Rabu, 31 Juli 2013

Hukum Memperjualbelikan kucing




Bismillaah...
------------------------------------------
Memperjualbelikan kucing hukumnya haram berdasarkan dalil hadits Nabi SAW dan kaidah fiqih (al-qawa’id al-kulliyah).

Dalil hadits Nabi SAW, diriwayatkan dari shahabat Jabir bin Abdillah RA bahwasanya Nabi SAW telah melarang memakan daging kucing dan melarang pula memakan harga kucing (nahaa [an-nabiyyu] ‘an akli al-hirrah wa ‘an akli tsamaniha) (Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, hadits shahih. Lihat Imam As-Suyuthi, Al-Jami’ Al-Shaghir, Juz II hal. 191).

Hadits Nabi SAW diatas menjadi dalil haramnya memakan daging kucing dan memperjualbelikan kucing. Jadi kita diharamkan memperdagangkan kucing sebagaimana kita diharamkan memakan daging kucing (Tentang haramnya memakan daging kucing lihat Asy-Syarbaini Al-Khathib, Al-Iqna’, Juz II hal. 273; Syaikh Zakariyya Al-Anshari, Fathul Wahhab, Juz II hal. 192).

Adapun dasar dari kaidah fiqih, adalah kaidah fiqih yang berbunyi:

“Kullu maa hurrimaa ‘ala al-’ibaad fabai’uhu haraam
(Segala sesuatu yang diharamkan atas hamba, maka memperjualbelikannya adalah haram juga)!”. (Lihat Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah, Juz II hal. 248).


KUCING!
Kaidah ini menjelaskan bahwa apa saja yang telah diharamkan syara’ (hukum syari’at Islam), maka diharamkan pula memperjualbelikannya. Baik sesuatu itu diharamkan memakannya (seperti daging babi, darah, bangkai, daging singa, daging elang, daging anjing), diharamkan meminumnya (seperti khamr / miras), diharamkan membuatnya (seperti patung atau gambar makhluk bernyawa), atau diharamkan pada segi-segi yang lainnya.

Ketika sudah jelas bahwa syara’ mengharamkan kita untuk memakan daging kucing, maka haram pula memperjualbelikan kucing berdasarkan kaidah fiqih tersebut.

Dengan demikian, jelaslah bahwa memperjualbelikan kucing hukumnya haram berdasarkan dalil hadits Nabi SAW dan kaidah fiqih tersebut!

Wallahu a’lam.

(Al-Ustadz Muhammad Shiddiq Al-Jawi).

TIPS MUSLIMAH FOTOGRAFER



Studi Kasus :
Ada seseorang yang hendak meng-upload foto ke blog ataupun facebooknya. Seringnya seseorang tersebut berhenti sejenak dan berpikir dan bertanya
"Foto ini nilai dakwahnya apa?", terbesit juga pada diri seseorang tersebut
"Yah, seringnya hanya untuk pengakuan: bahwa saya bisa memotret."

Apakah seorang fotografer senantiasa ada perasaan atau mungkin justru mengalami studi kasus demikian?

Bismillaah..
Allah swt sungguh menyayangi kita, sehingga dalam kehidupan kita di dunia ini oleh Allah telah memberikan potensi kehidupan untuk kita, potensi kehidupan itu diantaranya :

1. Akal
2. Hajatul 'udawiyah/Kebutuhan Hidup (Contoh : Lapar,haus, ngantuk, buang air besar, buang angin, dll)
3. Gharaiz (naluri-naluri) yang meliputi :
a. Gharizah Tadayyun/naluri mengkultuskan sesuatu (Contoh : Menyembah sesuatu, mengagungkan sesuatu)
b. Gharizah Nau'/Naluri melestarikan keturunan (Contoh : Suka dengan lawan jenis, cinta, penyayang, keibu-ibuan, kebapak-bapakan dll)
c. Gharizah Baqo'/Naluri eksistensi diri (Contoh : Ingin diakui keberadaannya)

Pada studi kasus diatas dapat kita analisa bahwa manusia telah Allah berikan naluri baqo' (eksisten diri) yang alamiahnya manusia "ingin disanjung, ingin dilihat, ingin bertahan, dan ingin diakui dan lain sebagainya". Perkara naluri baqo' ini jika kita tidak "pandai-pandai" mengendalikannya hal ini bisa menjadi "boomerang" bagi si empunya naluri baqo'. Berbeda bagi seseorang yang ia bisa dan mau menjadikan Islam sebagai tolok ukur dalam perbuatannya. Seseorang tersebut bisa mengendalikan sekaligus menundukkan kecenderungan gharizah baqo' miliknya dengan ketundukan iman Islam.

Sahabatku yang dirahmati Allah
Sapaan untuk studi kasus diatas, memang benar bahwa rumus kaidah amaliah atau rumus sebelum kita melakukan perbuatan adalah 3B [BERFIKIR+BERTUJUAN+BERBUAT]. Berfikir sebelum berbuat, dan sebelum berbuat harus memiliki tujuan yakni untuk menggapai keridhoan Allah swt. Semoga rumusan 3B diatas bisa menjadi pengunci kita di kala kita hendak melakukan segala aktivitas. Aamiin

Beberapa tips agar foto hasil jepretan kita tidak "meliarkan" naluri baqo' yang kita miliki adalah dengan

1. Lakukan 3B kaidah amaliah diatas [BERFIKIR+BERTUJUAN+BERBUAT]

2. Memberikan penjelasan pada foto hasil jepretan.
Saya yakin kita pasti akan menemukan ada sisi dimana hasil foto tersebut ada tanda-tanda dan bukti akan keagungan dan kebesaran Allah swt dan dari foto tersebut juga dapat membantu membukakan mata insan manusia akan bukti kuasa Allah swt dan sungguh betapa Maha Kayanya Allah.

3. Bisa ditambahkan dengan memberikan Ayat-ayat Allah (al Qur'an), Hadits, atau kata-kata mutiara, kisah inspiratif, dan lain sebagainya

4. Berikan ajakan pada akhir kata (pada keterangan foto) bisa dengan ajakan untuk senantiasa taqarub ilallah atau istiqomah dijalan dakwah Islam Kaffah.

5. Fahami bahwa momotretnya seorang fotografer bukanlah sembarangan memotret namun ada niatan yang lurus dalam rangka menggapai keridhoan Allah dan memotret untuk berdakwah, karena Dakwah adalah poros kehidupan kita.

6. Ending keterangannya bisa dengan mencantumkan opini semisal ‪#‎Salam‬ Melukis Cahaya Khilafah 

Selamat mencoba 

Oleh : UMF
Follow me >> http://pemikir-ideologis.blogspot.com/

Jika ada yang bermanfaat dari fans page silahkan dishare, semoga menjadi amal sholih bersama. aamiin jazakumullahu khairan katsiron

Kucing Tidak Najis



Dari Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ
“Kucing ini tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita. ” (HR. At Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ad Darimi, Ahmad, Malik. Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 173 mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Muballighah dan Majelis Ta’lim Yogyakarta Tolak Kontes Miss World

HTI Press. “Kontes Miss World diadakan bukan sekedar soal bikini dan umbar aurat, tapi menjadi ajang untuk promosi pakaian pantai di Bali” tegas Dr. Latifah (Lajnah Khos Muballighoh DIY) dalam MUSYAWARAH MUBALLIGHOH Muslimah HTI DIY pada rabu 26 juni 2013 di gedung PDHI Yogyakarta. Acara ini merupakan  serangkaian AGENDA MUSLIMAH PEDULI KEMULIAAN NEGERI yang diselenggarakan oleh MHTI dengan bertajuk “Tolak Kontes Miss World, Ajang Eksploitasi Perempuan dan Liberalisasi Budaya”, sebagai wujud kepeduliannya terhadap segala bentuk eksploitasi dan perusakan kaum perempuan yang berakibat rusaknya akhlak generasi bangsa.
Lebih lanjut Dr. Latifah membongkar tentang dusta konsep yang diusung yaitu 3B (Brain, Beauty and Behavior) adalah bulshit. Karena faktanya penyelenggaraan miss world selalu mengedepankan kecantikan dan keindahan tubuh wanita. Maka dari itu Dr. Latifah mengajak forum untuk tegas menolak penyelenggaraan kontes miss world ini.
Penolakan tersebut dipertegas oleh pemaparan dari ketua DPD MHTI DIY Ibu Eulis Siti Murnaesih, yang menjelaskan tentang alasan kenapa harus menolak kontes miss world. “Bahwa dalam islam, wanita sangat dijaga kehormatan dan kemuliaanya. Perempuan yang mulia dalam pandangan islam adalah perempaun yang bertaqwa, yang hidupnya penuh keta’atan kepada Allah. Perempuan untuk bisa terjaga kehormatan dan kemuliaannya, hanya bisa dibawah sistem khilafah islamiyah, bukan yang lain”, tegas Ibu Eulis.
Forum semakin hangat dengan antusias dari para muballighoh yang hadir. Hal itu ditunjukkan dengan sumbangsih pemikiran yang dikemukakan beberapa muballighoh yang hadir. Seperti yang disampaikan oleh Nyai Hj. Romlah Djumali (Ponpes Nurul Huda BanyurejoTempel Sleman) “Terkait kontes Miss World semoga tidak terlaksana alias gagal. Karena sudah jelas kontes itu dari awal sampai akhir hanya berisi kemaksiatan dan sesumbar aurat”. Lanjutnya “Mereka para kontestan itu, sebenarnya secara akli sudah tertipu oleh Syetan. Maka kita berusaha dan berdo’a semoga Ajang maksiat ini GAGAL!”
Musyawarah Muballighoh diakhiri dengan penandatanganan Mitsaq Muballighoh oleh perwakilan beberapa tokoh muballighoh, pengurus MT dengan MHTI. Kemudian dilanjutkan audiensi oleh 15 tokoh muballighoh DIY ke DPRD Yogyakarta, menyatakan sikap penolakan atas akan diselenggarakannya kontes miss world di Indonesia.
Statement tegas juga disampaikan oleh  Ibu Sholihah (Ketua Yayasan Pendidikan Bakti Wanita Islam DIY)  “DPR itu muslim tapi kok pemikirannya tidak sampai  sana”. Dan disambung oleh pernyataan oleh Ustadzah Sherly (Muballighoh DIY) “Ibu Negara harusnya menolak, tapi kita ragukan karena dia dekat sekali dengan penyelenggara kontes miss world. Dana untuk penyelenggaraan  kontes itu di support dari Yahudi”.

>> http://networkedblogs.com/MHEqU

Aksi Muslimah HTI DIY Tolak Miss World, Ajang Eksploitasi dan Liberalisasi Budaya

HTI Press. Terik matahari menyengat tidak memudarkan semangat sekitar 50 aktivis Muslimah HTI DIY untuk menggelar aksi tolak kontes kecantikan Miss World yang akan diselenggarakan September mendatang di Bogor dan Bali. Aksi tanpa longmarch ini dilakukan di depan gedung DPRD Tk I DIY Jl. Malioboro, Rabu ( 26/6 ), bersamaan waktunya dengan audiensi yang dilakukan oleh perwakilan muballighah DIY bersama pengurus Muslimah HTI DIY dengan topik yang sama.
Menurut koordinator aksi Agustina Purlina, aksi ini sebagai bentuk keprihatinan terhadap akan diadakannya kontes Miss World di Indonesia, yang notabene Indonesia adalah negeri muslim terbesar di dunia. Kontes tersebut sebenarnya adalah ajang adu kemolekan tubuh wanita. Ini bertentangan dengan syari’at Islam, sehingga harus ditolak.
Aksi diwarnai dengan sejumlah poster yang antara lain berbunyi : Miss World, bukan sekedar bikini dan kain Bali tapi perempuan dieksploitasi, mendukung Miss World : melanggengkan penjualan tubuh perempuan, perempuan berharga bukan karena tubuhnya tapi iman, taqwa, dan ilmunya. Juga digelar spanduk dukungan muballighah dan majelis taklim DIY tolak Miss World. Aksi ini terkesan unik dengan memajang manequin berbalut bikini dan sarung bali serta beberapa boneka sebagai simbol bahwa kontes kecantikan hanya menjadikan perempuan sebagai boneka dan komoditas.

>> http://networkedblogs.com/MHIvS

“Remaja Super Muslimah: ‪AntiGalau‬, ‎AntiGaulBebas‬”




“Remaja Super Muslimah: ‪#‎AntiGalau‬‪#‎AntiGaulBebas‬

HTI Press. “Ngeri”, inilah kesan yang tertangkap dari wajah para peserta talkshow remaja ‪#‎Ramadhan‬ ketika menyaksikan tayangan fakta gaul bebas di Gedung Youth Centre (Balai Pemuda dan Olahraga) DIY, Tlogoadi, Mlati, Sleman, Ahad (28/7). Acara yang diselenggarakan oleh Muslimah HTI Sleman ini, dihadiri oleh 60-an remaja muslimah dari kalangan siswi SMP-SMA dan remaja masjid se-Sleman. Kebanyakan peserta tidak menyangka bahwa gaul bebas di kalangan pelajar sudah sedemikian parah. Survey Komnas Anak terhadap 4500 remaja SMP-SMA di 12 kota besar mendapat hasil yang mencengangkan : 62,7% remaja sudah tidak perawan, 22% sudah pernah aborsi, dan lebih dari 97% pernah melihat film porno, petting, dan oral seks. Kekerasan seksual juga ditengarai meningkat. Beberapa waktu lalu, seorang siswi sebuah sekolah swasta di Sleman menjadi korban pemerkosaan massal, dibunuh dan jasadnya dibakar.

Menurut Ketua panitia , Eresia Nindia, talkshow bertajuk “Remaja Super Muslimah: Anti Galau, Anti Gaul Bebas” ini, salah satunya untuk memahamkan remaja tentang manajemen rasa cinta supaya tidak berujung pada gaul bebas. “Selain itu, kegiatan ini adalah salah satu rangkaian kampanye penyelamatan generasi MHTI DIY atas maraknya pergaulan bebas dan pelecehan seksual di kalangan remaja DIY,” imbuhnya.

Lisana Aliyya sebagai narasumber pertama yang juga siswi berprestasi dari MAN 1 Yogyakarta membagi pengalamannya. Sebagai remaja, Aliyya pernah merasakan suka pada lawan jenis, namun ia mampu membentengi perasaannya dengan tidak pacaran karena tidak sesuai dengan ajaran Islam. Menurut narasumber kedua, Kak Hernani Sulistyaningsih (aktivis dakwah dan pemerhati remaja), pacaran merupakan sarana seks bebas. “Pacaran tidak hanya gerbang menuju seks bebas, tapi setelahnya bisa mendorong pada tindak aborsi yang akhirnya membuat remaja mengalami trauma dan gagap dalam menjalani masa depan,” ujarnya. Menurut Hernani, interaksi laki-laki dan wanita terjaga sesuai aturan Islam dengan menghilangkan khalwat (berdua-duaan) dan ikhtilath (campur baur), sehingga yang namanya TTM (teman tapi mesra), pacaran, seks bebas dan aborsi bisa dikurangi bahkan dihilangkan.

Sementara itu, Ustadzah Ummu Nuha menjelaskan bahwa gaul bebas diawali dari ketidakpahaman muslim akan aturan Islam dalam mengelola pemenuhan naluri seksual. Akibatnya banyak muslim yang asal berbuat, tanpa mengetahui status perbuatannya apakah diridhai atau dimurkai Allah. Padahal ancaman bagi pelaku zina tidak main-main. Belum lagi anak hasil zina adalah anak yang terputus nasabnya, artinya dia tidak memiliki hak atas pengasuhan, nafkah dan warisan. Lebih jauh, Ummu Nuha mengajak remaja muslimah untuk bersemangat mengkaji ilmu Islam dan beramal shalih baik di bulan ramadhan maupun sesudahnya. Peserta nampak antusias mengikuti rangkaian acara mulai jam 09.00-12.00 WIB yang juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi, dua games seru, sesi curhat dan pembagian doorprize.

Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=494164294011837&set=a.241208065974129.56241.234745399953729&type=1

Jumat, 26 Juli 2013

INSPIRASI DAUN


Bismillaah…

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Inilah kiranya yang bisa mewakili potret diatas, Allah swt senantiasa memberikan apa dibutuhkan oleh makhluk-Nya. Tak terkecuali pohon yang butuh akan kesegaran akan derasan rintik derai hujan.

Kesegaran yang senantiasa dirindukan oleh pohon ini, tak bisa terbayangkan apa jadinya jika hujan tidak kunjung datang
Tentulah sang pohon hanya akan terus bertahan menjalarkan akarnya untuk bisa hidup.
Dilain sisi, pohon pun juga membutuhkan energi dari sang matahari, maka benar “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Tidak perlu jauh-jauh untuk mensyukuri akan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita.
Dari apa yang kita pandang disekitar kita saja sudah bisa memunculkan rasa akan Maha Besar-Nya Allah
Tak perlu jauh pula dari sekitar kita, dari apa yang ada didalam diri kita saja sudah tiada taranya Allah berikan kenikmatan kepada kita.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Darah kita masih mengalir
Jantung kita masih berdetak
Nadi kita masih berdenyut
Nafas kita masih terhirup
Mata kita masih bisa melihat
Telinga kita masih bisa mendengar
Hati kita masih bisa merasakan
Tangan kita masih bisa meraba
Kaki kita masih bisa tegak berjalan
Jari kita masih bisa mengetik

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Cukuplah kepada Allah kita bersyukur tentang semuanya.
Semua yang senantiasa Allah berikan saat kita membutuhkannya. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.
Pancangkan keterikatan kita dengan hukum Allah, baru itu bersyukur namanya

‪#‎Salam‬ Melukis Cahaya Khilafah..

Follow me : http://pemikir-ideologis.blogspot.com/


HUKUM_MENGEDIT_FOTO


Oleh:Ust M Shiddiq Al Jawi

Tanya :

Ustadz, bagaimana hukumnya mengedit foto?

Deni Junedi, Sleman

Jawab :

Sebelumnya perlu diterangkan dulu hukum memotret (mengambil foto dengan kamera). Para ulama kontemporer berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian ulama mengharamkannya karena dianggap sama dengan aktivitas mengambar dengan tangan, kecuali untuk foto yang sangat diperlukan (dharurah), seperti foto untuk identitas diri (KTP/paspor), untuk keperluan pendidikan, untuk mengungkap kejahatan, dan semisalnya. Yang berpendapat semacam ini misalnya Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aal Syaikh, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i, Syaikh M. Ali Ash-Shabuni, dan Syaikh Nashiruddin Al-Albani. (M. bin Ahmad bin Ali Washil, Ahkam At-Tashwir fi Al-Fiqh Al-Islami, hal. 232; Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i, Hukm Tashwir Dzawat Al-Arwah, hal. 70; Ali Ahmad Abdul 'Aal Thahthawi, Hukm At-Tashwir min Manzhur Islami, hal. 108-109).

Namun sebagian ulama lain membolehkannya dengan alasan hadits yang mengharamkan menggambar tak dapat diterapkan pada aktivitas memotret. Mereka ini misalnya Rasyid Ridha, Syaikh Ahmad Al-Khathib, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Najib Al-Muthi'i, Syaikh Mutawalli Sya'rawi, Syaikh Sayyid Sabiq, Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi, dan Syaikh Taqiyuddin Nabhani. (M. bin Ahmad bin Ali Washil, ibid., hal. 241; Taqiyuddin Nabhani, Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah, 2/354).

Pendapat yang rajih menurut kami adalah yang membolehkan sebab pendapat ini lebih cermat memahami fakta yang menjadi obyek hukum (manath). Menurut Taqiyuddin Nabhani, hadits yang melarang menggambar makhluk bernyawa tak dapat diterapkan untuk fakta memotret. Sebab orang yang memotret hanya sekadar memindahkan citra/bayangan dari fakta yang sudah ada ke dalam film melalui kamera, bukan menggambar suatu bentuk makhluk bernyawa dari ketiadaan. (Taqiyuddin Nabhani, ibid., 2/357)

Adapun mengedit foto suatu obyek yang bernyawa, misalnya mengedit foto wajah manusia dengan mengubah warna kulit, menghilangkan kerutan wajah, mengubah warna bola mata, dan semisalnya, hukumnya haram. Sebab hadits-hadits yang mengharamkan menggambar makhluk bernyawa dapat diberlakukan pada aktivitas mengedit foto. ('Atha` bin Khalil, Jawab Su`al, 21/09/2010).

Hadits-hadits tersebut antara lain sabda Nabi SAW,”Barangsiapa membuat suatu gambar/patung (makhluk bernyawa) maka sesungguhnya Allah akan menyiksanya hingga dia dapat meniupkan nyawa pada gambar/patung itu, padahal dia tak akan mampu meniupkannya selama-lamanya.” (HR Bukhari no 5963, dari Ibnu Abbas RA). Dalam hadits lain Nabi SAW bersabda, ”Sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar/patung (makhluk bernyawa) akan disiksa pada Hari Kiamat, dikatakan kepada mereka,'Hidupkanlah apa yang telah kamu ciptakan.' (HR Bukhari no 5951, dari Ibnu 'Umar RA,).

Hadits-hadits ini menunjukkan haramnya membuat gambar atau patung makhluk bernyawa, sebab di dalamnya terdapat kecaman yang keras dari Allah SWT dalam bentuk perintah untuk meniupkan nyawa pada objek yang telah dibuat manusia. (Walid bin Rasyid As-Sa'idani, Hukm Tashwir al-Futughirafi, hal.5)

Hadits-hadits tersebut menurut Syaikh 'Atha` bin Khalil dapat diberlakukan pula untuk aktivitas mengedit foto, seperti mengubah warna kulit atau menghilangkan kerutan wajah, baik dilakukan dengan alat lukis yang digerakkan tangan, atau dilakukan melalui mouse pada komputer.

Maka selama aktivitas editing foto terjadi melalui perbuatan/tindakan manusia untuk meniru bentuk makhluk bernyawa, maka mengedit foto makhluk bernyawa hukumnya haram. Sebab hadits-hadits di atas dapat diberlakukan pula untuk aktivitas mengedit foto makhluk bernyawa. Wallahu a'lam.

Curcol

Pertemanan dalam dunia maya seperti facebook ini tentu ada teman perempuan dan teman laki-laki, kecuali ada yang berteman dengan waria..hehe

Di akun pribadi memang sedikit yang menjadi teman laki-laki, itu pun adik saya dan para penulis karena ada kepentingan dalam dunia kepenulisan, tak jarang penerbit pun kadang yang memegang akunnya juga seorang laki-laki. Jadi di fb juga masih ada teman laki-laki. Nah, apalagi di fans page beginian yang secara pribadi kita gak bisa kontrol siapa saja yang menjadi teman di fans page kita, bisa perempuan dan tentu bisa laki-laki.

"Berteman memang gak harus friend", dan jelas yang terpenting dalam pergaulan adalah "menjagai interaksi antara laki-laki dan perempuan khususnya di dunia maya seperti saat ini dengan hukum syara'".
Makanya jika ada komentar laki-laki yang "tiba-tiba" nyelonong tidak ada "kepentingan" hal tersebut tidak perlu kita respon panjang begeto, dan adanya fenomena pertemanan dengan lawan jenis demikian tidak perlu dijadikan "beban", karena masih banyak yang harus kita urusi, betul? 

Marak akhir-akhir ini

Akhir-akhir ini saya sering melihat "lumayan banyak" akhwat-akhwat memasang PP-nya [Photo Profile] dengan pose menggunakan kamera DSLR yang biasanya hasil foto dari pantulan jepretan cermin, atau hasil foto dari minta tolong difotokan temannya kemudian di upload dan jadikan PP.

Ada fenomena apakah gerangan, "kok" kemudian banyak yang menggunakan PP-nya seperti itu?

Apakah mereka "benar" adalah fotografer?
Apakah mereka hanya sekedar ngikut trend saja?
Apakah agar mereka biar bisa dibilang "keren"?

Hummm...kelak Dunialah yang akan menjawabnya 

Sahabatku, hidup ini itu butuh karya nyata.

Bukan minta untuk dipuji, bukan pula agar ntuk disambangi. Namun karena dorongan konsekuensi keimanan hakiki, maka memotretlah untuk mendapatkan ridho Illahi. Insyallah demikian

>> Salam Melukis Cahaya Khilafah 

Hidup ada Usaha

~~~IMOTIVAKSI [ISLAM+MOTIVASI+AKSI]~~~
-----------------------------------------------------------
Hidup adalah pilihan | ‪#‎YukStruggle‬
Tak ada yang mulus dalam krikil-krikil perjalanan hidup ini | #YukStruggle
Hidup pun jika tak ada cobaan tentu tidak seru | #YukStruggle
Cobaan & ujian ada untuk melatih sekaligus menempa diri kita tuk menjadi pribadi nan tangguh | #YukStruggle
Kita hanya bisa berusaha menyenadakan langkah keberkahan | #YukStruggle
Tak ada yang lebih sulit dalam hidup ini kecuali istiqomah berjalan di jalan dakwah Islam ‪#‎Khilafah‬ | #YukStruggle

We are together, we are not alone, Allah always with us

Minggu, 14 Juli 2013

Bagikan saja...

"Pingggiiin banget rasanya bisa bikin buku"
"Pinggiiiin banget rasanya bisa membukukan tulisan"
"Mengapa pingin?"
"Agar dibilang kerenkah?"
"Agar dibilang pinterkah?"
"Aaaiiihhh...sudahlah hilangkan saja kepinginan itu jika kamu ternyata menginginkan menulis untuk berangan-angan belaka"

Tak cukupkah Allah sedang mengujimu
Sadari sedari dini
Bismillah...mari luruskan niat dalam aktivitas kita termasuk menulis
Jika anda ingin membuat buku maka membuat bukulah karena Allah saja, bukan karena lainnya
Jika anda ingin berbagi ilmu pun juga tak harus dengan membuat buku terlebih dahulu
Sebenarnya anda bisa dengan menuliskan ilmu anda dan mempostingnya di jejaringan sosial media
Atau anda pun juga bisa dengan cara mengetik di sms dan menyebarluaskannya
Insyallah itu pun sudah ada nilai pahalanya, Iya insyallah, jika itu diniatkan karena Allah dan sesuai dengan aturan-Nya Allah

Dunia tak perlu tahu akan siapa kita, kalau ternyata membuat buku untuk dipuji mata manusia
Karena cukuplah hanya Allah dan malaikat-Nya yang mengenali kita
Maka tak penting itu kita hidup menghasilkan buku atau tidak di dunia
Yang terpenting adalah kesadaran hubungan kita kepada Allah untuk senantiasa membawa tujuan hidup hakiki

Jadi tidak perlu anda membuat buku, jika ternyata niatnya saja sudah keliru
Tak perlu anda menuliskan nama, jika ternyata ada salah dalam tujuan berlaku
Tak perlu itu, mari bersama-sama saling mengingatkan tuk Istiqomah dijalan dakwah ini
Merengkuh ridho Allah dengan memanfaatkan sarana yang ada yang kita miliki

Berbagi ilmu itu tidak harus dengan membuat buku, anda bisa dengan "Bagikan saja" ilmu apa yang anda miliki dengan lisan dan tulisan. Bisa pula dengan "klik" "bagikan" pada bagian bawah komentar pada facebook atau retweet di twitter

Tulisan ini pun bukan lantas berarti membatasi "tidak boleh membuat buku", bukan itu
Jika mau berbagi ilmu silahkan bagikan saja, kalau mau membuat buku pun itu juga tidak mengapa asalkan SKB (Syarat Ketentuan Berlaku) seperti diatas berlaku, Yuph..niatkan karena Allah :)

Selamat berkarya sahabatku, mari kita ramaikan dunia ini dengan tulisan-tulisan kita, dan bisa salah satunya dengan membuat buku sebagai salah satu mata rantai dalam rangka mewujudkan kebangkitan Islam. Allahuakbar!!!

Mirisnya Dunia Fotografi


Oleh : Ukhtyan Muhibbah Firdaus

Bismillaah...

Begitu miris dan menyayat hati terasa, saat melihat begitu banyaknya grup dan komunitas fotografer menjadikan korban bidikannya adalah makhluk indah bernama perempuan.
Bagaimana tidak?
Hampir yang bisa dikatakan menarik itu adalah model-model perempuan dan disana perempuan dijadikan seperti barang yang dikomersialisasikan.

Jijik dan ini sungguh mengerikan, menjadi fotografer semestinya membuat mereka juga bisa melihat suatu fenomena dengan akal sehatnya. Akal yang Allah berikan berpotensi untuk membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.
Bukan lantaran mendapatkan income besar tanpa memang lagi segi keterikatannya dengan hukum Allah. Fatalnya hasil jepretannya justru menjadi jalan sarana penghantar kemaksiatan dan menghinakan martabat perempuan.

Bukankah Islam memiliki pengaturan dalam aspek kehidupan kita. Seorang muslim yang menjadi fotografer pun harusnya juga berfikir sebelum membidik, bukan malah lantas turut andil dalam eksploitasi perempuan.

Kusadari, memang saat ini Barat sudah terlalu kuat merasuk kedalam aliran darah umat muslim hingga kaum muslimsendiri menyetandarkan baik-buruk, menarik atau tidaknya sesuai cara pandang Barat. Barat memang menarik itu dari segi fisik perempuan, yang dia membuka aurat, berpose gaya erotis, dsb, nau'dzubillah

Sehingga jangan salah, jika moral negeri ini merosot karena peran dan andilnya fotografer dalam menyajikan gambar-gambar tak senonoh demikian. Maka Fotografer wajib ngaji Islam, agar tak berorientasi mencari materi belaka, harusnya selalu ada idrak sillah billah (kesadaran hubungannya dengan Allah) dalam menjalani aktivitasnya termasuk dalam hal potret memotret.


 Salam Melukis Cahaya Khilafah

"Allahuakbar!" \(^_^)

Dibalik status "Allahuakbar!" \(^_^)

Bismillaah…

Sunyi senyap menghalau hari...
Sepoi angin meniup puing-puing dinding tipisnya kulit berpori...
Menyejukkan nafas serasa berbisik lirih terbukti...
Nyata bertasbih akan karunia Allah telah berikan untuk hari ini...

Pernahkah kita menginginkan sesuatu 
yang kemudian kita bisa menggapai sesuatu yang hendak kita miliki tersebut? Jawabannya tentulah pasti pernah. Fenomena yang mungkin dulu pernah teralami saat kita berusia belia saat waktu masih kecil. Dikala kita menginginkan punya tas baru, pingin sepatu sekolah baru atau tempat pensil dan buku-buku yang baru. Semuanya Allah berikan kepada kita. Keinginan semua tadi berangkat dari rasa pingin, rasa keinginan kita dan endingnya "amazing" kita bisa memiliki dan menggunakannya. Masya Allah…

Fenomena senada juga banyak dialami kebanyakan orang, maka tak jarang saat ini pun ketika kita hendak menginginkan sesuatu cukuplah berbekal rasa keoptimisan. Ya, “Pasti bisa!”, walhasil keoptimisan yang terus menghunjam benar-benar bisa menghantarkan diri kita mampu untuk menggapainya.

Peristiwa di atas sebenarnya juga aku alami, saat diri ini 'pingin sekali' memiliki kamera DSLR. Mungkin orang di sekitar atau yang kenal aku sudah merasa bosan atau bahkan muak mendengar celotahan lisan ini yang mengungkapkan kata berulang "DSLR-DSLR dan DSLR". Ketika bertemu dengan teman, menjabat tangannya dan adakalanya meminta kepada mereka untuk mengaamiinkan agar aku bisa memiliki DSLR. Di saat menulis juga demikian, hal yang di tulis adalah membicara DSLR dan meminta pula untuk didoakan, hingga yang membaca pun secara tidak langsung turut mendoakan keinginan kita.

Lisan dan tulisan, dua cara yang kuat untuk mengikatkan sebuah keoptimisan. 
Di saat orang menyeletuk, 

“Mana bisa sih kamu memiliki DSLR? kerja aja juga belum, gimana bisa dapat uang buat beli DSLR?”

Dan mungkin di saat ada orang yang membatin ,


“Aiih..apa mungkin dia punya DSLR, kalau kerjaannya cuma ngomong ngoceh "DSLR-DSLR" mulu?”

Dan disaat orang-orang bilang,


"Sudahlah gak usah terlalu tinggi-tinggi punya keinginan! dapat itu tuh susah, susah, dan bla..bla..lalala..."

Jujur saja, di saat waktu aku pernah berceloteh pingin DSLR uang seratus ribu saja aku tak punya. Bahkan jika di minta "Plisss sisihkan saja uangmu lima ribu perhari" menyisihkan uang untuk menabung lima ribu saja dalam sehari aku belum bisa. Uang saku sehari hanya cukup untuk membeli bensin dan membeli makan siang saja. 
Terbayang bukan memang bukan perkara yang mudah untuk mengumpulkan uang seratus ribu karena bagiku itu hal yang sulit, apalagi sampai bisa mengumpulkan uang lebih dari satu juta mengingat harga DSLR yang lebih dari 2-3 jutaan. Bagi segelintir orang melihat kondisi kantong yang seperti ini, jelas bisa jadi akan menciutkan keinginannya, apalagi pingin memiliki DSLR. Tapi, bagiku kunci rasa 'pingin; itu ada pada “KEIMANAN”. Cukuplah kita tawakal menggantungkan setiap urusan kepada Allah bahwa “rizki itu tak akan kemana”, percayalah!

Menginginkan dan bisa memiliki DSLR memang bukan sebuah janji, namun melalui ketawakalan akan janji Allah tentang rizki yang sudah Allah jamin, tidak ada salahnya jika diri ini menginginkan DSLR, terlebih misi memiliki DSLR adalah 'photografy for Da'wah'.

Hal yang mungkin di kata orang 'punya DSLR itu mustahil', sejatinya itu adalah perkara yang dekat dengan kita ketika kita mau bertawakal kepada Allah dan selalu optimis untuk bisa memilikinya.

Waktu begitu cepat bergulirnya, hingga tiada yang menyangka, dan rizki Allah pun datang secara tiba-tiba.

Kala itu malam sabtu, adikku yang berada di seberang pulau sana memberikan kabar dengan inti redaksinya begini,

“Mbak jadi pingin beli kamera?” 

Ku sambut seruannya dengan mengiyakannya bergaya ala 'orang dingin' menahan kehebohan namun dalam hati sesungguhnya sampai sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tak lama kemudian dia pun membalas via sms,

“Besuk uangnya ku transfer Mbak”.

"Deggg!" jatung ini rasanya semakin kuat memompa aliran darah..Masya Allah mimpi apa semalam, ini benar-benar Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu, dan sungguh tiada menyangka secepat itu pula Allah tandakan kepadaku untuk memiliki DSLR, dan benar "rizki itu tak akan kemana".

Karena aku tak memiliki ATM, dia pun menyarankanku untuk meminjam ATM milik Bunda. Waktu kian cepat berlalu, hari yang dijanjikan untuk menransfer pun tiba saat malam minggu. Malam minggu ini aku ada agenda Mabit (Malam Bina Takwa), maka aku pun izin kepada Bapak dan Ibunda untuk bermalam di rumah binaan (Rumbin). "Alhamdulillah, mereka mengizinkanku semoga Allah membalas kebaikan mereka berdua dengan sebaik-baik balasan. Aamiin. Tiada terlupa aku pun meminta izin meminjam ATM milik Bunda.

Sabtu pagi ini, aku menargetkan nanti malam bada' magrib aku berazzam akan membeli DSLR. Maka sabtu pagi itu juga aku direkomendasikan adik untuk terlebih dulu survei-survei ke beberapa toko tempat penjual kamera. Ternyata antara toko satu dengan toko yang lainnya yang saling berdekatan sudah memiliki harga yang berbeda. Ada lima tempat yang berhasil ku sasar pagi itu. Menanyakan akan tipe-tipe, kualitas dan budget harga tentunya. Usai memutari kota Jogja, saatnya berangkat mengikuti agenda Mabit.

Siang berlalu, sore berlalu, aku pun ingat Adik sore ini menjanjikan akan menransfer uang. Ku sms dia, 


“Dik jadi ditransfer kah?”, mungkin hati ini sudah tiada sabar. Tak lama kemudian akhirnya dia membalas smsku,

“Belum Mbak, ATM di sini lagi pada eror” balasnya.

“Oh yaudah Dik” balasku, ini sedang menguji kesabaran.

Aku membatin, mungkin harus nunggu beberapa jam lagi. Aku pun berusaha sabat akan mencoba menghubungi dia nanti, mungkin saja Adik bisa nransfernya nanti malam.


Malam telah tiba, artinya target berazzam membeli DSLR bada' magrib terlewatkan sudah. Adanya tetap sabar dan terus jalin ketawakalan kepada Allah, rasa bergantung itu hanya kepada Allah, Allah Yang Maha Berkuasa.


Malam hari mulai lagi ku sapa si Adik, 


“Dik, sudah jadi ditransfer”. Jawabnya, 

“Di sini Ujan Mbak, ATM eror”, singkatnya.

Ya yang pada intinya dia tidak jadi mentransfer uang hari itu. 

“Oh yaudah dik, jaga kesehatan ya”. Balasku dengan perasaan yang harus mencoba tetap bersabar.

Malam pun tiba, sesi acara Mabit adalah CDC (Cerita dengan Cinta), ini seru acaranya. 


Malam semakin larut, kami pun menarik selimut tidur, dan bersiap menyambut hari esok.

Mentari pun hadir seperti mengintip malu-malu di ufuk Timur sana, kehadirannya 
menghangatkan buminya Allah.

Pagi hari sejatinya selalu kabar gembira karena Allah selalu memberikan bukti akan “Rizki itu tak akan kemana”.

Ahad pagi tersebut Adikku berkabar,

“Sudah ku transfer Mbak”.

Pekikan takbir...."Takbir! Allahuakbar!"

"Benarkah???"


"Adik seriuskah???"

Maha besar Allah yang menjamin rizki bagi setiap hamba-hamba-Nya. Ucapan takbir itulah yang bisa mewakili semua ini.

Sekitar pukul 08.00 aku mengawali menyusuri toko kamera yang kemarin sempat ku survei. Bisa bertepok jidat ternyata pagi ini tak ada satu pun toko kamera yang buka. Aku pun berfikir, “Oh iya, ini kan hari minggu”. Aku pun membalikkan arah motor dan kembali menuju rumbin tempat mabit kami semalam. Segeralah berkemas seraya mengambil leptop karena hari ini ada acara Aksi Tarhib (menyambut) Ramadhan. Alhamdulillah nikmat dan senang rasanya bisa bertemu dengan sahabat muslimah lainnya bisa bersama-sama menyambut Ramadhan dengan riang gembira.


Usai acara aksi, aku berjalan melaju kembali ke Rumbin, karena siang ini harus bertemu dengan adik angkatan yang mereka punya semangat mengkaji Islam yang Wow..Masya Allah. Semoga Adik-adik bisa istiqomah mengkaji Islam yaa. Aamiin

Sore harinya aku kembali mengendakan mendatangi toko kamera. Aku susuri lagi, ternyata toko yang kemarin sempat ku survei masih juga tutup. Beranjak ke toko kamera yang lainnya, "Alhamdulillah" sudah ada yang buka. Ku belok kanan memutar arah dan mencari ATM terdekat. Mencari ATM pun ternyata butuh mengenali medan juga, akhirnya muter-muter jalan jogja untuk mencari ATM, akhirnya ketemu juga dengan ATM yang dimaksud. Masuk ke ruang ATM, mengeluarkan card, memasukan card dan memencet empat digit password. Singkat cerita, endingnya aku hanya tidak bisa mengambil semua uang yang ditransferkan karena ATM hanya bisa maksimal empat kali pengambilan.

Ya sudah, langsung saja cabut menuju toko kamera. Di sapalah di sana dengan ramah oleh mas-mas penjaga toko. Mas penjaga tokonya mengeluarkan Kamera DSLR D5100, mulai dibukakan di dalam lemari kaca dan D5100 dikeluarkan. Dibukalah plastik pelindungnya, mulai dipasang baterai dan memory cardnya. “Silahkan kalau mau Mbak coba dulu”, kata penjaga toko itu.

“Oh iya boleh”. Rasanya 'Alhamdulilah' DSLR berhasil terpegang di kedua tangan ini.

Satu kata yang bisa mewakili terwujudnya celotehan akan keoptimisan memiliki DSLR hanya dengan takbir, “Allahuakbar! Allah Maha Besar, rizki itu tiada yang menduga. Melalui wasilah (sarana) Adiklah rizki itu sebagai perantaranya. Yang jelas Rizki itu memang sudah Allah tetapkan kepada setiap makhluk ciptaan-Nya.

Mendapatkan amanah DSLR ini adalah pinjaman dari AllahTa'ala, tiada yang perlu dibanggakan cukuplah Allah yang kita puji. Bisa memiliki DSLR pertanda kita bisa menjagai amanah tersebut. Semoga amanah memiliki DSLR ini bisa dijalankan dengan sebaik-baiknya. Aamiin, Bismillaah…

Alhamdulillah, Subhanallah, Allahuakbar, terlantun shalawat kepada Rasulullah saw. Teruntai syukron wa jazakumullahu khairan katsiron kepada Ibun, Bapak, my lovely brother, kepada sahabat-sahabat yang pernah meng”aamiin”kan doa saya. Betul Allah kini telah mengabulkan doa-doa sahabat-sahabat semuanya.


Kepada Mbak Tika, Mbak Ani, Mbak Ryang, Mbak Mitri, Mbak Puspita, Mbak Erie, Mbak Ulin, Dik Nila, Kak Novita M Noer, Kak Erlida, Dik Rizka, Mbak Ririn, Dik hani, Dik Ina, Ukhti Niken, Ukhti Mut, dik Dini, Kak Jum, Dik Umi Rahayu, Dik Imas, Dik Mila, Dik Rahma, Dik Kania, dik Ayhu Asri, Ukhti Lastri, Dik Rike, Mbak Lida, Dik Ulfa, Ummi Nurlela, Bu Unce, Kak Andrealica N, Khola Eres, Kak Rindy, Dik Annisa, Kak Artika, Kak Citra, Kak Meyra, Dik Gadis, Member Grup Pelukis Cahaya Khilafah, Grup Komunitas Belajar Nulis yang mendoakan dan banyak lagi yang satu persatu tidak bisa saya sebutkan saking banyaknya yang mendoakan, Alhamdulilah tsumma Alhamdulillah. Tanpa kekuatan doa dari semuanya, mungkin bisa jadi DSLR ini belum menjadi amanah pribadi saya.

Yang sudah menyempatkan membaca, semoga menginspirasi dan ikut berpekik takbir.
Allahuakbar! \(^__^)


Mari gabung juga ke page Komunitas Muslimah Fotografi Indonesia :)

Tegur aku...

Bismillaah...

Tegur aku bila salah
Sapa aku bila tak lagi enyah
Seperti matahari yang menyembunyikan cerah
Mengungkapkan tabir akan sebuah cercah

Dulu mungkin kita tak saling tahu
Namun kini kau terasa seperti satu keluarga
Ku merasakan ada ikatan aqidah menggebu
Dan ini, persahabatan yang tak akan hilang ditelan masa

Jika ku telah tiada maka doakan aku
Jika kau lebih duluan tiada ku memohon doa pada-Nya.
Izinkanku menyayangimu dari dalam kalbuku
Izinkanku mencintai mu karena Allah swt

Untukmu wahai saudariku seaqidah yang di sebarang sana....

‪#‎Salam‬ Melukis Cahaya ‪#‎Khilafah‬ 


https://www.facebook.com/photo.php?fbid=154336111422928&set=a.154335364756336.1073741830.128677780655428&type=1&relevant_count=1

Istiqomah

Bismillaah...

Warnanya indah, daunnya menyegarkan
Sungguh..ciptaan Allah tiada yang bisa mengalahkan

Berjalannya hari terkadang membuat hati gusar
Memandang jala rindu yang berbuah akan kenikmatan
Janganlah menuntut kepada manusia yang bisa memudar
Cukuplah harap kepada Illahi yang takkan berujung pada kekecewaan

Manusia hanya bisa berusaha
Manusia hanya bisa memilih
Tetaplah semangat menatap kedepan akan suatu masa
Teteplah terus Istiqomah dijalan dakwah

‪#‎Salam‬ Melukis Cahaya ‪#‎Khilafah‬ 

Sabar, Nrimo & Ikhlas

Bismillaah...

Adakah yang bisa membaca gambar diatas?

Tepat sekali, disana terdapat tulisan "Sabar. Nrimo & Ikhlas".
Sebuah rangkaian kata yang memiliki makna dalam
Ada iba, ada rasa kasian
Namun, inilaf fakta akan salah satu fenomena yang terjadi di dalam negeri
Negeri yang elok akan sumber daya alamnya
Negeri yang kaya akan kekayaan atas dan dalam buminya

Ada warga yang berprofesi sebagai pemulung barang bekas
Pagi-pagi sudah mencari barang bekas untuk di jual
Ada segi lain yang bisa kita pelajari dari seorang pemulung
Ia rajin bekerja, tanpa rasa malu untuk memenuhi nafkah keluarganya

Semangat sabar, nrimo dan ikhlas selalu berusaha melekat pada aktivitasnya
Ku bisa pastikan jika negara ini mampu mengelola Sumber daya alam dengan baik
Pasti tak akan ada pekerjaan yang seperti itu.


https://www.facebook.com/photo.php?fbid=154332948089911&set=a.154332748089931.1073741829.128677780655428&type=1&relevant_count=1

Menulis...

Usia tidak dapat dijadikan dalih untuk tidak menulis, karena pada faktanya masih banyak orang yang lebih tua daripada kita namun bisa kreatif menulis.

Intelegensi juga tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak menulis, karena banyak orang yang intelegensinya di bawah rata-rata namun mereka juga bisa menghasilkan karya tulis.

‪#‎Salam‬ Melukis Cahaya Khilafah 

Antara DSLR dan JANJI

Dari hal yang tidak dijanjikan memiliki DSLR saja bisa terpenuhi, apalagi jelas bisyarah Rasulullah yang sudah Allah janjikan. Benar, sesungguhnya janji Allah sangat dekat jarak pemenuhannya bagi orang-orang yang yakin.

Panji Rasul

Bismillaah...

Panji ini adalah panji yang Rasulullah saw dan para sahabat gunakan untuk membela Islam
Panji ini bukanlah milik satu kelompok, namun panji ini milik semua umat muslim

Bagaimana kita bisa melayakkan diri menjadi sebagai sebaik-baik hamba?
Cukup dengan menjadikan panji ini sebagai panji penaung perjuangan hidup kita

Mungkin kita pun mengenal akan kisah para sahabat yang berjuang memegang panji Rasulullah
Hingga mereka pun mengorbankan nyawanya untuk mati syahid membela Islam Kaffah

Semoga kita pun bisa demikian. Aamiin

>> Salam Melukis Cahaya Khilafah 



https://www.facebook.com/photo.php?fbid=153207811535758&set=a.145769205612952.1073741828.128677780655428&type=1&relevant_count=1

Solusi Masalah

Ujian kepada hamba-Nya tentu tidaklah statis sepadan
Selalu saja ada terjal dan tingginya akan suatu ujian

Namun dengan berpegang teguh dengan pedoman Qur'an
Niscaya ujian yang Allah berikan dimudahkan untuk dilewatkan

Mengenal Dunia Fotografi

INSPIRASI MUSLIMAH FOTOGRAFER
-------------------------------------------------
Mari Mengenal Dunia Fotografi

Sering sekali kita secara singkat mengetahui akan makna Fotografer. Ya, tepat sekali yaitu orang yang memotret dengan alat kamera. Namun, perlu kita ketahui bahwa fotografer ternyata bukanlah sembarangan orang yang sekedar bisa memotret semata, namun harus memiliki teknik agar dapat menghasilkan gambar yang bagus. Dalam situs id.wikipedia.org didefinisikan fotografer atau juru foto (bahasa Inggris: photographer) adalah orang-orang yang membuat gambar dengan cara menangkap cahaya dari subyek gambar dengan kamera maupun peralatan fotografi lainnya, dan umumnya memikirkan seni dan teknik untuk menghasilkan foto yang lebih bagus serta berusaha mengembangkan ilmunya.

Maka menjadi fotografer itu, minimal sedang belajar tentang bagaimana memfungsikan fitur-fitur yang ada dalam kamera, atau settingan dalam menangkap gambar dan teknik memotret. Semakin banyak kita belajar maka semakin banyak ilmu yang dapat kita tuai.

Tahukan anda, darimana asal kata Fotografi?
Fotografi (dari bahasa Inggris: photography, yang berasal dari kata Yunani yaitu "photos" : Cahaya dan "Grafo" : Melukis/menulis.) adalah proses melukis/menulis dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.

Prinsip fotografi adalah memokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampu membakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitas cahaya yang tepat akan menghailkan bayangan identik dengan cahaya yang memasuki medium pembiasan (selanjutnya disebut lensa).

Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakan bantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat, seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan mengubah kombinasi ISO/ASA (ISO Speed), diafragma (Aperture), dan kecepatan rana (speed). Kombinasi antara ISO, Diafragma & Speed disebut sebagai pajanan (exposure). Sumber : id.wikipedia.org

Saya jadi merasa menemukan puzzle yang hilang, saat mencoba mengaitkan disetiap ending keterangan gambar foto/inspirasi berbagi ilmu foto/kepenulisan dengan kalimat "Salam Melukis Cahaya Khilafah "

Salam yang memberikan makna tersirat bahwa hasil foto yang ditangkap menjadi perekam fenomena antara rantai satu dengan rantai satu lainnya yang sedang berjalan mewujudkan kembali Khilafah Islamiyyah. Insyallah demikian.

Bismillaah..mari memotret untuk berdakwah

>> Salam Melukis Cahaya Khilafah