Senin, 12 September 2011

Ada kah yang mengganjal hari ini?


Apabila dirimu pernah berkata “ketika ada permasalahan yang rumit, maka cobalah untuk menguraikannya satu persatu, bak benang ruwet yang harus kita telateni, pelan-pelan, dan sejeli mungkin untuk dapat kita urai agar benang tersebut dapat lurus kembali dan dapat digunakan untuk melanjutkan pemintalan.” Lantas kenapa kau tak coba untuk mempraktekannya pada dirimu.

Sebut saja aku Annisa, seorang mahasiswi yang biasa mukim di Pondokan. Pembelajaran pasca liburan lebaran di Pondokan akan dimulai esok hari maka aku pun mengadakan perjalanan pulang mengendarai kendaraan bermotor dari rumah orang tuaku menuju pondokan.

Masih terbayang tadi, rasa senang dapat bertemu dan berkumpul bersama dengan mereka, ayah, ibu dan adek. Saat malam perjalanan pulang ada rasa dalam hatiku ini yang mengganjal, apakah yang mengganjal? Mengambil pelajaran dari ungkapan diparagraf awal ku coba untuk mengurainya satu-persatu.

Awal,,, dari bertemu dengan ayah, kucoba memikirkan kembali apa yang salah pada interaksi ku dengan ayah, yang kemudian membuat hatiku merasa mengganjal seperti ini. Kucoba meruntun dan merenung diperjalanan dengan suasana dinginnya angin malam dan jalan raya yang masih ramai salib-saliban motor, diperjalanan terbayang sosok ayah yang perangainya pendiam namun pekerja keras, meski pendiam dan jarang berbicara namun usaha keras yang beliau sembunyikan dapat aku merasakan, rasa menyayanginya kepadaku pun cukup terasa dan beliau membuktikannya. Akhir-akhir ini pasca bulan ramadhan, meski bukan menunjukkan perubahan yang signifikan, ayah sekarang sering ke masjid untuk datang berjamaah sholat magrib dan isya’. Padahal sebelum bulan ramadhan untuk beranjak jamaah dengan keluarga di rumah saja perkara ini sulit dikomunikasikan dengan ayah. Aku berdoa semoga ayahku dapat istiqomah dan semoga niatnya pun juga lurus.

Ingat moment saat bersua dengan ayah tadi, saat berkumpuldi ruang tengah didepan televisi yang kebetulan televisi sedang memberitakan dan membahas tentang carut marut negeri ini, ayah pun cukup mampu bisa berbicara spontan mengkritik kondisi indonesia yang rakyatnya terlalu lama terbodohi oleh orang-orang diatas sana. “harusnya hukuman koruptor dengan potong tanganlah biar kapok (jera), biar malu tangan dan jarinya putus karena mencuri, hukum di Indonesia tidak tegas”. Mendengar hal tersebut dalam hati berbatin, *Argument yang cukup menarik*, aku pun turut menambahi dengan menata kata “inilah kondisi Indonesia yang tidak mau menggunakan hukum Allah sebagai solusi dari segala permasalahan, saat ini Allah sebenarnya dalam rangka memelekkan mata rakyat negeri ini bahwa pemerintahan yang berkedaulatan ditangan rakyat tak akan mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya, maka untuk itu di tahun 2014 pemilu besuk perlu untuk difikirkan kembali dalam memilih. Pengalaman saat ini tentang ketidak-adilan hukum di negeri ini, kedzaliman yang merajai negeri ini dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi, pemimpin yang manakah yang kemudian layak dipilih? pemimpin yang tetep tidak mau menggunakan hukum yang kedaulatannya ditangan Syara’ kah?

Kalau tidak ada, jangan sampai kita justru ikut berpartisipasi dalam pemilihan yang pada faktanya JUSTRU hingga detik ini orang-orang yang dipilih tidak dapat memberikan penjagaan yang baik untuk diterapkannya hukum Allah, maka wajar, permasalahan dan kedzaliman terhadap rakyat hingga saat ini sulit terbendung. Maka sebelum memilih dalam pemilu 2014 besuk perlu difikirkan matang-matang, karna pemilu yang secara teknis sangat ringan hanya dengan mencontreng indah namun hal tersebut tetap punya adil besar pertanggungjawaban tersendiri dihadapan Allah. Kita bisa lihat dari fakta dan buktinya pada saat ini yaitu membuat negeri ini semakin tak terarah pada keadilan dan kesejahteraan yang hakiki namun justru semakin menyengsarakan rakyat.”

Kemudian kumandang adzan isya’pun berkumandang, ayah pun bergegas wudlu dan berangkat ke Masjid. Sebelum hendak berpamitan pulang ke pondok, ayah memberi uang saku Rp.10.000 untuk membeli bensin. Bagiku tak apalah tak ada uang makan, asal di motor ada bensin J
Dari flash back kejadian berinteraksi dengan ayah tadi, tak ada kata atau perbuatan ayah yang membuatku merasa dikecewakan, apa yang masih membuatku merasa mengganjal ya?

Merunut uraian benang selanjutnya, aku berpikir atau jangan-jangan ada yang salah saat berinteraksi dengan ibu tadi? ku coba berpikir kembali sambil menikmati dinginnya sayupan angin malam yang menghempas dan menikmati pengapnya asap kendaraan diperjalanan malam. Tadi aku bertemu ibu melakukan apa saja? Awal Bertemu tadi kusambut dengan menciup tangan dan mencium pipi kiri dan kanannya, terlihat pada paras wajahnya beliau lelah, kemudian beliau duduk di kursi dan bercerita bahwa ibu barusan sampai rumah pulang dari pengajian yang jarak tempat pengajiannya jauh. Membuka perbincangan, ibu menanyakan “bagaimana kemarin walimahan teman pondok yang kau datangi? Ramai?” Karna dua hari sebelum aku pulang kerumah, aku berpamitan dengan ibu untuk menghadiri acara walimahan teman di luar kota. Sehingga maklum ibu pun menanyakan hal tersebut.

Akupun menjawab dengan suara lirih dan iba “acara walimahannya tidak syar’i bu, kondisi pernikahan bercampur baur (ikhtilat) dan masih menggunakan tradisi jawa, dengan musik yang begitu semarak dan campursari dengan menggundang penyanyi yang yaah dibumbui dengan canda tawa yang kurang sopan, dan acara semacam itu dimaklumi dan menjadi tradisi oleh masyarakat setempat.” Lanjut ibu dengan memberikan argumentnya, “Buat ibu pernikahan tak perlu yang rumit-rumit, cukup dengan datang ke KUA, ada wali ayahmu, saksi, dan acara pengajian, undangan pengajian waktunya dibedakan misal undangan untuk pengajian ibu-ibu atau perempuan diundangan pada pagi hari sedangkan undangan pengajian untuk bapak-bapak atau laki-laki diundang malam harinya setelah magrib gitu, itu malah justru lebih aman dan santai karna tidak bertemu dalam satu waktu.”

Cukup tersentak kejut, ibu memahami apa yang mirip dalam fikiranku bahwa walimahan itu harus terpisah (tidak terjadi campur baur). Lanjutku “Harusnya memang acara kemarin syari’i bu, hanya saja via ayah dari teman saya masih kekeh dengan tradisi yang berlaku dilingkungan sekitarnya. Maka rombongan temen-teman dari kami pun tak jadi ikut dalam acara pernikahan tersebut dan kami pun bersinggah terpisah dirumah tetangga samping rumah temanku yang sedang nikah. Karena kondisinya walimahannya tidak syar’i maka kami serombongan pun tidak memungkinkan untuk dapat menyanksikan proses akad dan resepsinya”

Seusai sholat dzuhur di Mushola yang terletak di Selatan tempat walimahan, kembali kami serombongan kerumah singgah tadi didepan teras, karena melihat banyak wajah teman-teman yang berkerut keheranan dan terkesan banyak tanya akan keganjalan kenapa hal ini bisa terjadi, kemudian salah satu rekan dari rombongan kami memberikan klarifikasi terkait acara walimahan tersebut, teman-teman rombongan pun duduk melingkar didepan teras bak ziadah dadakan dan memberikan penjelasan dengan dibuka salam “saudariku, kondisi walimahannya tidak memungkinkan kita untuk hadir kesana, sesungguhnya kondisi ini diluar kendali kita dan teman kita yang menikah sudah mengusahakan pelobbian agar pernikahan berjalan dengan syar’i dan sebenarnya sudah dilakukan pelobbian dari jauh-jauh hari bahkan jauh-jauh bulan hingga tadi malam. Acara yang akan digelar seharusnya syar’i sudah diusahakan betul, namun Allah berkehendak lain, ayahnya yang memiliki frame jawi berbeda, bahwa yang namanya pengantin yaa haruslah layaknya pengantin seperti biasanya (campur baur).

Usahanya pun sudah cukup dioptimalkan hanya tetap bahwa ditangan Allah saja yang kemudian menentukan hasil pelobbian tersebut. Dari hal ini mari bersama-sama kita ambil ibrohnya bahwa pelobbian pernikahan yang hukumnya sunnah dan syari’i dapat kita lobby sedini mungkin, agar perkara yang hukum tadinya sunnah tidak menghantarkan pada perkara-perkara yang diharamkan (campur-baur) atau bahkan kita lobbi dari sekarang juga meski menikahnya kita juga tidak tau “jodoh itu masih lama atau sudah dekat”. Tentu tidak ada salahnya apabila pelobbian tersebut kita mulai dari sedini mungkin. Kitapun hanya dapat berencana sedangkan usaha dari hasil yang kita lakukan tetap Allah yang menentukan bukan? maka hal ini bisa terjadi diluar kendali kita karena apa yang semula kita rencanakan di hari H belum tentu bisa sesuai dengan apa yang kita rencanakan di sebelum hari H-nya. Baik setelah ini kita pamit saja dengan ibunya”.

Selanjutnya Rombongan kami pun beranjak berdiri dan berpamitan dengan ibunya yang berada didepan rumah dibarisan ibu-ibu dan kemudian rombongan pun menuju bus untuk pulang. Ibuku menyambung “ya begitulah kondisi adat yang kadang tidak memandang apakah sesuai dengan syariah atau tidak, dulu waktu ibu nikah, ibu tidak mau untuk dirias dan lain-lainnya macam adat-adat begitu, hingga tak mau pakai rok dan ada tetangga yang bilang “wahh,,mantennya metal”. (maklum masa muda ibu dulu cukup tomboy). Lanjut ibu memberikan ketegasan argumentnya terkait bahwa pernikahan lebih aman memang undangan antara WAKTU undangan tamu perempuan dan laki-laki terpisah yaitu pagi dan malam sedangkan mempelai perempuan dan laki-laki yang menikah tinggal datang saja ke KUA untuk ijab dan qabul dengan wali dan sanksinya.

Diperjalanan pulang ku berpikir kembali “tidak ada masalah interaksi antara aku dengan ibu tadi, tapi hati ini masih merasakan hal yang mengganjal”. Diperjalanan sembari tertegun, haru dan bahkan berlinang air mataku mengingat sosok ibuku yang tadi sebelum berpamitan sempat membungkuskan bekal beras dan makanan untuk ku bawa pulang. Sungguh Allah Maha Besar. Dulu beruntai-untai kata petuah tentang bagaimana Islam mengatur kehidupan ini-dan itu, kala ibu mendengar apa yang tertutur, mungkin bisa dikatakan hampir cukup tak terhirukan karena hanya sekedar dijadikan wacana saja bak angin lalu yang lewat sebentar dan berlalu begitu saja. Bagiku Allah teramat dekat dan inilah jawaban dari kekuatan do’a yang selama ini selalu kupanjatkan dalam tiap-tiap waktu setelah sholatku. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Allah pun mengabulkan do’a-do’a yang ku panjatkan. “Lantas nikmat Allah yang manakah yang engkau dustakan”? kembali menjadi cambukan.

Memang upaya untuk membuat ibu atau ayah bahkan kakak atau adek kita agar dapat luluh sepandangan dengan ide islam yang kita tawarkan, bukanlah perkara yang mudah, butuh proses dan butuh untuk menghargai berjalannya waktu.
Selidik demi selidik apa jangan-jangan keganjalan itu karena aku berinteraksi dengan adek ku, kembali mengurai benang, tadi awal masuk rumah bertemu adek hanya sepintas saja karena kemudian ia menuju kamarku (kamar sementara yang digunakan adek tinggal karena menunggu panggilan dari perusahan untuk ditempatkan kerja diluar kota). Ia masih menyibukan diri dengan game on linenya di Kamarku, saat aku hendak berpamitan pulang kembali ke pondok adekku sudah bertidur dengan selimut hijau yang menyelimutinya.

Diperjalanan mulai linangan air mata tadi terseka, apa sebenarnya yang mengganjal tidak membuat nyaman hati ini. Tak lama kemudian perenungan singkat perjumpaan dengan keluarga dalam perjalanan pulang malam tersudahi didepan halaman pondokan. Sampai jua di pondok “Assalamu’alaikum” salamku. Dari dalam terjawab “wa’alaikumusalam”. Di pondok teman-teman sudah pulang. Masuklah aku dikamar salah satu temanku yang kemarin menjadi partner boncengan motor dari acara walimahan temen “aku ingat ternyata yang menjadi salah 1 ganjalan dihatiku adalah hutang NASI GILA Rp. 7.000 yang kemarin kita makan bersama seusai pulang dari acara walimahan”. Benar-benar yang namanya hutang membuat diri kita tidak nyaman yah, satu lagi jadi ingat, kitab arab yang lumayan tipis yang membahas tentang partai politik pun belum jua ku bayar.