Senin, 18 Februari 2013

Beruntunglah Anda

Bismillaah...

Beruntung bagi manusia kini yang mau sadar dan berfikir
Ketika setiap urusan akan dimintai pertanggungjawaban dan tak bisa mangkir
Beruntunglah bagi manusia yang mau memeluk Islam sebagai penyelamat
Ditengah hiruk pikuk huru-hara kapitalisme banyak manusia terjebak pada sekulerisasi yang menjerat

Apakah masih ada kesempatan untuk merupakan suasana?
Mungkin ketika memandang dengan sebuah logika seolah tak mungkin untuk mengubahnya
Karena melihat fenomena banyak fakta yang sudah begitu bobrok dan rusaknya
Berbeda bagi yang yakin akan kekuatan “KUN FAYAKUN” tak ada yang sulit mengubah bagi-NYA

Namun, bukan lantas demikian bertatap dan berdiam diri menunggu datangnya perubahan
Harus ada hasrat yang berjalan dengan lingkup ibadah menuju perubahan pada kemenangan
Rubahlah apa yang bisa kita lakukan
Jika kita bisa lakukan dengan lisan, maka lakukan
Jika kita bisa melakukannya dengan tulisan, maka lakukan

Berbicara suatu kemenangan yang telah Allah janjikan adalah perkara keimanan
Maka jika tak tersentuh seseorang akan “keyakinannya” pastilah tak percaya akan niscaya datangnya kemenangan
Kuncinya ada pada keimanan!
Bukan terletak pada sebuah pembenaran namun dari kedalaman akan keyakinan sebuah kebenaran.[Ty]

Tetap tegap, muski Tantangan Menghinggap


Bismillaah...

Detik ini, menemui kembali hari baru yang kan terus berlari
Melihat akan pengalaman masa lalu yang tlah terlalui
Tentu memberikan arti dalam perjalanan hidup ini
Namun apakah akan bisa tetap membekas pada diri?

Jika lingkungan negeri tak lagi bisa menjagai
Jika tabiat insan tercetak buruk hasil didikan sistem negeri
Apakah bisa kita berdiri dalam kubangan ini?
Selalu ada semangat dan asa meniti hari yang kan selalu terjalani

Bisikan motivasi mengukuhi tempaan ujian yang kan selalu menguati
Dan ada Al Qur'an sebagai motivasi terbaik pada hidup ini
Apakah masih kurang solusi?
Kejadian dan terpaan cobaan negeri ini semakin membuat ngeri

Negeri yang memelihara kesuburan memaksiatan yang terus terlegali
Lantas, akan kepada siapa lagi kita kan mengadu dan berharap kalau bukan pada Ridho Illahi
Satu harapan besar detik ini, yakni bisa Istiqomah dijalan dakwah mabda'i
Serta berpinta segera dapat hidup dibawah naungan Khilafah Rasyidah yang tlah lama dinanti

Istri Pendukung Dakwah Suami


Dukungan istri bagi dakwah suami :
1. Ikhlas menerima kewajiban dakwah (bagi laki-laki maupun perempuan)
2. Memperkuat diri kita dengan pemahaman islam, agar bisa membantu suami atau skedar menjadi teman sharing
3. Meringankan beban hidup suami dengan tidak banyak permintaan sehingga suami tidak tersibukan memenuhi keinginan-keinginan istri
4. Sabar menghadapi ujian dakwah, karena ujian adalah tabiat dalam dakwah Islam
5. Rela berkorban, lihatlah profil istri Abu Bakar As Siddiq yang rela di tinggal ketika suaminya menemani Rosululloh hijrah, bahkan tidak di tinggali harta karena semua di sedekahkan di jalan dakwah, jangan sampai istri menjadi penghambat suami dalam berkorban
6. Memberi ketenangan pada suami
7. Pandai membaca kondisi suami
8. Pendukung langsung dakwah suami.

Semoga para istri-istri di beri kekuatan untuk berjuang sekaligus mendukung sepenuhnya dakwah suami demi tegaknya sistem Islam kembali. Allahu Akbar!!

Sudah Tak Sabar

Jujur! Aku muak sekali dengan kungkungan dan penjagaan sistem demokrasi ini. Wahai saudaraku bukalah mata dan bukalah telinga anda!

Begitu miris melihat banyak berita tentang perempuan yang dijadikan eksploitasi komoditas, perempuan dijadikan korban dan anehnya perempuan mudah dibodohi. Ada lagi hal yang membuatku ingin berteriak keras dan ingin segera keluar dari kubangan ini, ketika kehormatan perempuan mudah digadaikan hanya untuk memenuhi kepuasan para lelaki hidung belang, para pacarnya yang tidak halal baginya dan hanya mengejar materi belaka. Sungguh parah yang luar biasa, ditambah lihatlah akan marak dan menjamurnya kasus freesex, kasus penjualan orang, kasus lokalisasi, kasus aborsi, kasus bunh diri dan masih banyak lagi lainnya. Dan ini posisi perempuanlah yang dijadikan korban. Lagi-lagi perempuan mudah untuk dibodohi. Sungguh sesak dan ingin berteriak keras dan lantang "benar-benar demokrasi sistem gila, sistem bobrok sebobroknya sistem!". Lantas mau apa lagi yang bisa dipertahankan pada demokrasi kini, sadarlah wahai saudaraku, jangan mau bungkam mulut dan tutup mata hanya karna buaian "atas nama hak asasi manusia", omong kosong itu semuanya!

Biarkan aku marah dalam kemarahanku
Biarkan aku kepayah melihat fenomena itu
Selalu ada harapan untuk mendapatkan jalan kaluar

Satu harapan itu hanyalah kembali kepada aturan Allah, yang kelak akan memberikan barokah dari langit dan bumi ini. Jika saat ini masih ada yang bilang mengganti demokrasi itu SULIT maka fahamilah kesulitan itu bukan terletak pada "ketidak mampu kita" namun terletak pada perjuangan melawan arus "Individu VS Sistem". Maka sungguh urgent bagi kita untuk mengakhiri kebiadaban sistem demokrasi ini dengan cara mengadakan skup sistem tandingannya yang sama-sama bentuknya sistem yakni sistem ISLAM dibawah naungan Negara ISLAM.

Ku tegaskan kembali ini adalah hal yang urgent, sistem saat ini harus segera diganti dengan SISTEM ISLAM. Makaku tak tahu harus memberi tahu apa lagi, kalau bukan hanya dengan mengganti sistem. Jika anda sudah ada asa untuk pengubah kondisi kini, maka langkah yang selanjutnya kita tempuh adalah istiqomah untuk menjadikan ideologi Islam sebagai benteng individu dan membawanya untuk bisa diemban oleh Negara.

tak sabar untuk melihat #DemokrasiMati

Sabtu, 16 Februari 2013

Ini Tentang Cinta


“Mengapa sampai saat detik ini masih terjadi fenomena pacaran?” Sebuah pertanyaan yang sepintas muncul seusai sepulangku dari kost teman yang berada disekitar kampus. Fokus pada perjalanan pulang dengan motor warna putih-merahku memandangi peristiwa perjalanan pulang. Masih saja ku temui duo laki-laki dan wanita beraktivitas layaknya kaka dan adik atau orang yang sudah menikah. Bukan hanya satu atau dua, mungkin bisa mencapai berbilang puluhan, dalam perjalanan pulang dengan durasi kurang lebih 30 menit.

Memang tak bisa dipungkiri bahwa fenomena aktivitas yang “non halal” alias pacaran ini masih tercecer disekitar kita. Tak hanya lingkup tetangga rumah namun tak luput pula dunia mahasiswa, dunia para pelajar dan para remajanya, bahkan anak SD yang usianya dini.

#Ingat!, ini hanya ada di sistem demokrasi

Mencoba merenungi dan memikirkan, apakah kiranya yang kemudian membuat hal ini bisa tumbuh subur dan sudah turun temurun generasi ke generasi selanjutnya. Memandangi orang yang sudah berkepala dua, seusia mahasiswa atau yang sudah bekerja bergelar dengan status “pacaran”. Apakah mereka mau dikatakan dengan sebutan “Seperti anak-anak saja”. Mengapa? Karena menurutku, perbuatan “non halal” tersebut demikian hanya dilakukan bagi orang yang akalnya belum berfungsi secara sempurna. Tentu tahu, masa anak-anak atau usia belum baligh, itulah usia dimana akal dikatakan belum sempurna. Akan yang belum sempurna ia belum bisa menimbang, antara mana yang benar dan mana yang salah. Antara mana yang haq dan mana yang bathil. Bukankah para pelaku pacaran sangat mirip seperti anak-anak yang akalnya belum sempurna. Karena anak-anak belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Cukup lucu bukan? memang dan #Ingat! Ini hanya di sistem demokrasi-sekuler saat ini. Terkadang aku pun juga berfikir apa sih yang gak lucu dan membuat heran kita hidup di sistem demokrasi-sekuler saat ini.  Hampir semua lini kehidupannya dibuat lumrah dan hal yang wajar biasa saja, itupun dibumbui dengan istilah “kan atas dasar Hak Asasi Manusia”. Maka lagi-lagi jangan heran, kalau ada orang yang pacaran ya dibilang “Biasa aja tuh”, ada orang mabuk “Biasa aja neng”. Ada orang judi “Biasa aja dik”, Ada orang korupsi “Biasa itu nduk”. Ada Aborsi “Biasa aja mbak”. Ada pemerkosaan “Sudah biasa itu mah”. What!!! Semua dibilang biasa? Terus yang luar biasa yang seperti apa??
Rasanya hati tercincang-cincang, ketika suatu kemaksiatan dianggap biasa, ketika hukum Allah seolah tak layak menyentuhnya. Ketika berkah Allah tak turun karena banyaknya ahli maksiat, masyallah….apakah terus akan dibuat buta dan tuli???
Bagi orang yang punya AKAL tentu tidak akan membiarkannya, karena orang yang berakal, akalnya berfungsi untuk membedakan mana yang benar dan mana itu yang salah.
Sabar, memang hidup disistem saat ini bisa naik pitam kalau kita tak menundukan pada aturan yang Maha Mengatur yakni Allah swt.

Jika saja negeri ini akan terus melanjutkan sistem demokrasi-sekulernya maka ku pastikan fenomena ini akan terus menerus akan menjadi warisan turun temurun tidak habis tujuh turunan lanjut ntah sampai turunan keberapa.

Ku Tanya pada para aktivis pacaran. Bukankah pacaran itu adalah berbuatan yang anda tahu bahwa didalamnya ada hal yang bertentangan dengan aqidah Islam. Di sisi lain ku tahu memang ada segelintir aktivis pacaran yang menyadarinya, namun jangan salah juga tetap ada yang getol “sudah tahu hukumnya” tapi pura-pura gak tahu. Fatalnya dia sampai menyetop diri untuk tidak mau mendengarkan atau melihat tulisan kita ini dengan dalih “Ngapain sih lo ngurusi gue, Pliss deh gak usah sok ngurusin orang laen, urusin aja tuh diri loe sendiri, keluarga loe ama orang tua loe”. Really, ketemu orang beginian memang harus lapang sabarnya, kita pun gak bisa “ngotot dan memaksanya”. Cukuplah nada pelan terbunyi “segeralah bertaubat sebelum terlambat”. Jika ucapan singkat demikian sudah terlontar namun juga tak lagi digubris. Kelak ia akan menyadarinya bahwa aktivitasnya kini adalah pada posisi istilah “Jaman Jahiliyah”.

Mari buka mata, buka telinga. Aku tidak membencimu secara individumu namun akan pemikiranmu yang demikian. Dan ini sadarilah, namun jika tidak sadar. Waktu kelak yang akan menjawabnya.

Aku sendiri lagi-lagi kembali diherankan dan #Ingat! Ini hanya ada di demokrasi

Sudah tahu kalau pacaran itu bisa bikin sakit hati namun kenapa juga masih dijalani.
Sudah tahu kalau pacaran itu adalah hal yang haram namun tetap saja dilakoni
Sudah tahu kalau pacaran itu bisa bikin zina hati, fikiran dan tangan tetap saja diijabahi
Sudah tahu kalau pacarank itu bisa bikin patah hati, namun tetap saja disayangi
Sudah tahu kalau pacaran itu bisa dikhianati, namun tetap saja terpikati
Sudah tahu kalau pacara itu bisa diselingkuhi, tapi masih saja mencintai
Sudah tahu kalau pacaran itu bisa ditinggalkan, tapi tetap saja diratapi
Sudah tahu kalau pacaran itu bisa mengarahkan free sex, tapi tetap saja mau diarahi
Sudah tahu kalau pacaran itu bukan cinta yang hakiki, namun tetap saja dipegangi
Sudah tahu kalau pacaran itu bisa melupakan dari aturan Allah, namun tetap dipaksakan dengan dalil pacaran Islami.

Masyallah…akan sampai kapan sudah tahunya mereka berhenti kepada titik “SADAR” dan menyetop praharanya

Ancaman kesadaran itu kini sedang dibungkus oleh sistem demokrasi-sekuler yang akan terus mengkondisikan aktivitas ini tetap langgeng. Karena kekuatan demokrasi salah satunya adalah kebebasan dalam berekspresi. Lihatlah bagaimana menjagainya “non halal” ini yakni dengan jajanan film sinetron yang berisi “love dan pacaran”, pada ranah iklan dijumpai para modelnya para perempuan yang gaunnya separuh jaitan bak kekurangan kain.Di area media cetak, majalah, Koran, buku-buku, otak kotor dan gambar kotor pun tersebar leluasa. Bagaimana negeri ini generasinya gak jebol akalnya, lingkungannya mendidik dengan didikan jahat.

#Ingat!, ini hanya ada di demokrasi
Teruntuk para aktivis pacaran, jika kamu memang cinta dengan dia,  maka cintailah dia dengan cara Yang Allah cintai, yakni menjadikan hukum Allah sebagai standar dalam berbuat. Untuk itu jika memang cinta jangan kau nodai dengan noktah-noktah hitam kemaksiatan yang kau bangun dengannya
Jika memang cinta jangan biarkan ia terjerumus dan terperosok jauh pada palung siksa api neraka
Jika memang cinta jangan biarkan dia menyesal karena perbuatan maksiatnya dilakukan dengan dirimu
Ku tahu memang ini bukan hal yang mudah, bahkan mungkin kau akan mengatakan bahwa “aku takut putusku justru akan menyakitinya”.
Fahamilah, lantas apakah hati harus selalu merasakan perasaan senang terus? Tidak! ingatlah Allah bahwa Allah memberikan dan memberikan hati kepada manusia punya dua fungsi yakni bukan hanya sekedar untuk merasakan rasa senang melainkan adakalanya hati juga bisa merasakan sakit, ya senang dan sakit. Namun sakit itu semestinya membuatmu tersadarkan dan bukan malah justru memelihara dia dalam kondisi yang justru akan menyakiti hati dan badan dia kelak dihadapan-Nya.

Lebih milih mana antara besuk diakherat ketemu lagi di Surga-Nya karena kau telah menjadikan dia sebagai bidadari surgamu dengan ketaatan kepada Illahi Robbi atau bagi yang perempuan bisa bertemu kembali dengan menjadi suamimu kelak di Surga-Nya. Ataukah justru bertemu ditempat selain Surga? Naudzubillaah…

Bukankah Islam yang kau anut tak sekedar hadir dalam sholat, puasa, zakat atau mampu hajimu. Islam juga ada aturan saat keluarnya kau dari masjid,  akan busanamu,  akan akhlakmu, akan makan dan minimum dan juga akan pergaulanmu antar dengan lawan jenis. Islam memberikan solusinya. Ketika sudah mampu serta siap maka menikahlah, namun jika belum mampu tundukanlah pandangan, jagai kehormatan dan berpuasalah. Inilah cara Islam yang mencerdaskan kita, memberikan solusi dari gejolak naluri nau’ (naluri melestarikan keturunan) bagi setiap makhluk hidup yang telah dibekali akal oleh-Nya.[Ty]


Kamis, 14 Februari 2013

Tak Ada Yang Menyangka

Wajahnya ceria, baru tadi pagi ia mengkuti kajian ushul fiqh. Sebut saja namanya Muslimah. Ia duduk diruang tengah mampir main di Rumah Binaan (Rumbin) Muslimah ngobrol-ngobrol santai. Aku pun turut menemaninya mengobrol sebentar sembari menunggu adik-adik yang belum datang untuk Kajian tambahan. Waktu menunjukkan pukul 10.00 adik-adik satu persatu berdatangan, kami berempat pun Kajian Tambahan didepan teras. Kajian kali ini membahas tentang "Kaidah Kausalitas" pembahasan yang urgent bagi kita yang ingin berhasil dalam mencapai tujuan. Muslimahku tinggalkan tetap duduk di ruang tengah dengan Mbak Tanjuu (Sahabat yang tinggal di Rumbin).

Berselang waktu sekitar dua jam, forum tambahan kami selesai. Kami berjeda yang awalnya terencana untuk makan siang dan sholat.  Dengan menjinjing tas dan jaket Aku masuk ke dalam Rumbin. Saat aku meletakkan tas dan jaket diruang tengah aku melihat dari pintu kamar pojok yang kebetulan dekat dengan ruang tegah melihat ada yang terkudung slimut dari atas hingga bawah. Ku lihat "Itu Muslimah". Ku masuk kamar ada Mbak Tanjuu disana. "Muslimah kenapa mbak?" Tanyaku
"Tiba-tiba dia demam,tolong pijatkan kakinya sebelah sini dan sini" Jawab Mbak Tanjuu sembari menunjukkan gambar kaki pada buku pijat herbal. Kondisinya menggigil kedinginan, Masyallah bagian leher keatas dan wajahnya begitu panas. Namun ia justru merasakan kedinginan. Awalnya aku sangat heran "Perasaan baru tadi pagi dia duduk diruang tengah baik-baik saja". Tapi kini ia berbaring diatas kasur berselimut double dan meringkih kesakitan. Sesekali ia muntah, setiap ada sesuatu yang dimasukkan ia muntah. Aku dan Mbak Tanjuu hanya bisa memijat kaki, kepalanya serta memberikan madu dan sari kurma. Walhasil ia pun juga tetap muntah tak bisa perutnya untuk dimasuki makanan.

Waktu terus berlalu, ku tinggal sejenak untuk menunaikan sholat.
Masih saja Muslimah belum turun panasnya, terus dituntun doa dan banyak sahabat-sahabat lainnya berdatangan menemaninya. Singkat waktu.
Hampir menunjukkan waktu ashar, Muslimah masih dalam kondisi sering muntah dan demam. Ada masa dimana saat itu kondisinya cukup menegangkan. Muslimah yang berbaring diatas kasur meneteskan air mata dengan nada kuatir ia mengatakan "tanganku...kesemutan,  semua badanku kesemutan, tanganku...tanganku...tidak bisa digerakkan. Aku coba untuk menyentuhnya namun ia bilang "Sakit, jangan dipegang. Gimana tidak bisa digerakan".
Istigfar ukh, ia pun beristigfar banyak dan memohon kepada Allah. Masyallah kita sungguh panik dan bingung harus bagaimana lagi. Dengan nada lirih Muslimah memintaku untuk "Tolong bacakan aku Al Qur'an, tolong ukhty". Bergegas ku singsingan lengan jilbab dan berlari menuju ke kran samping dapur di belakang untuk wudhu. Baru hendak memegang Qur'an ia teriak "Tolong panggilkan adikku, tolong!".

Kuambil kunci motor, bergegas keluar dan menyalakan "slah" motor. Aku pun menuju kost Muslimah yang jaraknya tidak jauh dari Rumbin. Ku parkir motor didepan,segera ku berlari dan mengetuk-ketuk pintu. Untung adiknya ada dikost. "Dik, ke Rumbin yuk". Dengan heran si adek bilang "Ahh gak ahh, mbak ngapain hujan gini". "Hujan gerimis kok dik" Sambungku. Ayo dek, Mbakmu pusing de. Mbak ga tau apa obatnya mungkin adik bisa minta tolong untuk membelikannya ke Apotek". 
"Gak mau mbak, mbakku tadi pagi saja baik-baik". "Udahlah dek ayo ikut". Awalnya ia susah untuk diajak menemui kakaknya akhirnya terbujuk juga.

Sesampai di Rumbin, pintu kamar ditutup. Ku tanya Mbak Tanjuu "Gimana mbak kondisinya?" "ia sedang sholat"Jawabnya.
Aku tidak mengikuti bagaimana kondisi dia seketika bisa bergerak dan bertayamum untuk sholat. Subhanallah...muski masih pusing Muslimah tetap menjalankan sholat dan kami pun berjamaah sholat. Seusai sholat, kami menyimak tadarus bersama. Ia masih pusing sembari baringan.

***
Ibroh yang bisa kita ambil dari kisah nyata ini adalah
1. Tak ada yang menyangka kapan datangnya sakit, hal yang awalnya kita lihat sehat-sehat saja, namun seketika itu juga bisa sakit.
2. Tawakal  kepada Allah, orang yang sakit seketika itu jua ia akan teringat akan kesalahan-kesalahan yang dilakukannya. Maka orang yang sakit semestinya akan tergerak untuk bertekad lebih baik lagi daripada sebelumnya. Untuk itu, berbuat amal sholih dan taat kepada Allah janganlah menunggu tersadarkan dengan menunggu datangnya sebuah ujian sakit baru akan sadar.
3. Bagi kita saat ini yang masih sehat, betapa luar biasanya nikmat kesehatan yang Allah berikan kepada kita saat ini. Semoga kita bisa menggunakan sisa-sisa waktu kehidupan ini dengan lebih baik untuk mengharapkan keridhoan-Nya dengan menjadi sebaik-baik hamba. Insyallah


Gubug Biru, 15/02/13, 7.05 am

Selasa, 12 Februari 2013

Buat yang ngerasa MUDA

Bismillaah...

Yang masih ngerasa muda kudu dibaca! *yang ngerasa muda loh :)
*Jreeeengg...diiringi musik akustikan yang melow*

Ia menyadari bahwa itu ada perkara yang dilarang dalam keyakinan agama yang dianutnya
Ia menyadari bahwa itu adalah hal yang bisa membuat sakit hati dan sekedar kesenangan sesaat saja
Ia pun menyadari bahwa hidupnya adalah sebuah pilihan, namun sayangnya ia tetap berpilih pada jalan kemurkaan-Nya

Apakah ini yang akan terus dan masih dipertahankan? Wahai para aktivis pacaran.
Berpuluh-puluh detik kau gadaikan untuk mengedepankan perasaan kepada seseorang yang justru membantumu untuk mendapatkan murka-Nya.
Berjuta-juta pori-pori aurat telah kau perlihatkan apakah masih kau tak menyadarinya, bahwa waktu dan perbuatan tak akan berhenti untuk kelak dihisab (dimintai pertanggungjawabnya)

Nista dan Dzalim akan sistem demokrasi-sekuler negeri ini yang justru membebaskan dan semakin menjerumuskan umat muslim, jatuh jauh pada lubang kenestapaan

Wahai aktivis pacaran!
Sebelum ajal menjemput, sebelum pintu taubat tertutup
Cukuplah dengan kata putuskan, segera taubat, dan jika memang sudah "SIAP" maka datangilah ayahnya. Mintalah kepadanya untuk merestui bahwa kau serius ingin membangun Rumah di Surga bersamanya

Namun jika tidak, jangan salahkan kami, jangan salahkan saudara-saudara muslimmu diluar sana yang kini telah mendoa agar kau terbukakan pintu hati dan fikirannya untuk kembali dijalan-MU serta sudah memberikan kabar dalam tuangan sebuah nasehat.[Ty]

Gubug biru, 12 feb 2013 lupa jamnya (lihat lagi di Fb)