Islam, tiada Islam tanpa syariah, dan tidak akan pernah ada syariah yang kaffah kecuali dengan menegakkan Daulah Khilafah al-Islamiyah. Allah SWT berfirman:

وَيَومَئِذٍ يَفرَحُ المُؤمِنونَ ﴿٤﴾ بِنَصرِ اللَّهِ ۚ يَنصُرُ مَن يَشاءُ ۖ وَهُوَ العَزيزُ الرَّحيمُ ﴿٥﴾
Pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki dan Dia Mahaperkasa lagi Penyayang (QS ar-Rum [30]: 4-5).

semoga kita mampu untuk mengadakan suatu perubahan itu, baik untuk perubahan diri sendiri, lingkungan disekitar kita dan negara,amin ya robb

karena berubahan adalah sesuatu aktivitas yang tidak bisa dibiarkan hanya dengan diam, butuh proses untuk suatu perubahan karena berproses bukan berarti diam

*diambil dari Al ISLAM edisi 519

Rabu, 18 Agustus 2010

Buktikan dengan Cinta…


Ungkapkan dengan cinta...jika memang kau mau merelakannya
Buktikan dengan cinta...jika engkau mau diatur oleh aturan-NYA
Lakukan dengan cinta...jika engakau memahami untuk menggapai ridho-NYA
Katakan dengan cinta...jika engkau mampu mensyiarkannya

Jalan ini memang tak semulus yang kita kira
Kita lahir dalam sistem yang sudah terkungkung dengan kebobrokan mutlak
Kitapun besar disitu, hingga tak terasa ternyata yang kita dapatkan adalah hal-hal yang merusak pula
Kitapun buta akan kebenaran gara-gara alang-alang KAPITALISME menghalangi didepan muka kita

Penatnya dunia membuatku merasa biasa saja, muski sebenarnya sangat sesak
Rehatnya raganya ini terasa gerah, hingga tak mempu membisik sejuk dikalbu
Sampaikan sandiwara skenario Barat yang menghujam dalam negeri kita ini
Negeri-negeri muslim yang dijadikan mangsa, dijajah, dan diperalat

Kita telah kehilangan bendungan besar yang sangat berarti dan berguna untuk melangsungkan kehidupan ini
Namun bendungan itu runtuh karena diruntuhkan orang-orang asing yang tidak suka bendungan itu kokoh berdiri menjadi sumber kehidupan dalam memenihi kebutuhan penduduk sekitarnya

Maka, cita-cita orang barat itu berhasil meruntuhkannya, hingga airpun membanjiri kawahan dan kawasan pemukiman disekitarnya
Apa yang harus kita lakukan ?

Lebih memilih membangun kembali bendungan itu, atau kita sibuk membersihka genangan air yang selalu masuk ke dalam rumah kita
Begitu lah kawan, adakah kita lupa sebagai kaum Muslim.

Yang dulu ISLAM pernah Berjaya dan menaungi 2/3 Dunia membentuk peradaban Besar yang tidak dapat tertandingi, itulah negera ISLAM yang sering disebut Khilafah ISlamiyah. Kita analogikan bahwa Bandungan itu adalah Khilafah yang sejak tanggal 3 Maret 1924 dihancurkan lewat tangan antek-entek penjajah hingga sampai saat ini belum berdiri kembali, segala masalah selalu saja hadir karena bendungan itu runtuh yang ada hanya solusi parsial

Dan justru Bukan sibuk membersihkan rumah kita masing-masing (nasionalisme /yang lebih memilih memikirkan diri sendiri) tapi ayo bangkitkah bangun kembali bendungan itu, agar tak kerja berulang-ulang kali membersihkan rumah karena sumber permasalahan dapat diatasi

IT’s time to struggle to build again bendungan yang hancur selama ini. Ya bendungan itu adalah KHILAFAH…

Buktikan dengan Cinta.