Senin, 31 Oktober 2011

MEWASPADAI IMPERIALISME MELALUI COMPREHENSIVE PARTNERSHIP PENDIDIKAN TINGGI AS-INDONESIA DAN SIKAP INTELEKTUAL *



PENDAHULUAN
Pada Tgl 31 Oktober 2011 Amerika Serikat mengundang seluruh Rektor Perguruan Tinggi di Indonesia ke Washington . Agenda US-Indonesia Higher Education Summit di Washington ini sudah dirancang jauh-jauh hari. Obama mengucurkan dana sebanyak 165 juta dollar AS utk menguatkan ikatan kerjasama akademis antar dua negara sebagai bentuk komitmen dari kemitraan komprehensif yang telah dideklarasikan. Seluruh rektor PTN dipastikan hadir, kecuali rektor UNAIR yang punya sikap berbeda. Sebelumnya AS telah mengundang 7 Rektor dari Universitas yang berstatus PT-BHMN ke Washington selama 2 minggu. Presiden Obama berjanji mengalokasikan dana untuk memperdalam pertukaran mahasiswa dan fakultas, mengembangkan hubungan antara universitas, dan memperkuat pendidikan tinggi Indonesia. Administrasi AS berkoordinasi dengan berbagai entitas, termasuk USAID, National Science Foundation, EducationUSA, Fulbright, dan Community College Departemen Luar Negeri Program Inisiatif untuk memperluas pertukaran, penelitian, dan kesempatan pelatihan bagi mahasiswa dan anggota Fakultas Indonesia Amerika . Amerika Serikat akan menghabiskan $ 165-juta selama lima tahun berikutnya pada program-program untuk membantu memperkuat pendidikan tinggi di Indonesia melalui pertukaran pendidikan dan kemitraan universitas. Presiden Obama dan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan hal ini di sebuah pertemuan di KTT G-20 di Toronto1.
Kemitraan komprehensif (comprehensive partnership) antara AS dan Indonesia yang digagas sejak 2009 masih terus bergulir sampai sekarang, meski gaungnya di media tidak terlalu nyaring. Bagi kalangan intelektual, hal ini harus dicermati dengan baik karena setiap hubungan antar negara pasti berhubungan dengan politik luar negeri negara tersebut dan tentunya tidak bisa dilepaskan dari kepentingan negara tersebut. Apalagi kita tahu bahwa Amerika Serikat adalah negara adidaya yang berbasis ideologi Kapitalisme. Karena itu ,perlu untuk mencermati kembali Agenda terselubung dibalik CP Bidang Pendidikan AS- Indonesia , mewaspadai kebijakan-kebijakan Pendidikan Tinggi yang akan muncul nanti sebagai Follow up US-Indonesia Higher Education Summit di Washington sehingga seorang intelektual muslim mampu memunculkan sikap yang seharusnya lahir dari ideologinya.
[1] KTT AS-Indonesia-Pendidikan Tinggi 31 Oktober Apakah Direncanakan . dari situs the chronicle of higher education di washington \http://chronicle.com/article/USIndonesia-to-Expand/66072/
http://chronicle.com/blogs/ticker/u-s-indonesia-higher-education-summit-is-planned-for-october-31/3483
I. MEMBACA KEPENTINGAN AS TERHADAP INDONESIA
Tidak sulit dibantah bahwa sebagian besar materi kerjasama komprehensif kedua negara sesungguhnya mengacu pada kepentingan nasional Amerika Serikat. Kalau kurang yakin, silakan periksa Strategi Keamanan Nasional Amerika Serikat 2010 yang
resmi diluncurkan oleh pemerintahan Obama pada bulan Mei 2010 lalu. Dokumen itu menyebutkan bahwa beban dunia tidak lagi bisa dipikul oleh Amerika Serikat sendirian, apalagi Amerika Serikat juga sedang mengalami keterpurukan ekonomi, maka sangat diperlukan adanya kerjasama dunia terutama dengan negara-negara kuat dan berpengaruh.
Amerika Serikat dengan jelas menyebutkan bahwa kerjasama antar negara harus berakar pada nilai-nilai yang sama (shared values) dan juga kepentingan yang sama (shared interests). Amerika Serikat jelas punya kepentingan besar untuk menyebarkan nilai-nilai yang mereka yakini ke seluruh dunia yakni Demokrasi dan HAM, yang dinilai sebagai aset terbaik Amerika, karena nilai-nilai itu bukan saja menguatkan negaranya, namun juga membuat Amerika tetap aman.
Karena itulah dalam konteks Indonesia, AS sangat berhasrat menjalin hubungan yang “komprehensif”, hubungan yang satu paket dari tataran nilai hingga tataran praktis. Menurut AS, Indonesia adalah mitra penting di kawasan bagi isu kawasan dan lintas negara, seperti perubahan iklim, counterterrorism, keamanan maritim, pemeliharaan perdamaian dan disaster relief.

II. PENDIDIKAN TINGGI : FONDASI PENJAJAHAN KOMPREHENSIF
Di negara-negara kapitalis besar, seperti AS, Kanada, Inggris, atau Australia, pendidikan selain menjadi epistemic community yang menyangga peradaban mereka secara fundamental; pendidikan tinggi juga merupakan lahan industri strategis yang menjadi bagian dari dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi negara bersangkutan. Di negara-negara itu, industri pendidikan tinggi tumbuh pesat seperti industri jasa dan perdagangan yang lain.
Sebagai langkah awal adalah kunjungan pimpinan beberapa universitas di AS ke Indonesia untuk mengadakan pertemuan dengan para pejabat terkait di Departemen Pendidikan Nasional, dan melakukan site visit ke beberapa kampus perguruan tinggi di Indonesia yang berpotensi dan memiliki komitmen untuk berkolaborasi dengan universitas-universitas di AS. Kunjungan ini diharapkan dapat mendefinisikan bidang-bidang kerjasama secara lebih spesifik serta mengatur strategi dan langkah-langkah yang diperlukan. Kunjungan berlangsung dari tanggal 26 Juli hingga 1 Agustus 2009, dan delegasi yang melakukan kunjungan ke Indonesia ini berjumlah 31 orang, terdiri dari 26 orang pimpinan dari 25 universitas, Deputy Assistant Secretary of States, DoS, Presiden USINDO, Presiden dan Direktur East West Center. Hasil kunjungan ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada Presiden Obama tentang kerjasama RI-AS di bidang pendidikan sebelum melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada tahun ini. 2

III. STRUKTUR IMPERIALISME YANG PARALEL
Praktek imperialisme merupakan praktek yang sesungguhnya belum hilang dari muka bumi. Masih banyak fakta yang menunjukkan bahwa praktek tersebut masih ada dan cenderung menguat. Hanya saja, praktek imperialisme pada masa kini lebih menyentuh pada sisi “dalam” sebuah negara, kebudayaan, atau peradaban. Salah satu praktek imperialisme yang sangat relevan dengan dunia intelektual disebut sebagai imperialisme akademis (academic imperialism) atau intelektual. Istilah ini dikeluarkan oleh Syed Hussein Alatas.3 Baginya, struktur imperialisme politik dan ekonomi menyebabkan berdirinya strukur yang parallel dalam cara berpikir golongan yang ditindas. Menurut alatas, terdapat enam ciri imperialisme politik dan ekonomi yang juga dapat digunakan untuk mencirikan imperialisme intelektual.
6 Ciri
Political-Economical Imperialism
Academic-Intellectual Imperialism
Eksploitasi
Bahan Mentah di bawa ke Eropa kemudian dijual dalam bentuk lain yang lebih mahal ke negara jajahan
Data mentah di bawa ke Eropa, keilmuan yang di bangun berdasarkan data tersebut di bawa ke negara jajahan
Pengajaran
Untuk bisa mempekerjakan bangsa terjajah, penjajah memberikan pendidikan [ politik ethic ]
Umat Islam menganggap bahwa Barat menguasai segala sesuatu, sehingga harus belajar ke mereka
Konformitas
Bangsa terjajah harus berpakaian, makan, minum ala penjajah agar bisa diterima
Sekarang ilmuwan Muslim harus mengikuti metode pemikiran/penelitian/analisis ala barat agar diterima
Peranan Sekunder
Bangsa penjajah menjadi mandor/supervisor, bangsa terjajah menjadi buruh
Peneliti Muslim diarahkan melakukan penelitian aplikasi, dan peneliti Barat yang melakukan penelitian Kreatif
Rasionalisasi Misi
Penjajah beragumentasi penjajahan untuk memajukan bangsa yang dijajah
Penjajah mendorong bangsa terjajah untuk mengembangkan obyek/model pengetahuan yang sudah di setting barat
Kecakapan Inferior
Penjajah yang datang kedaerah jajahan adalah pecundang di Eropa, tapi di muliakan oleh bangsa terjajah
Ilmuwan Barat yang tidak laku di Barat mendapatkan pekerjaan di negara terjajah dengan mulia
3 Syed Hussein Alatas, Intellectual Imperialism: Definition, Traits, and Problems, Southeast Asian Journal of Social Science, 2000
Hubungan paralel seperti ini sangat jarang bisa dipahami oleh kalangan intelektual saat ini, karena kebanyakan intelektual atau akademisi di negeri ini hanya menganggap peran mereka sebatas ikatan profesi semata tanpa basis ideologi. Kiprah mereka akhirnya sebatas mengejar target profesionalisme tanpa arah sistem yang jelas. Bahkan kemitraan komprehensif dengan AS ini justru sangat menyilaukan bagi kebanyakan kalangan intelektual di negeri ini.
Kondisi ini sungguh ironis, karena justru profesionalisme tanpa ideologi inilah yang bisa dengan mudah ditunggangi oleh kepentingan ideologi lain yang merusak. Akhirnya sebagian besar kiprah kaum intelektual muslimah Indonesia terarahkan hanya untuk melaksanakan program dan proyek asing yang notabene kontraproduktif bahkan destruktif bagi bangsanya sendiri.
Padahal keenam ciri berikut ini demikian logis dan masuk akal, pada prakteknya sudah banyak akademisi-akademisi negeri ini yang menjadi korban.
1. Eksploitasi. Seperti halnya eksploitasi ekonomi, dimana bahan mentah diserap dari daerah jajahan, diproses di Barat dan kemudian dijual kembali sebagai barang siap pakai dengan harga yang sangat tinggi kepada negara jajahan, eksploitasi intelektual juga terjadi. Banyak ilmuwan dari Barat datang ke negara berkembang guna mengumpulkan data. Sekembalnya mereka ke Barat, data ini diproses sehingga menghasilkan pemikiran yang kemudian dijual dan disuguhkan kembali kepada negara-negara berkembang. Terkadang ilmuwan-ilmuwan Barat tidak menuliskan sumber-sumbernya.
2. Pengajaran. Dahulu, pada saat ingin mempekerjakan bangsa yang dijajah, kaum penjajah memberikan mereka pendidikan. Bagitu juga dalam konteks akademis, mentalitas yang mengatakan jka ingin meraih pendidikan bagus, pergilah ke universitas di Amerika, juga masih sangat nyata. Contoh lain adalah dahulu bangsa Eropa beranggapan bahwa jika mereka memberikan kemerdekaan pada bangsa jajahan, maka mereka tidak akan mengerti cara menjalankan negara. Oleh karena itu mereka harus diajarkan caranya oleh bangsa Eropa melalui proses kolonialisasi.
3. Konformitas. Konformitas adalah normalitas atau hal-hal yang sudah semestinya. Dahulu untuk dapat diterima, kaum terjajah harus berpakaian, makan, dan berbicara seperti orang Eropa. Hari ini, dalam bidang teori dan metodologi, para sarjana muslim diminta untuk menggunakan metode analisa yang sesuai dengan keinginan mereka di Barat. Sehingga jika kita menggunakan metode yang berbeda, pemikiran kita akan sulit untuk diterima.
4. Peranan sekunder yang diberikan pada bangsa terjajah. Dahulu bangsa Eropa mendudukui posisi penting , baik dalam pemerintahan, perkebunan, maupun instansi-instansi lain. Golongan pribumi hanya diberikan pekerjaan pembantu, buruh kasar dan petani. Sekarang para ilmuwan muslim dan ilmuwan dari negara berkembang hanya melakukan penelitian yang teraplikasi, bukan pemikiran kreatif. Bagi para ilmuwan di Barat, ilmuwan dari negara berkembang tidak perlu ikut serta dalam pemikiran kreatif karena hal tersebut sangat mahal. Untuk itu, lebih baik mereka memfokuskan diri pada penelitian yang dapat diaplikasikan.
5. Rasionalisasi misi peradaban. Dahulu, kaum kolonial mencoba merasionalisasi penjajahan dengan mengutarakan maksud untuk memajukan dan memperkenallkan peradaban kepada mereka yang tidak beradab. Saat ini, di negara berkembang terdapat perdebatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan yang telah ditentukan. Dari sinilah bangsa eropa memonopoli dan mendominasi ilmu pengetahuan.
6. Kecakapan inferior. Dahulu bangsa Eropa datang ke daerah jajahan adalah mereka yang mempunyai kecapakan inferior dbanding mereka yang tinggal di Eropa. Hanya orang-orang yang tidak mendapatkan pekerjaan di Eropalah yang datang ke daerah jajahan untuk bekerja. Saat ini, begitu banyak ilmuwan asing yang bekerja di negara berkembang. Namun dapat kita lihat bahwa sebagian besar dari mereka adalah ilmuwan yang tidak dapat mendapatkan pekerjaan di negara asal mereka. Namun bagi kita yang tinggal di negara berkembang, keberadaan mereka adalah suatu berkah.

IV. SIKAP INTELEKTUAL MUSLIM
Intelektual muslim adalah kelompok manusia tertentu yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT. Islam meletakkan para intelektual dalam posisi terhormat sebagai pendidik umat dan sekaligus pelindung mereka dari berbagai kepentingan yang hendak menghancurkan umat. Dengan pengetahuan mereka yang mendalam akan berbagai fakta yang terjadi, intelektual adalah pihak yang seharusnya paling peka terhadap perkembangan kondisi umat. Umat membutuhkan intelektual sejati yang memahami ideologi Islam dan menanamkannya ke tengah-tengah umat. Umat membutuhkan intelektual yang berani berkorban, berani mengungkapkan kebenaran. Allah menyebut mereka yang menggunakan kecerdasan dan kapabilitas intelektualnya untuk mengambil pelajaran sebagai ulul albab.
“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendakinya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali ulul albab.” (QS: Al Baqoroh :269)
Maka tentu terhadap kerjasama kemitraan komprehensif dengan AS ini, intelektual Muslim punya sikap yang jelas dan lugas. Bahwa intelektual Muslim harus menolak segala bentuk penindasan terhadap umat dan setiap kerjasama yang menodai harga diri umat dan negaranya.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya”.(QS. Ali Imran [3]: 118)
Menjalin kemitraan dengan AS tidaklah akan menjadikan umat Islam mulia, maju dan berwibawa. Resep-resep ramuan kapitalisme seperti demokratisasi, HAM, liberalism, dialog peradaban, kerjasama militer dan lain sebagainya yang ditawarkan AS hanya akan menjadikan penyakit yang telah menjangkiti negeri ini yakni berbagai goncangan politik dan ekonomi serta moral semakin parah dan akut sebagaimana negeri Islam lainnya yang berujung keporakporandaan dan kebinasaan.
AS dan Kapitalisme bukanlah sumber kemuliaan dan kemajuan. Karena kemuliaan hanyalah milik Allah, Rasul-Nya dan kaum Muslim. Siapa saja yang mengharapkan kemuliaan pada AS dan \ideologinya, jelas keliru. Allah berfirman:
“Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shaleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka adzab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur”. (QS. Fathir[35]:10)
Wallahu A’lam bishshowab
Oleh : Kak Annisa Mahasiswi Pascasarjana UNY
* diambil dari makalah Zidny Saadah : Aroma Kuat Imperialisme dalam Compherenshive Partnership AS- Indonesia (Tinjauan Kritis Bidang Pendidikan)

Minggu, 30 Oktober 2011

“Aku ingin menjadi pemikir ideologis!”



Sebuah cerita antara adik dan kakak, dalam suatu percakapan, sebut saja adek perempuannya bernama Farah dan Kakaknya bernama Fauzan.
“Aku ingin bisa menjadi pemikir ideologis!”
Sebuah statement dari si adik, Farah, seorang mahasiswi yang baru saja memasuki dunia perkuliahan ia diterima disalah satu universitas swasta ilmu komputer di Yogyakarta. Farah memiliki berkarakter energik pantang menyerah, punya semangat tinggi dalam menuntut khasanah ilmu keIslaman. Namun disela-sela semangatnya ia menemui berbagai kendala untuk mewujudkan dirinya sebagai pemikir ideologis.
“aku ingin jadi pemikir ideologis kak, maksudku, aku ingin dibina islam yang lengkap-kap-kap kak, yang tak hanya membahas islam sebatas ranah ritual saja, tapi islam yang ideologis.” Sapa adeknya yang mendatangi kakaknya seusai pulang kerja.
Dengan muka tersenyum Fauzan memberikan nasehat kepada adeknya : “dek, belajar Islam untuk mengatahui gambaran utuh pemahaman Islam yang lengkap dan luas, tidak mudah loh, tak cukup hanya bermodalkan semangat saja atau hanya dengan satu, dua kali pertemuan saja. Yang namanya pemahaman ISLAM tidak cukup juga hanya didapat dengan cara mendengarkan, tetapi harus bisa diambil sebagai pemahaman. Maksudnya, dalam mengkaji Islam harus dipahami untuk diamalkan. Sebelum beramal harus punya ilmunya, beramal harus memiliki ilmu dan ilmu harus diamalkan. Ketika Islam diambil sebagai pemahaman yaitu tau, difahami dan sampai tataran implikasi diamalkan, sehingga sangat berbeda orang yang faham dengan orang yang tidak faham, misalkan saja. Ada seorang temanmu yang berkerudung tapi dia berpacaran, meskipun ia Islam dan berkerudung bisa jadi dia belum paham terkait apa hukumnya pacaran, maka disini jadi hal yang wajib bagi kamu yang sudah faham untuk memahamkannya. Sedangkan contoh orang yang faham misalkan dek Farah nie, adek tau bahwa hukum berjilbab (berpakaian gamis) dan berkerudung bagi seorang wanita muslimah adalah wajib maka dari ilmu yang adek ketahui bahwa jilbab dan kerudung wajib sesegara mungkin adek mengamalkannya, karena kedudukannya adalah wajib maka adek menjalankannya. Maka adek bisa dikatakan orang yang faham apabila adek berkerudung dan berjilbab bukan karena paksaan atau disuruh tapi karena adek tau bahwa kedudukan hukumnya adalah wajib dan Allah yang memerintahkannya.”
Sambung Farah :“Iya kak, tapi ilmu Islam ku belum banyak kak, aku ingin sekali bisa belajar Islam, tapi kok aku tidak cocok ya dengan orang yang mengajari aku Islam kak, adek ikut kajian yang kakak sarankan tapi cara penyampaian kajiannya aku tidak cocok, adek jadi ingin pindah tempat kajian saja?”
Dengan tersenyum lagi Fauzan memandang Farah. “Farah untuk mengkaji Islam yang menyeluruh memang bukan perkara yang mudah dek, butuh menghargai waktu dan butuh berproses tapi ingat berproses bukan berarti diam bukan? Untuk membangun diri kita, kita bisa paham susah dek, susah bukan berarti tida bisa, pasti bisa. ketidak mudahan itu bisa saja datang dari beberapa faktor dek, yakni :
1. Faktor lingkungan sekitar yang tidak mengkondisikan diterapkannya Islam atau bahkan tidak menjagai diterapkannya Syariah. Dampak sistemik dari sistem negeri Demokrasi saat ini salah satunya adalah mendidik kita, bahkan masyarakat saat ini dididik sistem untuk bebas, bebas pula jauh dari pemahaman Islam. Maka jangan heran apabila keluar rumah banyak yang mengumbar aurat, pacaran dimana-mana, bahkan kedzaliman kemaksiatan dimana-mana ini menjadi dampaknya ketika sistem kebebasan diterapkan di negeri ini.
2. Faktor Internal, faktor ini berasal dari diri kita. Bisa saja rasa malas, rasa ketidak ingin tauan, atau misal kita sudah semangat mengaji Islam tetapi ternyata orang yang menyampaikan pemahaman Islam tidak cocok, maka hal ini jangan membuat kita lengah, maksudnya hal yang kiranya tidak cocok bisa dilakukan tabayun (krosek) apa yang membuat ketidak cocokan tersebut, agar hambatan ketidak cocokan tersebut dapat dirubah sesuai dengan apa yang kita inginkan sehingga jangan sampai justru membuat kita semakin jauh dari gambaran Islam yang utuh.
3. Faktor keluarga, tak jarang hasil didikan sistem sekuler saat ini, keluarga juga bisa menjadi korban, imbasnya dapat menjadi penghalang kita untuk memahami Islam lebih dalam bahkan menghalangi perjuangan menerapkan syariah dalam kehidupan. Misalkan saja, ada teman kakak yang dia rasa ingin taunya tinggi dalam mengkaji islam tapi sayang orangtuanya termakan isu terorisme sehingga anaknya dilarang menkaji islam, misal lainnya terkait kewajiban berjilbab bagi wanita muslimah, diera saat ini orang tua yang belum faham terkait Islam juga menjadi korban isu phobia takut kalau anaknya dikira teroris juga atau apa, wajar hingga ada anaknya hendak melaksanakan syariah islam dengan menutup aurat mengenakan jilbab (pakaian lorong/gamis) dan kerudung ditentang. Bahkan ada jilbabnya yang dibakar hingga habis sampai si waniita tadi terima berdiam diri dirumah ketimbang harus keluar rumah tanpa berjilbab.
4. Faktor lainnya masih banyak lagi dek
Farah menyahut : “kak bukannya kajian Islam itu sama saja, maksudnya mengkaji islam itu kan bisa dimana saja dan sama aja kan?” sang kakak melihatnya sambil tersenyum lagi dan berusaha sabar menjelaskannya, begini dinda soleha : “melihat realitas saat ini, memang tidak dapat dipungkiri bahwa banyak kelompok, organisasi, atau masa yang mengkaji tentang islam. Kakak mau tanya Apa adek pindah tempat kajian atas asas ketidak cocokan adek saja atau ada yang lainnya? Jika adek tolok ukur karna asas ketidak cocokan maka disini perlu direflesh ulang terkait standar tolok ukur adek dalam berbuat. Selama adek mengkaji dengan kajian yang kakak sarankan, adek sudah dapat ilmu tolok ukur dalam berbuat belum?” “Belum kak?” Sahut Farah. “Yahh,,memang harus didudukan dulu dek apa tolok ukur kita dalam berbuat. Tolok ukur dalam berbuat itu terikat dengan hukum Syara’ yaitu apakah perbuatan yang kita lakukan termasuk yang (Wajibkah, Sunnahkah, mubahkah, makruhkah, atau haramkah). Ini yang menjadi tolok ukurnya, menuntut ilmu hukumnya fardllu ‘ain maka menuntut ilmu tadi kita perbuat karna Allah memerintahkannya yang status hukumnya wajib ‘ain. Jika Farah melihat bahwa Islam sama saja. Apa Farah lebih memilih penyampainnya yang bagus tetapi ilmu Islam yang didapatkan Islam yang hanya parsial (sebagian saja), maksudnya parsial hanya perkara aturan Islam wilayah dimensi pertama saja (hubungan diri kita dengan Allah) atau Farah memiliki di kajian lainnya karna ranah kajian Islamnya hanya skup individu saja (hubungan diri kita dengan diri kita sendiri) fokus akhlak misalnya. Mengapa kakak sarankan adek kajian islam diteman yang kakak sarankan.
Islam diturunkan bukan sekedar sebagai agama yang mengatur ranah ibadah ritual semata yang berhubungan diri kita dengan Sang Pencipta, melainkan Islam adalah suatu aturan kehidupan yang mengatur segala aspek kehidupan kita. Jika kakak petakan ada 3 Dimensi dek :
- Dimensi 1 : dimensi hubungan diri kita dengan Allah berupa Aqidah dan Ibadah (ada Sholat, Zakat, Puasa, Haji, Shadaqoh, dll)
- Dimensi ke 2 : hubungan diri kita dengan diri kita sendiri berupa aturan Islam dalam ranah Akhlak (Jujur, bertangungjawab, amanah), makan, minum dan berbusana.
- Dimensi ke 3 : hubungan diri kita dengan sesama manusia dalam ranah publik meliputi bidang politik, bidang pendidikan, uqubat, muamalah (jual-beli), interaksi dengan lawan jenis, sistem pergaulan, sistem sosial dan lain-lain.
Apabila dicermati kembali, banyak organisasi atau lembaga yang memfokuskan di salah satunya, jika tidak fokus pada dimensi pertama yakni ibadah mahdah, pasti fokus didimensi yang ke dua yakni ranah akhlak, sebagai umat muslim kita tidak bisa mengambil Islam hanya sebagian saja, melainkan Islam harus diambli secara menyeluruh yakni 3 Dimensi tersebut.
Untuk mengetahui apa-apa yang Islam aturan secara menyeluruh tersebutkan dibutuhkan Ilmu dan ilmu itu hanya akan kita peroleh dengan pertemuan yang intensif, kontinue, apabila tidak intensif maka gambaran Islam yang kaffah ini pun tidak akan tergambar secara sempurna pula dek. Misalkan saya adek semangat sekali ingin berubah menjadi baik saat ini, saat ini pula semangat adek menggebu-gebu untuk belajar dan mengkaji islam, minggu ke dua selanjutnya adek meresa tidak sreg dengan kajiannya karena ketidak cocokan dalam penyampaian, misal minggu ke 3 adek hadir tapi sebatas datang bawa muka namun pikiran kemana-mana atau tidak fokus. Minggu ke 4 merasa hal itu tidak penting dan sama saja dengan kajian islam yang lain. Maka disini kakak tegaskan butuh kesabaran dek dalam thalabul ilmi apalagi dalam memahami ISLAM yang begitu besarnya, butuh kesabaran, butuh menghargai waktu yang lama, serta intensif (continue). Agar gambaran Islam yang utuh bisa didapat, sehingga adek mau dakwah menyampaikan kebaikan atau berbuat amalan pun punya bekal ilmunya.
Kakak sarankan paling tidak adek mengkaji minimal 3 bulanlah, kalau dalam 3 bulan adek tidak mendapatkan pemahaman ISLAM yang utuh, silahkan mencari majelis ilmu Islam yang lain yang lebih ideologis :)
Farah ikut tersenyum, “oke kak, adek akan semangat dan bersabar menuntut ilmu sembari mengamalkan ilmu-ilmu yang sudah adek dapatkan.”
Adzan magrib sudah berkumandang kemudian mereka masuk rumah. [PI]