Minggu, 26 Desember 2010

Taat Kalo Ada yang Liat







Priiit..!!!” teriakan peluit menghentikan seorang pengendara motor yang baru aja nerobos lampu merah. Dengan perasaan cemas, doi segera menghentikan kendaraannya. Kepalanya celingak-celinguk nyari sumber suara peluit. Dari kejauhan tampak tukang gorengan berjalan mendekati doi. Rupanya, tukang gorengan itu polisi yang menyamar. Dengan muka sangar, pak polisi membentak sang pengendara.

“Kenapa kamu nerobos lampu merah?”
“Maaf pak, saya nggak liat.” Jawabnya dengan muka memelas.
“Masa’ lampu merah segede itu nggak keliatan?” hardik pak polisi tanpa belas kasihan.
“Lampu merah sih liat pak. Cuma....” sang pengendara ragu meneruskan kalimatnya.
“Cuma apa?!!”
“Cuma saya nggak liat ada bapak. Hehehe...” jawabnya sambil nyengir.
Gubraks!%##%@#$

Penggalan cerita di atas boleh jadi mewakili mental masyarakat kita kalo udah berurusan dengan aturan. Yup, seperti episode sebuah iklan rokok. “taat kalo cuma ada yang liat”. Di tempat kerja, kalo ada bos atau atasan, sibuk kasak-kusuk ketik sana-sini di depan komputer biar keliatan kerja. Giliran bos udah berlalu, kembali ke aktivitas rutin dengan bermain solitaire, chatting, atau ngotak-ngatik friendster or face-book.

Begitu juga dengan lingkungan sekolah. Dandanan seragam sekolah rapi lengkap dengan bet dan lokasi plus dasi cuma keliatan pas ujian doang. Soalnya kalo nggak gitu, pengawas bakal mengeliminasi kita dari ruang ujian. Berabe dong. Ternyata saat ujian, nggak cuma pakaiannya aja yang rapi, tapi contekan pun nggak kalah rapinya. Sampe-sampe pengawas sulit menemukan jejak-jejak keberadaannya. Tapi giliran pengawas meleng dikit atau permisi ke belakang, langsung deh contekan dengan ukuran font kecil dan tulisan nggak karuan mulai menampakkan diri. Mumpung nggak ada yang liat. Nah lho?

Aturan Islam juga kebagian
Sobat, mental ‘taat kalo diliat’ ternyata mewabah juga pada sikap remaja muslim terhadap hukum Islam. Beberapa aturan Islam yang lengket dalam keseharian kita, masih aja pake pertimbangan ada yang ngawasin apa nggak.

Seperti shalat lima waktu misalnya. Sedih juga kalo kita tahu ternyata masih ada sebagian temen-temen kita yang shalatnya angin-anginan. Kalo disuruh ortu dengan ancaman pemblokiran uang jajan, baru deh mau shalat meski dengan berat hati. Pas lagi bareng bokin yang baru jadian, shalat nggak pernah ketinggalan. Tapi pas nggak disuruh ortu atau nggak terancam pemblokiran uang jajan, shalatnya tergantung mood. Gitu juga pas lagi sendiri tanpa kehadiran pujaan hati, urusan shalat mah entar-entar dulu. Payah deh!

Kewajiban menutup aurat juga mengalami nasib yang sama. Banyak remaja muslimah yang baru mau nutup aurat alias pake kerudung dan pakaian tertutup saat mau ikut pengajian atau pesantren kilat. Nggak enak kalo keliatan ustadz nggak nutup aurat. Ada juga yang rajin pake seragam sekolah yang menutup aurat lantaran diwajibkan sekolah. Diluar itu, mereka kembali ke alamnya yang dijejali trend fashion yang mengumbar aurat dalam berbusana. Sayang ya?

Sobat, mental ‘taat kalo diliat’ ini memang gaswat kalo dibiarkan. Remaja bisa terbiasa jadi munafik. Plus bisa terkontaminasi penyakit riya’ yang seneng dipuji atau diliat orang. Dua sikap ini yang bisa menggerogoti keikhlasan kita dalam beramal kebaikan. Nabi saw. bersabda: “Aku akan memberitahukan beberapa kaum dari umatku. Di hari kiamat mereka datang dengan membawa kebaikan seperti gunung tihamah yang putih. Tapi Allah menjadikannya bagaikan debu yang bertebaran. Tsaubah berkata: “Wahai Rasulullah, sebutkanlah sifat mereka dan jelaskanlah keadaan mereka agar kami tidak termasuk bagian dari mereka sementara kami tidak mengetahuinya.” Rasulullah saw. bersabda: “Ingatlah!, mereka adalah bagian dari saudara kalian dan dari ras kalian. Mereka suka bangun malam sebagaimana kalian, tapi mereka adalah kaum yang jika tidak dilihat oleh siapa pun ketika menghadapi perkara yang diharamkan Allah, maka mereka melanggarnya.” (HR. Ibnu Majah).

Tuh kan sobat, cuma para pengecut yang pantas punya mental ‘taat kalo diliat’. Mungkin aja dia merasa hebat dan jagoan bisa lolos dari pengawasan atas pelanggarannya, tapi sebenernya dia justru berjiwa kerdil yang nggak punya nyali untuk tetep komitmen dengan perilakunya yang terpuji. So, udah deh buang jauh-jauh mental pecundang ini. Atau kamu bakal tekor dunia-akhirat? Ih, amit-amit.
Cuma taat kalo diliat, kenapa?

Mental “taat kalo diliat’ tumbuh subur lantaran empat hal: niat, sanksi, pengawasan, en kesadaran.

Pertama, niat. Kita pasti tau kalo niat selalu ada di balik setiap perbuatan. Terlepas apa niat itu udah direncanain jauh-jauh hari atau spontan. Untuk ketaatan pada aturan, nggak semuanya enjoy jalaninnya. Aturan udah kadung dianggap ngebatasin gerak. Kalo ngadepin aturan, bawaan niatnya jelek mulu. Pikirnya, aturan ada untuk dilanggar, bukan untuk ditaati. Walhasil, kalo niat udah kuat, ngelanggar aturan jadi kebiasaan. Malah perbuatan dosa pun dianggap sepele. Dari sekedar nggak shalat, nggak nutup aurat, sampe jadi pelaku tetap maksiat apa pun. Cuma lantaran nggak ada yang liat. Berabe kan?

Kedua, sanksi. Sebuah aturan bakal tegak en punya power buat ngatur kalo ada sanksi yang tegas. Tanpa itu, orang bisa setengah-setengah taat ama aturan. Jangan mentang-mentang punya duit, aturan bisa dibeli. Sementara yang duitnya pas-pasan, kudu relapaksa hadir di pengadilan. Kalo rasa adil itu pilih kasih, orang nggak ngerasa penting untuk taat aturan. Ya, untuk apa taat, kalo yang nggak taat pun bisa seenaknya ngebeli aturan. Kalo udah begini, taat sama dengan makan ati. Cuapek deeeh!!

Ketiga, pengawasan. Ketegasan sanksi nggak punya arti tanpa pengawasan. Makanya, pengawasan yang kendor terhadap aturan, memancing orang untuk maen curang. Nggak ada polantas alias polisi lalu lintas, berarti ada kesempatan untuk nyari jalan pintas. Payah!

Keempat, kesadaran. Ini gerbang terakhir sebelum seeorang ngelanggar aturan. Niat udah kuat, sanksi nggak ketat, yang ngawasin juga nggak ada di tempat, berarti tinggal selangkah lagi. Kalo dia sadar ada beban moral untuk melanggar atau ngerasa bakal bikin rugi semua pihak, tentu mikir-mikir lagi untuk nggak taat. Sayangnya, beban moral terlalu lemah untuk mencegah pelanggaran. Di zaman nafsi-nafsi kayak sekarang, moral udah jadi almarhum. Yang ada tinggal kepentingan diri sendiri dan cuek dengan sekitarnya. Nggak asyik tuh!

Sobat, dari keempat faktor di atas, yang terakhir kudu dapet perhatiin khusus. Yup, soalnya kalo kesadaran seseorang dilandasi dorongan yang shahih, tentu nggak gampang tergoda melanggar aturan. Mesti niat, sanksi, atau pengawasan udah kondusif. Di sinilah pentingnya kita punya kesadaran shahih yang nggak cuma ngandelin beban moral. Dan itu ada dalam Islam. Yuk!
Allah pasti Ngeliat, Bro!
Sebagai seorang muslim, kita udah sering dengar sifat-sifat Allah yang biasa dikenal dengan sebutan asma’ul husna. Keyakinan terhadap asma’ul husna ini yang mengokohkan keimanan kita kepada Allah Swt. Keimanan yang akan melahirkan kesadaran akan adanya Allah dalam setiap perilaku kita di dunia. Penting nih!
Salah satu sifat Allah yang mulia itu adalah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Itu artinya, Allah bisa melihat dan mengetahui setiap perilaku hambaNya baik di tempat terang maupun tempat yang tersembunyi. Termasuk mengetahui letak semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di tengah malam yang gelap gulita. Tuh kan, makhluk kecil yang tak terjangkau penglihatan manusia aja dengan mudah diketahui Allah, gimana kita yang ukurannya beberapa ratus kali lipat dari ukuran semut. Makanya nggak wajar kalo kita selaku muslim merasa nggak ada yang ngawasin perbuatan kita saat berbuat maksiat.
Dalam sebuah kisah pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab, terjadilah dialog antara ibu penjual susu dengan putrinya.
“Tidakkah kau campur susu daganganmu dengan air? Subuh telah datang,” kata sang Ibu.
“Bagaimana mungkin aku mencampurnya, sedangkan Amirul Mukminin telah melarang mencampur susu dengan air?” jawab putrinya.
“Orang-orang telah mencampurnya. Kau campur saja. Toh, Amirul Mukminin tidak akan tahu.”
Putrinya menjawab, “Jika Umar tidak tahu, Tuhan Umar pasti tahu. Aku tidak akan mencampurnya karena dia telah melarangnya.”
Dari kisah di atas, kita bisa ambil pelajaran berharga bahwa pengawasan manusia terbatas, namun pengawasan Allah unlimited!

Lolos di dunia, belum tentu di akhirat
Sobat, di antara kita mungkin udah tau celah untuk lolos dari razia polantas. Ada juga yang mahir ngibulin guru biar bisa cabut tepat waktu. Atau mungkin udah terbiasa menghilangkan jejak agar tak terdeteksi oleh pengawasan ortu. Tapi siapa yang jamin kamu bisa sembunyi dari pengawasan Allah? Nggak ada. Kalo kamu ngerasa aman dan bebas ngelanggar aturan Allah cuma lantaran Allah nggak terlihat, siap-siaplah menghadapi rasa takutmu yang menjadi-jadi di akhirat nanti.
Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw., tentang perkara yang diriwayatkan beliau dari Tuhannya. Allah berfirman: “Demi kemuliaanKu, aku tidak akan menghimpun dua rasa takut dan dua rasa aman pada diri seorang hamba. Jika ia takut kepadaKu di dunia, maka Aku akan memberikannnya rasa aman di hari kiamat. Jika ia merasa aman dariKu di dunia, maka Aku akan memberikan rasa takut kepadanya di hari kiamat.” (HR Ibnu Hibban)
Karena itu, agar kita nggak ngerasa aman dari Allah di dunia, Allah udah ngasih konsekuensi pahala dan dosa untuk ngukur ketaatan kita pada syariatNya. Kalo kita senantiasa taat dan ikhlas dalam ngikutin tuntunan Allah dan RasulNya di hari-hari kita, kita bisa meraih pahala. Sebaliknya, kalo kita melanggar atau taat setengah hati terhadap Allah, dosalah yang kita dapetin. Semuanya bakal diperlihatkan pada kita diakhirat nanti.
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS al-Zalzalah [99]: 7-8)

Hanya ada satu cara untuk memperkuat kesadaran akan adanya Allah Ta’ala, yaitu dengan ngaji. Yup, dengan mengaji kita selalu diingatkan akan kebesaran Allah dengan sifat-sifatNya yang mulia, kelengkapan syariatNya untuk mengatur hidup kita, dan kasih sayang Allah bagi hamba-hambaNya yang selalu berusaha untuk taat di segala situasi dan kondisi. Selalu pake ukuran dosa atau pahala sebelum berbuat.

Kini, saatnya kita menguatkan kesadaran kita akan adanya Allah Swt. dan sifat-sifatNya. Cukup mental ‘taat kalo diliat’ hanya ada dalam pariwara aja. Nggak usah ditiru dalam berperilaku. Sebaiknya kita berprinsip: dengan atau tanpa pengawasan dari manusia, kita tetep taat ama aturan Allah. Karena Allah Swt. pasti ngeliat, malaikat Raqib dan Atid selalu mencatat, so, taat syariat nggak kenal tempat.

[Hafidz: hafidz341@telkom.net]

Wuih….HeBaTnY@ ISLAM....

Hai..hai… piye kabare? Ketemu lagi nich? Moga ja g’bosen buat ngepinterin diri qt tentang ISLAM ya?hohohoo Oiya qt mo ngebahas tentang Hukum Syara’ nieh alias Pengaturan 4W1 ama diri qt, ya supaya qt tuh Slamet dunia n akherat. Amiin…Lanjuuuut……..

1. Pengertian Hukum Syara’.
Hukum Syara’ adalah khitab Syari’ ( seruan 4JJ1 sebagai pembuat hukum ) yang berkaitan ma perbuatan manusia. Hukum Syara’ tuh isinya kayak perintah, larangan, de el el.

2. Hubungan Hukum Syara’ ma Aqidah (Keimanan).
Ni dari Proses berpikir  Iman  Hukum Syara’( manusia yang terikat ma hukum / aturan 4JJ1 dalam kehidupan )  Akhlaq (kepribadian ISLAM )  MUSLIM TERBAIK  Dakwah.

Hubungan Aqidah ma Hukum Syara’ yaitu :
Kalo da Hukum Syara’ dibenarkan dulu Aqidahnya. Kalo Aqidah udah baik pastilah akan bisa menerima Hukum Syara’ walaupun masih dalam proses.

3. Sumber-sumber Hukum Syara’
a. AL QUR’AN adalah wahyu yang diturunkan 4JJ1 ma Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril yang merupakan petunjuk hidup manusia yang bersifat PASTI / QOTH’IY.
Contoh : Q. S. Al Ahzab : 59 tentang perintah memakai Jilbab.
b. AL HADIST adalah sikap, tingkah laku, dan perbuatan yang datang dari Nabi Muhammad SAW, baik berupa ucapan atau perbuatan n pa ja yang Beliau contohkan patut diteladani yang dapat bersifat QOTH’IY (PASTI) ato DZAANY ( DUGAAN ).
Contoh : Nabi Muhammad SAW menyuruh Asma’ Binti Abu Bakar untuk menutup auratnya n g’boleh pake pakaian yang tipis ( pakaian luar ).
c. IJMA’ SAHABAT adalah kesepakatan para sahabat Rasul setelah wafatnya Rasul dalam ketentuan hukum ato aturan terhadap suatu kasus yang memiliki sifat QOTH’IY ( PASTI ) ato DZAANY ( DUGAAN ).
Contoh : Para sahabat lebih mendahulukan milih Khalifah / pengganti Rasul dari pada memakamkan jenazah Rasul.
d. QIYAS adalah mempersamakan ketentuan atau aturan pada kejadian yang belum ada aturan / hukum dengan kejadian yang telah diatur dalam dalil Al Qur’an dan Al Hadist.
Contoh : Minum khamar adalah haram karena memabukkan trus pada zaman sekarang ada kejadian yaitu penghisapan ganja hal itu juga disebut haram karena memabukkan.
4. Hukum Perbuatan Manusia
Terkait dengan aturan atau hukum 4JJ1 berupa :

a. Halal / Wajib yaitu kalo dikerjakan dapat pahala n kalo g’ dikerjakan akan dapat dosa.
Contoh : Jilbab, Sholat 5 Waktu

b. Haram yaitu kalo dikerjakan dapat dosa n kalo g’ dikerjakan akan dapat pahala.
Contoh : Zina, makan daging babi

c. Sunnah yaitu kalo dikerjakan dapat pahala n kalo g’ dikerjakan g’dapat apa-apa.
Contoh : Shalat Dhuha

d. Mubah yaitu boleh dikerjakan juga akan dapat pahala n kalo g’ dikerjakan akan g’dapat dosa.
Contoh : Nonton TV, fa-ce-book-an

e. Makruh yaitu kalo g’ dikerjakan akan dapat pahala.
Contoh : Merokok
5. Hukum Asal benda
Hukum Asal Benda yaitu MUBAH kecuali ada dalil-dalil yang mengharamkannya.
Contoh : Haram Memakan bangkai, darah, binatang berkuku, dan lain-lain.
6. Hukum Syara’ sebagai “Problem Solving”

Hukum Syara’ dapat menyelesaikan seluruh masalah kehidupan. Dan kalo dalam kenyataannnya yang bertentangan ma ISLAM so kenyataan tu harus dicariin solusi sesuai ma ISLAM, bukan aturan Islamnya yang dirubah.
Contoh : RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi masih bikin bingung masyarakat tentang batasan dari pornografi n’ pornoaksi itu sendiri, dengan Hukum Syara’ akanlah sangat jelas mengenai batasan tersebut . Padahal Islam telah mengatur masalah itu. Betul g’?

7. Sifat Hukum Syara’ adalah fixed, bukan fleksibel.
Sifat Hukum Syara’ adalah LUAS ( bisa nyelesaikan masalah kehidupanmu pada tempat dan waktu yang berbeda ), g’ akan berubah / fixed, dan g’ berarti bisa berubah sesuai dengan tempat dan waktu yang ada ( fleksibel ).
Contoh : Pada zaman Rasul diharamkan minum khamr sekarangpun juga tetap haram bila minum khamr. Mo coba?

8. Penerapan Hukum Syara’
ISLAM diterapkan secara menyeluruh / Kaffah n berlaku untuk seluruh manusia ( umat ISLAM atopun Non ISLAM). Untuk itu perlu Negara yang dipimpin khalifah untuk mengatur hukum Islam di negaranya supaya aman n terkendali juga damai sejahterah. Mo bukti?

Contoh : Dulu Daulah Khilafah Islamiyah (Negara Pemerintahan Islam) telah berdiri selama 14 abad yg lalu pd 3 benua (bayangin aja tuh 3 benua hampir 2/3 dunia) dengan Islam diterapkan sebagai system, semua permasalahan umat dapat terpecahkan. Bahkan dari hal tersebut peradaban ISLAM terbangun, segala aturan Allah dapat terjaga untuk diterapkan, bukan seperti pada zaman saat ini. Subhanallah…Jadi pengen nih ISLAM bangkit lagi…Pengen g’?

Ayoo semangat buat bangkitin ISLAM tegak kembali, kalau bukan diri kita lantas siapa lagi, so keep lanjuuttin mahamin ISLAM :)

JINAAN SHOP DIY

JINAAN SHOP DIY

Jinaan Shop DIY menyediakan
1. Kitab-Kitab Mutabanat

2. Buku-buku Ideologis untuk Dirasah Fardliyah

3. Marchendise Ideologis (Jaket, Kaos, Pin Up, Stiker, Ikat Kepala, Bendera Ar Royah, dan lain-lain)

Bagi kawan-kawan yang kesulitan mendapatkan barang-barang tersebut dikarenakan kendala jarak jauh atau kendalan angkot dapat menghubungi via sms di nomor : 085 643 688 772


Kelebihan JINAAN SHOP DIY
1. Setiap pembelian buku mendapatkan diskon 10%

2. Pembelian buku dapat dikredit/diansur dengan ketentuan tidak mendapatkan diskon 10%

3. + (plus) antar ketempat anda (khusus untuk wilayah DIY dan sekitarnya)


Semoga info diatas dapat bermanfaat

Hayoooo M!K!R!N Apaan?!



Pernah g’sih kamu mikir kalo kamu dulunya g’da sebelum dilahirkan ke dunia ini n kamu diciptain dari sebuah ketiadaan?

Coba bayangin aja deh kalo gempa bumi mungkin aja datang tiba-tiba pas kamu baru tidur or baru mandi. Trus ditambah rumahmu ato sekolahanmu ancur sampe rata ma tanah pahadal cuma tempo beberapa detik aja kamu udah kehilangan segala sesuatunya yang kamu punya di dunia ini?

Kamu ngerasa g’sich kalo hari-harimu berlalu sangat cepat, kamu pun lambat laun berubah jadi makin tua (hayooo…sapa yang ngerasa tua?) n ngerasa lemah, juga kehilangan ketampanan ato kecantikan, kesehatan or kekuatanmu?

Udah siap belom sih kalo suatu hari nanti, malaikat Izroil yang diutus ma 4W1 akan datang menjemput untuk bawa kamu meninggalkan dunia ini?

Nah kalo gitu, koq bisa sih orang-orang g’sadar-sadar kalo kehidupan dunia yang sebentar lagi ni akan mereka tinggalin? Padahal seharusnya mereka jadiin kehidupan dunia ni sebagai tempat untuk bekerja keras dalam meraih kebahagiaan hidup di akhirat? Tanya kenapa? Jawab sendiri aja ya? Pusing…eit..eit dulu, g’segitunya kali. Mm….keliatan tuh kamu jarang berpikir. Hayo ngaku? Lho koq maksa?

Gini ya, manusia adalah makhluk yang diciptain ma 4W1 paling sempurna dari mahluk-mahluk laennya. Buktinya aja setiap orang punya akal untuk berpikir pa ja yang dia suka, mahluk yang laen mana punya akal. Tapi sayang, kebanyakan mereka g’ gunain sarana yang amat sangat teramat penting ini sebagaimana mestinya. Bahkan pada kenyataannya sebagian orang hampir jarang banget buat mikir. Koq gitu bangetz sich?
Sebenarnya, setiap orang punya tingkat kemampuan berpikir yang seringkali ia sendiri g’ nyadar. Pas mulai gunain kemampuan berpikir, kita perlu syarat2 berpikir biar makin sip aja gito…Pa ja sih syarat2nya:

1.Ada fakta ato kenyataan
2.Indera-indera, hayo da berapa? Jangan lupa loh?
3.Otak
4.Informasi sebelumnya (ma’lumat as-sabiqoh)

Smua di atas ini supaya bisa mikirin apa ja yang mo kamu pikirin…Tapi, ada juga lho macam-macam berpikir, mo tau kan?

1. Berpikir Dangkal
Adalah seseorang yang berpikiran pendek di mana dia cuma mikirin sesuatu hal yang g’da gunanya. Berpikir kayak gini bisa ngakibatin qt kecewa loh! Contohnya: putus cinta ya bunuh diri aja deh (Hii….Na’udzubillahimindzalik!!!)

2. Berpikir Mendalam
Adalah seseorang yang berpikirnya setengah-setengah di mana dia cumamikir yang nangung2 alia setengah2 ja. Berpikir kayak gini juga bisa ngakibatin qt kecewa loh! Contohnya: kalo putus cinta ni, dia cari cowok lagi deh yang lebih keren….g’ lah yaw?

3. Berpikir Cemerlang
Adalah seseorang yang berpikirnya menyeluruh alias lengkap…kap…kap…dimana dia mikirin sampe sedetail-detailnya.Nah…berpikir kayak gini g’bikin qt kecewa loh. Percaya deh?! Contoh: kalo putus cinta ya disyukuri aja deh coz dalam islam kan g’ da yang namanya pacaran. Takut julga loh kalo ngelanggar perintah 4W1 ntar kalo diazab gmn?

So.....yang paling pengenin dimiliki semua orang ya…berpikir cemerlanglah, trus dalam pikiran cemerlang qt pasti akan terbesit juga tentang 3 pertanyaan mendasar dalam hidup, yaitu:
1.Dari mana kamu berasal?
2.Apa tujuan kamu hidup?
3.Akan ke mana kamu setelah hidup?

Dari 3 pertanyaan mendasar itu bisa kamu jadii ARAH HIDUP kamu di dunia ni. Trus pa ja yang kamu lihat ato pa ja kejadian ato peristiwa yang kamu temui bisa dijadiin RENUNGAN, kalo sebenernya qt tu g’da pa2nya di dunia ni. Qt tu kecil bangetz deh kalo diliat dari pucuk gunung kidul eh merapi. Kalo manusia g’mikirin kayak gini, berarti dia tuh udah sombong bangetz. Padahal tau g’sih, pa ja perkataan n perbuatan qt di dunia ni bakalan dipertanggung jawabkan di hadapan 4W1; percuma aja deh kalo kamu sadarnya pas di akherat, smua udah telat bangetz, ya g’bakal balik lagi ke dunia. Kata 4W1 "Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan,"Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini." (QS. Al-Fajr, 89:23-24) .Ayo…deh mulai sekang TOBAT aja ya! Caranya? Ya Diskusi Islam kayak gini donk ah…Sumpeh deh!

Tau g’sih 4W1 tu udah baek bangetz deh ma qt. Mo bukti? Sampe skarang ja kamu masih bisa baca tulisan ni. Berarti kamu masih dikasih kesempatan buat hidup kan? Coba tanyain kamu masih hidup g’? Maksudnya?

Berpikirlah trus diambil kesimpulan or pelajaran-pelajaran dari pa ja yang kita temui buat memahami kebenaran, so menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan qt di akhirat kelak. Alasan inilah, Allah ngewajibin seluruh manusia, melalui para Nabi n’ Kitab-kitab-Nya, untuk mikirin n’ ngerenungin penciptaan n pengaturan kehidupan ni.

Kata 4W1 "Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya." (QS. Ar-Ruum, 30: 8). So rajin belajar ya biar selalu berlatih buat berpikir, ya supaya g’pikun gito .Okay?..hhe ^_^v